Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Pendidikan

US SMPLB Tak Diikuti Siswa Tunalaras

Selasa, 18 Apr 2017 07:00

US SMPLB Tak Diikuti Siswa Tunalaras

SEMANGAT: Amritha Romadhona, salah satu siswa SMPLB penyandang tunanetra (low vision) mengerjakan soal ujian sekolah (US), di SLB PKK Gedeg Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Ujian sekolah (US) jenjang SMP digelar secara serentak mulai Senin (17/4). Pun demikian bagi sekolah khusus SMP Luar Biasa (SMPLB). Di Kabupaten Mojokerto, terdapat 18 siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) mengikuti US.

Namun, dari jumlah tersebut hanya 8 yang bisa melanjutkan mengikuti ujian nasional (unas). Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Mojokerto, Purnomo mengatakan, tahun ini terdapat 3 lembaga yang menyelenggrakan US.

Dengan jumlah keseluruhan peserta sebanyak 18 siswa kelas IX SMPLB. Masing-masing di SLBN Seduri, Kecamatan Mojosari 5 siswa, SLB PGRI Dlanggu 7 siswa, dan SLB PKK Gedeg 6 siswa.

 ”Semua siswa kelas IX ikut US, soalnya masih berbasis kertas semuanya,” ungkapnya. Sesuai jadwal, US akan digelar selama 4 hari dengan 8 mata pelajaran (mapel) yang diujikan. Menurutnya, hasil dari US nanti, akan menjadi salah satu penentu kelulusan siswa.

Selain itu pelaksanaan US tidak ada batasan bagi kekhususan yang disandang siswa ABK. Sehingga, semua kategori bisa mengikutinya. Dia merinci, US tahun ini diikuti siswa kategori A atau tunanetra sebanyak 2 siswa, sedangkan kategori B atau tunarungu 5 siswa, kategori D atau tunadaksa 1 siswa, dan kategori C tunagrahita 10 siswa.

”Untuk kategori E (tunalaras), tahun ini tidak ada pesertanya,” terangnya. Pria yang juga menjabat sebagai kepala SLB Negeri Seduri, Kecamatan Mojosari ini menambahkan, dari jumalah peserta tersebut, nantinya hanya 8 siswa saja yang bisa melanjutkan untuk mengikuti unas.

Sebab, siswa ABK yang dapat mengikuti unas adalah yang masuk dalam kategori A, B, D, dan E saja. Sedangkan, untuk kategori C maupun C1 atau celebral palsy (CP) hanya melaksanakan US saja. ”Jadi, 10 siswa kategori C tadi hanya menempuh US saja. Kalau dipaksakan ikut unas, anak-anak nanti tidak mampu,” terangnya.

Oleh sebab itu, siswa kategori C dan C1 mendapat perlakuan khusus. Karena, selain memiliki keterbatasan fisik, mereka juga memiliki keterbatasan pada cara berpikir. ”Kalau US kan soalnya dari guru-guru kita sendiri, sehingga bisa disesuaikan dengan kemampuan anak-anak,” tegasnya.

Berbeda halnya dengan unas, karena bobot dari semua soal diseragamkan dan disusun secara nasional. Dengan begitu, kelulusan pada siswa kategori C dan C1 diambil dari hasil US. Sedangkan, untuk kategori A, B, D, dan E tetap dari akumulasi dengan hasil dari nilai unas.

Meski demikian, pelaksanaan US SMPLB juga sama dengan ujian pada sekolah reguler lainnya. Hanya saja, terdapat guru pendamping khusus apabila siswa ABK mengalami kendala.

Sehingga, jika terjadi kesulitan, guru diperbolehkan untuk membantu mereka untuk sekadar membacakan soal dan pilihan jawaban. ”Tapi untuk jawaban, tetap siswa sendiri yang mengerjakan,” pungkasnya. (ram/ris)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia