Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Kesehatan

Serang Kaki dan Mata, Gilang Jalani 30 Kali Terapi Sinar

Selasa, 14 Mar 2017 07:00

Serang Kaki dan Mata, Gilang Jalani 30 Kali Terapi Sinar

CEPAT SEMBUH YA: Ratih dengan tabah mendampingi buah hatinya, Gilang di ICU RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. (Rizal/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Sepuluh bulan sudah, Gilang berjuang melawan penyakit medulloblastoma. Penyakit itu seakan begitu cepat mempengaruhi kondisi kesehatannya. Bahkan, saat ini, dia sudah tidak bisa berjalan dan harus rela kehilangan indra penglihatan.

baca: Gilang Pratama, Balita Penderita Tumor Otak, Ultah di ICU

Ratih Setiyowati, seolah menjadi cerminan ketabahan dari seorang ibu. Meski tengah menghadapi cobaan yang begitu berat, dia tetap menjalani dengan penuh kesabaran dan ikhlas. Meski terlihat lelah, namun mimik wajah perempuan 34 tahun itu tak menunjukkan kesedihan.

Bahkan, dia mencoba untuk tetap memancarkan keteduhan dan berkeyakinan, Gilang Pratama Putra bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Maklum saja, Gilang adalah anak semata wayangnya.

Namun, kini dia harus menjalani perawatan medis akibat menderita medulloblastoma atau sejenis tumor otak. Semakin hari, penyakit tersebut terus menyerang kondisi kesehatannya. Terakhir, bocah empat tahun itu menjalani operasi keempatnya di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.

Ratih menceritakan, awalnya dia sama sekali tak menduga bahwa putranya terserang penyakit medulloblastoma ini. Sebab, pertama mengalami gejala sakit adalah pada Mei 2016 lalu.

Gilang mengalami suhu tubuh panas, pusing dan muntah.  ”Waktu itu dia harus opname di rumah sakit. Tapi, setelah keluar, dia sehat dan beraktivitas seperti biasanya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Selang empat bulan kemudian, Gilang kembali mengalami gejala yang sama. Ratih pun segera melakukan pemeriksaan di salah satu dokter spesialis anak. Akibat kondisinya yang tidak memungkinkan, sehingga memaksa untuk menjalani opname lagi sekitar empat hari.

Namun, saat itu juga kecurigaan mulai muncul ketika sepulang dari rumah sakit. ”Setelah keluar anak saya jalannya mulai goyah, duduk pun juga tidak bisa.,” ulasnya. Saat melakukan kontrol, Ratih lantas menanyakan keadaan tersebut pada dokter.

Dia sedikit merasa lega ketika mendapat jawaban bahwa kondisi itu karena masih dalam masa pemulihan dari sakitnya. Tapi, setelah dua minggu kemudian, kondisi Gilang semakin bertambah buruk.

”Kakinya sudah tidak bisa buat jalan, katanya sakit. Pokoknya, seperti kehilangan keseimbangan” ujar perempuan yang bekerja di SMK Taman Siswa Kota Mojokerto ini.

Untuk memastikan penyebabnya, bocah yang masih duduk di bangku play group itu dilakukann pemeriksaan laboratorium. Namun, semua hasilnya masih menunjukkan dalam batas normal.

Pun demikian dengan foto thorax, tulang belakangnya juga dinyatakan bagus, dan tidak ada kelainan. Sehingga, dokter menyarankan untuk rehabilitasi medik.

”Sekitar bulan Oktober muntah lagi. Akhirnya, saya larikan ke rumah sakit dan dilakukan CT (Computerized Tomography) Scan. Dari sana, baru ketahuan kalau ada tumor di otak kecilnya,” tukas dia. Setelah didiagnosa penyakit tersebut, tim medis menyarankan untuk segera dilakukan operasi.

Namun, dengan berbagai pertimbangan Ratih belum berani mengambil tindakan itu. Dan berinisiatif untuk menundanya. ”Hingga pada akhir Desember saya sudah menyerah, karena kondisinya semakin kritis. Kemudian saya memutuskan untuk melakukan operasi pada Gilang,” ulasnya.

Setelah operasi itu, sebenarnya kondisinya mulai membaik. Hanya saja, muncul permasalahan lain. Sebab, tumor yang diderita oleh bocah anak kelahiran 8 Maret 2013 itu, mulai menyerang saraf matanya. ”Pascaoperasi pertama itu, dia (Gilang) tidak bisa melihat,” ungkap istri dari Ery S. ini.

Dia baru menyadari hal tersebut ketika anaknya meminta mainan handphone. Ketika ditontonkan salah satu video Gilang bisa tertawa, namun Ratih curiga karena pandangannya tidak terfokus pada layar HP.

”Saya coba lambaikan tangan di depan wajahnya, tapi dia tidak merespons. Setelah saya konsultasi ke dokter itu memang efek dari penyakitnya. Yang diserang pertama adalah kakinya, kemudian matanya,” papar dia.

Hingga saat ini, Gilang telah menjalani empat kali operasi. Selanjutnya, dia harus menjalani radioterapi atau terapi sinar untuk membunuh sel-sel tumor. Proses tersebut harus dilakukan sebanyak 30 kali terapi. ”30 kali itu, misal hasilnya sudah bagus di-stop. Tapi, kalau belum akan ditambah lagi,” tandasnya.

Bagi Ratih, tidak ada kata menyerah untuk menanti buah hatinya kembali sehat. Tentunya, dukungan dari keluarga juga menjadi salah satu penyemangat bagi dirinya.

Hanya satu yang diharapkan, yakni Gilang bisa sembuh dan kembali ke rumah bersama keluarga. Dan, dorongan itulah yang membuatnya tetap merasa optimis. (ram/ris)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia