Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Kesehatan

Pindah Alamat dan Meninggal, Peserta KIS-PBI Dicoret

Sabtu, 25 Mar 2017 09:30

Pindah Alamat dan Meninggal, Peserta KIS-PBI Dicoret

()

MOJOKERTO – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto masih melakukan pendataan terhadap peserta Kartu Indonesia Sehat-Penerima Bantuan Iuran (KIS-PBI) yang akan diajukan untuk penghapusan.

Hal itu, menyusul dipangkasnya kuota penerima tahun ini sebanyak 4 ribu lebih peserta. Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto, Susi Sri Utami mengatakan, pihaknya masih melakukan proses pendataan bagi setiap peserta KIS-PBI.

Ini dilakukan untuk memilih siapa saja yang akan dinonaktifkan dari kepesertaan BPJS Kesehatan. ”Kita juga melakukan matching data dengan peserta tahun kemarin. Sehingga, perkiraan yang akan dihapus siapa saja,” katanya.

Menurutnya, terdapat beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan penghapusan. Yaitu, peserta yang diketahui ekonominya sudah mampu, terdapat data ganda, meninggal dunia, dan pindah alamat.

Susi menjelaskan, sejak bergulirnya program KIS-PBI 2014 silam, baru kali ini terdapat pemangkasan kuota. Namun, berkaca pada tahun sebelumnya, jika ada perubahan data, maka akan ada pemberitahuan dari Kementerian Sosial (Kemensos).

”Kita masih perlu klarifikasi ke pusat (Kemensos), siapa-siapa dari 4 ribu yang terhapus. Tapi, itu belum kita terima, mungkin masih proses,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Unit Managemen Kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Mojokerto, Wiedho Widiyantoro menyatakan, pihaknya masih menunggu data pengurangan tersebut.

Jika tidak segera dilakukan penghapusan peserta, maka tagihan premi terhadap peserta tetap berjalan. ”Biasanya, data dari Kemensos diserahkan ke BPJS pusat, nanti dari sana baru diinformasikan ke cabang. Jadi, kita masih menunggu,” paparnya.

Dia menjelaskan, peserta KIS-PBI adalah program bantuan pemerintah bagi warga miskin untuk bisa mendapatkan layanan kesehatan. Mereka yang masuk kuota, didaftarkan menjadi peserta KIS kelas III. Iuran penerima PBI sepenuhnya ditanggung pemerintah, nilainya Rp 23 ribu per orang per bulan.

Wiedho menambahkan, untuk penonaktifan kuota KIS-PBI, tidak dilakukan oleh BPJS Cabang, melainkan langsung dari BPJS pusat. Sehingga, dirinya sebatas menerima laporan sebagai data pembaharuan. ”Siapa-siapa saja itu kita belum punya, tahunya dari sistem saja nanti,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan penonaktifan peserta yang dilaporkan meninggal dunia. Saat ini, peserta KIS-PBI juga diperbolehkan untuk pindah kepesertaan. Sehingga, apabila yang bersangkutan sudah merasa mampu bisa mengajukan surat pernyataan untuk pindah menjadi mandiri.

Begitu pula dengan peserta yang sudah mendapat pekerjaan di salah satu badan usaha. Sehingga, dia harus pindah menjadi peserta penerima upah (PPU). ”Setiap bulan kami melaporkan proses perubahan itu. Baik meninggal dan pindah kepesertaan. Secara otomatis PBI-nya kita nonaktifkan,” pungkas dia.

Untuk diketahui, jumlah kuota KIS-PBI tahun 2016 lalu sebanyak 378.639, namun tahun ini dipangkas menjadi 373.997 jiwa. Dengan demikian, sekitar 4.642 jiwa akan dihapus dari kepesertaan KIS-PBI. (ram/ris)

 

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia