Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Pendidikan

SMA Cetak Naskah Soal USBN Sendiri

Kamis, 16 Mar 2017 07:00

SMA Cetak Naskah Soal USBN Sendiri

BERSIAP HADAPI UJIAN: Siswa kelas XII SMAN 1 Bangsal, Kab. Mojokerto di tengah proses belajar mengajar. (Rizal/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Dana pengeluaran SMA Kota/Kabupaten Mojokertio untuk persiapan ujian sekolah berbasis komputer (USBN) membengkak. Menyusul di SMA tetap melaksanakan ujian berbasis kertas.

Sedangkan, Pemprov Jatim tidak mengalokasikan anggaran untuk pencetakan naskah. Dengan demikian, penggandaan soal-soal akan ditanggung oleh masing-masing sekolah.

Kasi Pendidikan Menengah, Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) wilayah Kabupaten/Kota Mojokerto, Mohammad Suwanto mengungkapkan, untuk kebutuhan cetak soal USBN memang dibebankan kepada masing-masing sekolah.

Karena, pemprov hanya mendistribusikan soalnya saja. ”SMA memang kita sepakati pakai kertas. Sehingga, soal-soalnya nanti harus digandakan sendiri,” ujarnya Rabu (15/3).

Menurutnya, sesuai prosedur operasional standar (POS) USBN 2016/2017 disebutkan, sekolah diperbolehkan memanfaatkan dana operasional sekolah (BOS) nasional. Sedangkan, di luar pengeluaran cetak, sekolah tidak terbebani pembiayaan lainnnya.

Sebab, terkait pembuatan dan penyusunan soal telah ditanggung Pemprov Jatim. ”Setelah soft copy (naskah) diambil, sekolah diharapkan segera mencetaknya sesuai jumlah peserta,” ujarnya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri Kabupaten/Kota Mojokerto, Samsul Muarifin menambahkan, dari awal banyak sekolah yang mengusulkan USBN dilaksanakan dengan computer based test (CBT).

Karena, dengan cara tersebut akan mampu meminimalisir kebutuhan biaya yang dikeluarkan sekolah. ”Kalau CBT memang lebih ngirit. Disamping tidak perlu mencetak soal, pengawasnya juga sedikit. Sehingga, biaya yang lain juga bisa ditekan,” ujarnya.

Hanya saja, hal itu urung terwujud. Sebab, beberapa sekolah di Kota Mojokerto masih belum siap. Sehingga, muncul kesepakatan ujian dilakukan menggunakan kertas.

”Karena, untuk SMA Negeri kabupaten sudah siap. Cuma, ada beberapa di kota ada yang belum siap akibat peralihan itu,” jelas pria yang juga kepala SMAN 1 Kutorejo ini. Dengan demikian, mau tidak mau sekolah harus menanggung biaya cukup besar.

Samsul menambahkan, terdapat enam naskah yang harus digandakan. Antara lain, pendidikan agama, PPKn, sejarah, dan tiga mapel sesuai jurusan. ”Kebetulan lembarannya cukup banyak. Ada yang sampai 17 lembar per satu pelajarannya. Kalau SMA yang sekolahan besar, cetaknya juga membutuhkan biaya yang lumayan,” tukas dia.

Dia menambahkan, sebenarnya hal tersebut sama-sama dibebankan kepada sekolah. Namun, untuk pelaksanaan USBN notabene baru diselenggarakan di tahun ini, membutuhkan pengeluaran banyak.

Meski dalam aturan diperbolehkan menggunakan dana BOS, namun hingga pertengahan Maret ini dana bantuan tersebut belum dicairkan. ”BOS sekarang memang belum cair. Jadi, tergantung sekolah masing-masing untuk menyiasati penggandaan soal tersebut. Misalnya, bisa dari dana komite,” ulasnya.

Kepala Sekolah SMAN 1 Bangsal, Suyono menambahkan, saat ini pihaknya sudah dalam proses penggandaan soal. Masing-masing mapel akan dicetak sesuai jumlah peserta sebanyak 345 siswa.

”Masing-masing siswa cetak enam naskah, karena mapel ujiannya ada enam,” ulasnya. Dirinya masih belum mengetahui petunjuk teknis porsi dana BOS yang boleh digunakan untuk persiapan USBN.

Sementara, belum turunnya dana bantuan itu, disiasati dengan mengambilkan dana dari sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). ”Itu pun kami harus sedikit merubah layout-nya, karena dari provinsi formatnya untuk kertas A4. Tapi, kita sesuaikan ukuran kertas legal,” pungkas dia. (ram/ris)

 

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia