Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Budaya

Gema Surya Majapahit Nilai BPCB Lempar Tangan

Rabu, 12 Apr 2017 09:30

Gema Surya Majapahit Nilai BPCB Lempar Tangan

PENGAWASAN LEMAH: Pecahan batu bata kuno yang masih bisa diselamatkan di lokasi penjarahan situs di Desa Kumitir, Jatirejo, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Langkah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim melaporkan pemilik dan penyewa lahan di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo atas penjarahan peninggalan purbakala, mendapat reaksi dari kalangan pemerhati Majapahit.

baca: BPCB Jatim Diminta Bertanggung Jawab

Mereka menyayangkan sikap BPCB yang dinilai represif tersebut. Hal itu diungkapkan pemangku Gema Surya Majapahit Masdukin. Dia menilai, melaporkan warga atas dugaan merusak dan menghilangkan benda cagar budaya, sama sekali bukan cara yang apik untuk menyelesaikan persoalan ini.

Kata dia, langkah itu justru menegaskan jika BPCB lempar tangan atas sikapnya terhadap pelestarian situs. ’’Sudah puluhan tahun diketahui BPCB. Tapi, dibiarkan begitu saja,’’ ujarnya Selasa (11/4).

Tidak ada action atau langkah yang dilakukan BPCB ketika menemukan situs-situs di Mojokerto. ’’Ketika sekarang jadi viral, malah melaporkan ke polisi. Ini tidak adil,’’ ungkap pria yang akrab disapa Joni tersebut.

Semestinya, ungkap Joni, persoalan ini harus diselesaikan secara komprehensif dan menyentuh esensi permasalahan yang timbul. Dan, tidak sekadar mengambil langkah seribu serta melaporkan pihak penyewa lahan.

’’Seharusnya, instaansi turun tangan dan membebaskan lahan itu dan tetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Ini baru solusi,’’ tandasnya. Senada diungkapkan Nanang Moeni. Pengurus Save Trowulan ini menegaskan, BPCB kerap mengabaikan temuan-temuan situs di wilayahnya.

’’Sampai sekarang, jumlah situs yang dibiarkan masih sangat banyak,’’ ungkapnya. Dia mencontohkan, pembuat batu bata di kawasan Trowulan sudah terbiasa dan tak lagi terkejut dengan berbagai temuan benda cagar budaya.

Hal ini memperlihatkan lemahnya BPCB dalam upaya mengenalkan warga terhadap benda cagar budaya. ’’Sosialisai cagar budaya harus digiatkan. Perlu dijelaskan seberapa penting benda itu. Sehingga masyarakat tahu,’’ jelas Nanang.

Pria berambut gondrong ini menuturkan, dengan begitu masyarakat akan sadar. ’’Undang-undang itu sudah ditetapkan sejak tahun 2013. Tapi, setingkat kepala desa saja, ada yang belum paham tentang cagar budaya. Ini kan memprihatinkan,’’ ungkapnya.

Tidak hanya sosialisasi. Kata pria pembuat patung batu ini, BPCB juga harus membuat polisi cagar budaya. Lembaga itu berisi dari berbagai elemen. Mulai dari kepolisian, aktivis, budayawan, serta instansi yang lain.

Lembaga inilah yang akan melakukan pengawasan serta menelisik keberadaan cagar budaya serta melakukan penindakan terhadap pelaku-pelaku penjarahan benda peninggalan itu. ’’Jangan sampai ini berkelanjutan. Harus ada langkah-langkah cepat dari BPCB,’’ pungkas Nanang. (ron/ris)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia