Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Sport
Nurma Ulifatul Umroh, Pebiliar Putri Andalan Kota Mojokerto

Sering Diejek, Tak Pernah Berniat Menjadi Atlet

Rabu, 05 Apr 2017 07:00

Sering Diejek, Tak Pernah Berniat Menjadi Atlet

BANGGA: Nurma Ulifatul Umroh (paling kanan) saat menerima juara tiga Kejurprov junior Jatim beberapa waktu lalu (Ist/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Dunia olahraga saat ini memang tak kenal jenis kelamin. Laki-laki ataupun perempuan bisa memainkan hampir semua jenis cabang olahraga, tak terkecuali biliar.

Ya, meski sempat dicela beberapa kali, tak membuat Nurma Ulifatul Umroh kapok mengejar cita-citanya sebagai atlet biliar profesional. Seperti apa kisahnya?

Tanggal 11 September 2016 menjadi hari paling spesial bagi ABG asal Dusun Clangap, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini. Malam itu adalah malam pertama kalinya putri pasangan Rasiyo dan Muklisah ini tampil dalam di sebuah ajang kejuaraan resmi biliar, bertajuk Porkot (Pekan Olahraga Kota) Mojokerto.

Tak hanya tampil, pelajar kelas IX ini juga menciptakan sejarah baru dunia biliar Kota Onde-onde sebagai atlet pertama putri yang sukses meruntuhkan dominasi pebiliar putra.

Ya, Nurma Ulifatul Umroh memang tidak menyangka skill permainannya dalam cabor biliar sungguh mempesona. Bahkan, atas prestasinya itu, dia langsung didapuk Pengkot POBSI Kota Mojokerto sebagai atlet biliar putri andalan untuk berbagai macam event kejuaraan tingkat provinsi maupun nasional.

Termasuk dijanjikan bakal tampil di ajang olahraga multievent di Jatim, Porprov 2019. ’’Mulai kelas 5 SD saya mulai belajar biliar. Sampai kelas 6 SD saya juga masih sering bermain. Tapi, pas masuk SMP, saya sudah mulai jarang, sampai disuruh sama guru untuk ikut Porkot, dan ternyata menang,’’ terang Nurma kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Selasa (4/4).

Dia memang tidak menyangka bakat biliarnya ternyata mampu mengangkat namanya semakin tenar. Bahkan, saat turun di Kejurprov Jatim beberapa waktu lalu, dia juga sempat menyabet peringkat tiga nomor junior putri.  

Namun, sejak awal menggeluti dunia biliar, Nurma mengaku hanya sekadar mengasah bermain biasa tanpa ada cita-cita menjadi atlet profesional. Akan tetapi, penilaian itu ternyata salah. Dia baru menyadari skill apiknya beberapa bulan terakhir saat menjalani latihan bersama POBSI Kota Mojokerto.

’’Saya tidak pernah belajar atau diajari biliar. Cuman sekadar nonton teman-teman lalu saya mencoba, dan ternyata menyenangkan. Biasanya main sama Pakde Arfan. Saat itu saya tidak niat jadi atlet,’’ ungkapnya.

Meski belajar otodidak, bukan berarti proses menggeluti biliar yang dia alami tanpa cobaan yang menghadang. Sebagai satu-satunya pebiliar putri, Nurma sempat mendapat celaan dari teman ataupun orang lain yang melihat gayanya berbeda dari kodrati.

Namun, ejekan itu justru dia anggap sebagai pelampiasan dalam bermain. Di sisi lain, tidak sedikit pula teman atau kerabat cowok yang memuji penampilannya meski menggeluti dunia olahraga laki-laki.

Dua penilaian itulah yang akan dia jadikan sebagai pelecut semangatnya dalam memperdalam dunia bola meja ini. ’’Ya, ada orang mengejak itu biasa. Tapi, ada juga ornag baik yang mau mengajak saya setiap kali bermain. Dan, keinginan saya jadi atlet biliar sangat besar. Meskipun awalnya tidak ada niat jadi atlet profesional,’’ pungkas ABG kelahiran 2 Februari 2002 ini. (far/ris)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia