Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Kesehatan

Warga Diserang Chikungunya, Tak Bisa Jalan

Selasa, 14 Mar 2017 07:00

Warga Diserang Chikungunya, Tak Bisa Jalan

IKUT TERJANGKIT: Pasutri Ahamad dan Maliyah yang terpapar chikungunya di Dusun Sukorame, Desa Penompo, Kec. Jetis. (Rizal/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Seiring datangnya musim penghujan, ancaman penyakit tak hanya datang dari serangan Demam Berdarah Dengue (DBD). Warga juga diimbau waspada terhadap chikungunya.

Sebab, penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk itu bisa menyebabkan nyeri sendi bahkan kelumpuhan sementara. Setidaknya, kondisi telah melanda kawasan Dusun Sukorame, Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Dalam sebulan terakhir, belasan warga mulai terserang wabah chikungunya. Seperti yang dialami oleh pasangan suami istri, Akhmad, 75, dan Maliyah, 63. Dalam waktu bersamaan, tepatnya pada Sabtu (11/2) keduanya mulai mengalami gejala linu-linu.

’’Seluruh badan rasanya panas dingin dan sakit. Mulai kaki hingga kepala. Kata orang-orang kena chikungunya,’’ ujarnya. Selang sehari, nyeri tersebut semakin terasa sakit.

Terutama di setiap persendian. Awalnya mereka mengira bahwa hanya sakit biasa. Namun, hingga akhirnya badan terasa kaku semua. Bahkan kedua kakinya tidak bisa dibuat untuk berjalan. ’’Ketika digerakkan rasanya sangat sakit sekali, terutama di lutut dan siku,’’ ungkap Maliyah.

Dia menceritakan, hal itu bermula ketika salah satu tetangganya yang mengalami gejala sama beberapa waktu yang lalu. Kemudian, berlanjut menyerang satu per satu anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan penderita.

Setidaknya, hingga saat ini sudah ada belasan orang yang terpapar penyakit tersebut. ’’Seperti bergiliran, setelah rumah satu sembuh, pindah ke rumah satunya lagi,’’ terangnya.

Dia mengaku hanya memeriksakannya ke tempat praktik dokter setempat. Setelah diberikan obat, ibu lima anak ini berangsur baik dan mulai bisa berjalan kembali. ’’Tapi masih belum bisa jauh. Jalan sedikit saja kaki rasanya gemetar,’’ tandasnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kabupaten Mojokerto, Hartadi, menyebutkan, penyebab chikungunya sama halnya dengan DBD. Keduanya disebabkan karena gigitan nyamuk.

Hanya saja untuk jenisnya berbeda. ’’Chikungunya dari nyamuk Aedes Albopictus,’’ cetusnya. Karena itu, mewabahnya penyakit tersebut sangat bergantung pada faktor cuaca. Seperti saat musim penghujan seperti saat ini.

Karena akan menimbulkan banyak genangan air yang menjadi sarang berkembangbiaknya nyamuk. ’’Pencegahannya juga sama dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),’’ papar dia.

Meski tergolong tidak berbahaya, namun penderita akan merasakan efek meriang, nyeri sendi, hingga kelumpuhan sementara. Namun, apabila dibiarkan gejala tersebut akan hilang sendirinya. ’’Tidak ada laporan ada yang meninggal karena chikungunya, tapi tetap jika mengalami itu segera ke puskesmas,’’ jelasnya.

Hartadi mengungkapkan, dalam beberapa kasus chikungunya cenderung terjadi di satu kawasan saja. Sebab, nyamuk Aedes Albopictus hanya mampu terbang dengan radius 200 meter.

Oleh sebab itu, cenderung menyerang sakitar rumah penderita. ’’Jadi bukan menular, tapi orang yang lain itu digigit dengan nyamuk yang sama,’’ pungkasnya. (ram/abi)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia