Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Kesehatan

Diabetes Bisa Picu Buta dan Tuli

Sabtu, 04 Mar 2017 07:00

Diabetes Bisa Picu Buta dan Tuli

INDRA PENDENGAR: Pasien memeriksakan gangguan telinganya di poli THT RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. (Rizal/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Penyakit diabetes melitus (DM) dan hipertensi (darah tinggi) merupakan jenis penyakit paling banyak diderita masyarakat saat ini. Bagi yang sudah berisiko atau bahkan terdiagnosa, seharusnya lebih waspada.

Sebab, dua penyakit itu mampu menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satunya adalah tuli mendadak. Dokter spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) RSUD Dr Wahidin Sudiri Husodo, Kota Mojokerto, Tutut Sriwilujeng, mengatakan, DM atau yang sering disebut kencing manis merupakan salah satu penyebab gangguan pendengaran.

”Yang paling sering itu karena diabet. Makanya, penyakit itu harus dikontrol,” ungkapnya kemarin. Menurut Tutut, hal itu disebabkan karena kandungan glukosa yang dapat merusak sistem saraf dan jaringan telinga.

DM memang dikenal sebagai penyakit yang menimbulkan berbagai macam komplikasi. Selain kebutaan, juga dapat menyebabkan ketulian. ”Orang yang kena diabet kan biasanya sering kesemutan. Jika itu terjadi di telinga bisa menyebabkan tinnitus (telinga berdenging),” ungkap dia.

Selain itu, gejala hipertensi turut menyumbang kunjungan pasien ke Poli THT. Sebab, tekanan darah mampu mempengaruhi kualitas pendengaran. Terlebih, penderita hipertensi seringkali tidak bergejala, sehingga hal itu membuat banyak pasien berisiko.

”Hipertensi bisa mengakibatkan telinga berdenging, tapi tensi yang terlalu rendah juga bisa,” ulasnya. Oleh sebab itu, dia mengingatkan pentingnya untuk menjaga kestabilan tekanan darah.

Terutama, dengan menjaga pola makan dengan menghindari makanan yang mengandung banyak kolesterol, lemak, dan mengandung banyak garam. ”Untuk mencegah komplikasi, paling baik hindari risiko penyebab penyakitnya,” ulasnya.

Ketulian yang diakibatkan oleh kedua penyakit tersebut beragam. Ada yang berlangsung singkat selama beberapa jam, kemudian hilang dengan sendirinya. Ada pula berlangsung selama beberapa hari atau minggu.

Namun, jika kondisinya parah bisa menjadi permanen. ”Biasanya, diawali dengan telinga mendenging, itu bisa ditangani dengan obat atau terapi,” paparnya. Dia menambahkan, penyebab gangguan pendengaran bisa diakibatkan faktor lainnya.

Misal, faktor genetik atau bawaan. Biasanya, kondisi itu terjadi sejak dalam masa kehamilan atau karena ibu mengalami penyakit tertentu ketika hamil. ”Bisa karena rubella atau campak,” tukas dia.

Selain itu, dapat terjadi ketika proses persalinan. Di mana, bayi yang dilahirkan dalam keadaan asfiksia atau mengalami kekurangan oksigen.

Sehingga, hal itu akan mempengaruhi fungsi saraf tubuh, termasuk saraf pada pendengaran. ”Bisa juga karena penyakit gondok, dan trauma karena terjatuh atau kecelakaan,” pungkasnya. (ram/ris)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia