Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Kesehatan

Di Kabupaten Mojokerto, TBC Capai Seribu Kasus

Jumat, 24 Mar 2017 07:00

Di Kabupaten Mojokerto, TBC Capai Seribu Kasus

Ilustrasi (Jawapos.com)

MOJOKERTO – Tepat hari ini, diperingati sebagai Hari Tuberculosis (TBC) Sedunia. Di Kabupaten Mojokerto, kasus TBC masih cukup tinggi. Selama dua tahun terakhir, jumlah penderita semakin meningkat.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, jumlah temuan kasus TBC pada 2015 sebanyak 780 orang. Sedangkan tahun 2016 naik menjadi 1.015 kasus.

Kepala Bidang Pengendalian Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, Hartadi, mengungkapkan, TBC merupakan salah satu penyakit yang mudah menular.

Minimnya pemahaman masyarakat menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah penderita. ’’Menularnya lewat percikan dahak yang mengandung kuman tuberculosis. Jadi setiap orang di sekitarnya bisa tertular,’’ ungkapnya.

Pada gejala awal, penderita TBC akan mengalami batuk berdahak yang terjadi selama 2 minggu. Biasanya, akan diikuti dengan gejala lainnya. Seperti penurunan nafsu makan, berat badan turun, dan keluar keringat dingin di malam hari tanpa sebab.

Hal itulah yang membedakan antara batuk TB dan batuk biasa. ’’Kadang-kadang disertai sesak napas hingga batuk darah, tapi itu tidak harus,’’ ujarnya. Jika mengalami gejala tersebut, maka disarankan untuk memeriksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Karena untuk memastikan diagnosa harus dilakukan pemeriksaan laboratorium pada dahaknya. Ketika diketahui positif, maka harus segera dilakukan pengobatan. ’’Untuk memastikan diagnose itu harus diperiksa dahaknya minimal 3 kali,’’ ulas dia.

Hartadi menjelaskan, pengobatan pada pasien TBC harus dilakukan secara intensif. Hal itu agar bisa sembuh dari penyakit tersebut, pasien harus rutin minum obat selama 6 bulan. Karena itu, harus dilakukan pengawasan yang dilakukan keluarga maupun petugas kesehatan.

’’Kalau tidak tuntas konsumsi obat selama 6 bulan, maka akan berisiko kebal obat atau MDR (Multi Drugs Resistant),’’ jelasnya. Hal itu dikarenakan, ketika belum genap enam bulan, pasien merasa sudah ada perubahan pada bakteri tahan asam (BTA).

Sebelumnya, BTA pada dahak positif sudah terkonversi menjadi negatif. Karena merasa sehat itulah yang menyebabkan pasien berhenti mengkonsumsi obat. Justru, pada pasien yang tidak patuh itu yang memicu meningkatnya jumlah penderita TBC baru.

Padahal, jika kondisi menjadi lebih parah, upaya pengobatan akan semakin sulit dilakukan. Karena bakteri sudah kebal terhadap obat. Dengan begitu, pengobatan pada pasien MDR akan jauh lebih intensif lagi.

Karena, waktu pengobatan akan lebih panjang. Selain itu, pasien tak hanya mengkonsumsi obat tablet saja, tapi juga harus menjalani pengobatan disuntik. ’’Kalau tidak tuntas berobat, tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tapi juga lingkungan sekitar karena bisa menular,’’ cetusnya.

Ketika tubuh sudah terpapar kuman TB, penderita akan berisiko menyerang organ lainnya atau yang biasa disebut TBC ekstra paru. Dari 1.015 kasus TBC yang ditemukan 2016 lalu, 115 di antaranya mengalami TB eksta paru, dan 2 lainnya kebal obat.

’’Tergantung organ mana yang lemah. Ketika kemasukan kuman TB kalau lemah di otak ya bisa menyerang otak, kalau kelenjar yang kena ya kelenjarnya,’’ tandasnya. Tingginya angka penderita TBC itu, disebabkan karena mudah menularnya TBC.

Seperti halnya flu, TBC bisa menular melalui hanya melalui udara saja. Bahkan, 1 orang penderita TB positif, bisa menularkan kepada 10 orang di sekitarnya. Dengan catatan, orang lain itu memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

Dengan demikian, untuk bisa menekan angka penularan, maka TB harus ditemukan sejak dini. Hartadi menambahkan, sampai saat ini pihaknya telah mengetuk pintu sekitar 1.400 rumah warga untuk mencari penderita baru.

Selain itu, pencegahan juga bisa dilakukan dengan menjaga lingkungan bersih. Setiap ruangan diharapkan selalu terbuka agar sinar matahari masuk. Karena kuman TB cenderung berada di lingkungan yang lembab.

’’Pemberian imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) pada bayi, juga akan membentuk kekebalan agar tidak mudah tertular TB,’’ pungkasnya. (ram/abi)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia