Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Mojokerto

28 Tahun Dipasung dengan Balok Kayu

Selasa, 18 Apr 2017 07:00

 28 Tahun Dipasung dengan Balok Kayu

DIEVAKUASI: Kuswaji, penderita gangguan jiwa, yang dipasung di Desa Mlaten, Kec. Puri, Kab. Mojokerto, kemarin dibebaskan. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kembali ditemukan kemarin. Dengan dalih khawatir meresahkan warga, pihak keluarga memilih untuk memasungnya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Hal tersebut memperburuk kondisi kesehatan ODGJ. Petugas Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto kembali membebaskan dua ODGJ di Kecamatan Puri. Masing-masing di Dusun/Desa Mlaten dan Dusun/Sambiroto, Desa Mlaten.

Kuswaji, warga Dusun/Desa Mlaten, Kecamatan Puri ini, sudah 28 tahun dipasung keluarganya. Pria 48 tahun itu, dipasung dan ditempatkan di sebuah gubuk kecil berukuran 4 x 5 meter yang berdiri di atas lahan milik keluarga.

Di ruangan itu, dia hanya tidur beralaskan bayang bambu. Kedua kakinya dipasung di antara dua kayu yang menindih kakinya. ’’Mulai umur 20-an adik saya (Kuswaji) ada di sini. Sekarang usianya sekitar 48 tahun,’’ terang Ngatubi, 65, kakaknya.

Dia mengaku terpaksa memasung adik kandungnya itu karena tidak memiliki cukup biaya untuk mengobatkan. Terhitung, Kuswaji sudah keluar masuk rumah sakit jiwa (RSJ) sebanyak tiga kali. ’’Dia juga sering merusak rumah dan ngeluyur,’’ jelasnya.

Selain itu, dirinya juga khawatir Kuswaji akan lepas dari pantauan keluarga. Ngatubi menjelaskan, penyakit gangguan jiwa rupanya tak hanya dialami Kuswaji. Sebelumnya, lima anak dari pasangan Wagimin dan Siani tersebut tiga diantaranya mengalami penyakit yang sama.

Pertama dialami Karsi, anak kedua dan Supri, anak keempat, serta terakhir Kuswaji, anak kelimanya. ’’Karsi sudah menghilang sejak 50 tahun yang lalu sampai sekarang tidak ketemu. Sedangkan Supri sudah meninggal,’’ ulasnya.

Karena itu, pihaknya terpaksa memasung Kuswaji agar tidak seperti kakaknya, Karsi, yang menghilang. Terlebih, hanya dia satu-satunya keluarga yang tersisa. Dia tak mengetahui secara pasti apa penyebabnya.

Namun, pihaknya percaya bahwa penyakit itu merupakan keturunan. ’’Sebenarnya, hingga dewasa dia (Kuswaji) normal dan sempat bekerja. Tapi kelakuannya tiba-tiba seperti orang bingung,’’ jelasnya.

Selain Kuswaji, kemarin, dinsos juga membebaskan satu lagi ODGJ yang tak jauh dari keberadaan Kuswaji. Tepatnya di Dusun Sambiroto, Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Dia adalah Usman, 40, yang sejak setahun terakhir dirantai oleh keluarganya di salah satu kamar di rumahnya.

Dengan alasan yang sama, keluarga khawatir jika dilepas akan meresahkan warga. ’’Sakitnya sudah sembilan tahunan dan sering memecahkan kaca jendela tetangga,’’ terang Suwarno, kakaknya.

Kondisi ruangannya pun tidak layak. Atapnya bocor. Hal itu juga menyebabkan rantai yang mengikat kedua kakinya sulit dilepas. Karena sudah berkarat. Untuk melepaskan, petugas terpaksa harus menggergaji.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Mojokerto Lianto, menjelaskan, keduanya akan langsung dievakuasi ke RSJ Lawang, Kabupaten Malang, untuk dilakukan pengobatan.

Menurutnya, semua pembiayaan akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. ’’Sampai kapan dirawatnya, kita belum bisa mententukan. Tapi ketika sudah dinyatakan sembuh nanti kita kembalikan lagi ke keluarga,’’ jelasnya.

Dia menyebutkan, sedikitnya mulai awal tahun ini sudah ada 19 ODGJ yang telah berhasil dibebaskan dari pasungan. Semuanya tersebar di Kecamatan Ngoro, Trawas, Pacet, Dlanggu, Sooko, dan Puri.

’’Masih ada tiga lagi yang terlaporkan. Satu orang masih terkendala keluarga, yang dua orang masih kita lakukan assessment dulu,’’ ujar dia. Dinsos menargetkan, akan terus gencar mencari ODGJ yang dipasung sesuai dengan target pemerintah pusat tahun 2017 bebas pasung. (ram/abi)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia