Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Budaya

Ingin Tahu Proses Pembersihan Candi Brahu Trowulan? Begini Caranya

Sabtu, 15 Apr 2017 14:36

Ingin Tahu Proses Pembersihan Candi Brahu Trowulan? Begini Caranya

HATI-HATI: Para petugas jupel membersihkan Candi Brahu dari lumut dan rerumputan yang tumbuh di Desa Bejijong, Kec. Trowulan. (Rizal/Radar Mojokerto)

 

MOJOKERTO - Dibutuhkan ekstra kehati-hatian dalam membersihkan situs cagar budaya. Salah satunya Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Sebab, candi berbentuk marcusuar dan dibangun dari batu bata tersebut sudah mulai rapuh, karena usianya menginjak 10 abad lebih.

PAGI itu, sejumlah orang terlihat sibuk membersihkan Candi Brahu di Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di musim penghujan seperti saat ini, bangunan candi memang perlu perawatan lebih dibanding biasanya. Sebab, di setiap permukaan bangunan candi banyak ditumbuhi lumut dan rumput liar.

Selain bisa merusak struktur bangunan, hal tersebut juga mengurangi keindahan dari peningggalan sejarah ini. Ya, mereka adalah juru pelihara (jupel) Candi Brahu. Sedikitnya terdapat 7 orang yang terlihat begitu hati-hati dalam membersihkan setiap celah dan permukaan batu bata. Bahkan, proses pembersihannya mempertahankan cara tradisional.

Membersihkan rumput misalnya, mereka hanya mencabutnya dengan tangan kosong. Kemudian, rumput yang lembut, dibersihkan menggunakan sapu lidi. Sedangkan untuk lumut, cukup memakai sikat dari ijuk.

”Semuanya manual, tanpa menggunakan mesin atau alat yang sifatnya tajam dan keras. Karena risikonya bisa merusak struktur candi,” ungkap Marsaid, 47, salah satu jupel Candi Brahu.

Membersihkan candi memang dibutuhkan perlakuan khusus. Sebab struktur bangunan hanya terbuat dari batu bata merah. Sehingga, cara perawatannya pun berbeda dengan candi-candi yang terbuat dari batu andesit.

”Karena, batu bata kan lebih mudah rapuh dibanding batu andesit,” ujar dia. Terlebih, usia Candi Brahu hingga saat ini sudah lebih dari 10 abad. Marsaid menjelaskan, apabila dihubungkan dengan penemuan empat lempeng tembaga prasasti Alasantan yang ditemukan sekitar 45 meter dari tempat berdirinya candi.

Di mana, dalam prasasti tersebut terdapat tulisan Warahu atau Waharu yang berarti bangunan suci, tempat untuk pemujaan bagi agama Buddha. Dari tulisan prasasti itulah yang disebut-sebut menjadi cikal bakal nama Candi Brahu.

”Diperkirakan itu peninggalan dari masa Kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin Raja Mpu Sindok. Jadi, sebelum Majapahit, atau sekitar tahun 939 Masehi,” urai koordinator jupel wilayah Kabupaten Mojokerto ini.

Selain itu, bangunan candi memiliki ketinggian sekitar 25 meter dan panjang 18 x 22,5 meter ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang membersihkan. Dengan kata lain, mereka harus naik hingga ke puncak atas bangunan.

”Untuk naik ke atas, kita gunakan tangga kemudian dipasang tali tampar yang diikat melingkari candi,” jelasnya. Tali tersebut berfungsi sebagai alat keselamatan bagi mereka. Oleh sebab itu, pemeliharaan candi hanya dilakukan ketika kondisi bangunan kering.

Karena, apabila sedang dalam keadaan basah, justru akan berisiko bagi keselamatan jupel itu sendiri. Dia mengatakan, perawatan tersebut sebenarnya rutin dilakukan, hanya saja tingginya curah hujan yang terjadi akhir-akhir ini harus lebih aktif.

Sedikitnya 2-3 bulan harus ada pembersihan. ”Sementara saat musim kemarau sekitar 4-5 bulan sekali. Rentang waktunya lebih lama, karena jarang ditumbuhi lumut,” pungkasnya. (ram/ris)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia