Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Budaya
Hasil Kajian BPCB Jawa Timur di Desa Kumitir, Gondang

Temukan Wadah Lampu Kerajaan Majapahit

Sabtu, 15 Apr 2017 14:13

Temukan Wadah Lampu Kerajaan Majapahit

RELIEF KUNO: Warga menunjukkan temuan bongkahan benda purbakala. (Sofan/Radar Mojokerto )

 

MOJOKERTO - Mencuatnya penjarahan benda cagar budaya (BCB) di Dusun Bendo, Desa Kumiter, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, dalam beberapa hari belakangan ini membuat BPCB Jatim terus malakukan pengusutan dan pemetaan lapangan.

Dalam peninjauan dan kajian di lapangan selama lima hari ini di lokasi berbeda, tak jauh dari lokasi penjarahan, banyak ditemukan BCB baru. Mulai dari bentuk punden, umpak hingga arca serta tempat lampu masa Kerajaan Majapahit.

Benda-benda tersebut ditemukan warga dan tim di lapangan, tepatnya di semak-semak kebun tebu 200 meter dari lahan yang dikeruk. ’’Dugaan kami, di sini dulunya juga ada pemukiman,’’ ungkap unit Penyelamatan dan Pengamanan BPCB Jatim, Achmad Hariri.

Indikasi sementara hal itu terlihat dari temuan-temuan umpak di sekitar lokasi. Kata dia, hal itu sangat berbeda dengan temuan yang ada di lokasi penggerusakan dan penjarahan, di mana lokasinya berada di sebelah barat.

’’Di sini ada tiga batu umpak masing-masing berukuran 30 sentimeter untuk tinggi dan sisi bawah, dan 25 sentimeter untuk sisi atasnya,’’ tandasnya. Hanya saja, meski begitu, pihaknya belum bisa memastikan secara gamblang pemukiman seperti apa yang dimaksudkan.

Sebab, dalam konteks cagar budaya yang sudah lama dipelajari dan ditangani perlu banyak waktu untuk menjawabnya. ’’Harus ada bukti-bukti konkret lain yang mendukung,’’ sebut Hariri yang juga sebagai arkeolog ini.

Misalkan, salah satunya dengan adanya sumur kuno atau sejenisnya. Karena apa, sumur atau sumber air itu sendiri, merupakan hal yang tidak mungkin lepas dari sebuah unsur pemukiman. ’’Tapi, nyatanya sampai saat ini kami belum menemukannya,’’ tandasnya.

Kendati demikian, tentunya, bisa dipastikan antara temuan baru sekarang ini, juga ada keterkaitnnya dengan situs yang sudah dijarah oleh oknum orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. ’’Di lokasi ini juga kami temukan bangunan yang relatif masih utuh,’’ tuturnya.

Tak hanya itu, Hariri menjelaskan, kalau ditarik 250 meter ke arah barat dan selatan juga ada dua punden yang diskralkan oleh warga setempat. Punden pertama, berupa makam atau petilasan yang dianggap sebagai petilasan sesepuh dusun setempat.

Yakni, orang-orang menyebutnya dengan makam Mbah Sago. ’’Makam ini terdapat batu bata kuno ukuran besar yang jadi lantai makam. Ukuran dan motifnya sama dengan batu bata yang tersisa di lahan kebun tebu yang sudah dikeruk,’’ katanya.

Kata dia sekitar 100 meter dari makam, terdapat arca berukuran cukup besar. Arca tersebut disebut-sebut warga sebagai patung berbentuk ganeza. Namun sayangnya, arca yang memiliki ukuran tinggi 135 sentmeter dan ketebalan 35 sentimeter, serta lebar 65 sentimeter itu, kondisinya sudah rusak atau tidak utuh lagi.

Sehingga, untuk mengidentifikasi kebenaran arca tersebut membuat BPCB cukup kesulitran dan butuh banyak waktu. ’’Di lokasi yang sama warga juga sering menemukan barang antik. Seperti logam kuno dan bahkan yang tebaru kemarin, warga menemukan wadah lampu,’’ paparnya.

Meski arca dari batu andesit ini sudah tidak terbentuk bagian wajah dan badannya, tersebut masih dirawat dan diberi balutan kain putih dan kuning, serta kain khas umat Hindu Bali. ’’ Orang sini menyebutnya Joko Klenting. Arca ini diduga peninggalan masyarakat Hindu zaman Majapahit,’’ pungkasnya. (ori/ris)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia