Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Budaya

Kirab Agung Nuswantoro Usung Keagungan Majapahit

Senin, 10 Oct 2016 18:49

Kirab Agung Nuswantoro Usung Keagungan Majapahit

SEDOT WISATAWAN: Siswi SMA/SMK dan sanggar seni mengikuti Kirab Agung Nuswantoro Majapahit 1950 Saka. (Imron Arlado/ Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kirab Agung Nuswantoro Majapahit 1950 Saka yang digelar tiap bulan Sura, dikemas lebih cantik. Kemarin, peringatan itu tak hanya menampilkan busana serta kesenian khas Kerajaan Majapahit.

Namun, berbagai peragaan batik serta baju daur ulang disuguhkan dalam pergelaran tersebut. Pergelaran yang tersentral di Pendapa Agung Trowulan ini diawali oleh penampilan apik dari sejumlah SMA dan SMK di Kabupaten Mojokerto.

Bak bidadari, deretan gadis-gadis cantik ini menyuguhkan berbagai pertunjukan kolosal tentang keagungan Majapahit. Selain dari kalangan siswa sekolah, sederet sanggar yang selama ini konsisten mengembangkan budaya ala Majapahit, juga ikut unjuk gigi.

Bahkan, beberapa daerah tetangga seperti Kediri, juga ikut berpartisipasi. Kabupaten Kediri yang dahulu merupakan bagian dari wilayah kerajaan Majapahit, membuktikan bahwa Ruwat Agung Nuswantoro menjadi magnet wisata budaya yang ditunggu tiap tahunnya.

’’Kirab Agung Nuswantoro Majapahit ini uri-uri budaya. Ke depan, kita akan gelar lebih menarik lagi. Dan jauh lebih besar,’’ kata Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP).

Dikatakannya, dengan prosesi yang jauh lebih menarik, maka acara rutin tahunan ini diharapkan mampu menyedot berbagai wisatawan dari berbagai penjuru. ’’Dengan infrastruktur yang lebih baik, maka diharapkan mampu membawa wisata jauh lebih dikenal masyarakat luas,’’ papar dia.

Yang lebih beda dari tahun-tahun sebelumnya, kirab agung kali ini diikuti oleh seluruh kepala desa se-Kecamatan Trowulan. Mereka menggunakan pakaian khas Majapahitan dan menunggang kuda. ’’Para prajurit’’ ini mengawal empat pusaka yang akhirnya diserahkan ke bupati.

Kirab Agung yang juga dihadiri berbagai tokoh pelestari budaya Mojokerto dan Bali ini dipungkasi dengan seserahan empat pusaka itu. Yakni, lambang Majapahit yang diterima bupati, Tombak Samudera yang diterima Wabup Pungkasiadi.

Sedangkan, Payung Bersusun Tiga dan umbul-umbul gulo klopo (Sang Saka Merah Putih) diterima unsur Forkopimda. Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto Ustadzi Rois, mengatakan, pusaka yang diserahkan ke Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa ini merupakan lambang-lambang kebesaran Majapahit. ’’Kita patut bangga dengan itu,’’ katanya.

Sebagai anak cucu nenek moyang yang begitu hebat, lanjut Rois, juga harus punya keyakinan menjadi lebih hebat. Kebesaran nenak moyang tersebut, ilmunya harus menurun pada anak cucu sebagai keturunan Majapahit. Namun untuk mengubah mindset dan budaya, tidak bisa seperti membalik telapak tangan.

Menurutnya, event rutin tahunan tersebut bakal terus ditingkatkan di tahun depan. Karena, Kirab Agung Nuswantoro Majapahit, merupakan bukti keseriusan pemerintah terus mengembangkan budaya dan seni. Dijelaskannya, kegiatan ini merupakan peninggalan leluhur yang harus dihormati dan secara konsisten akan dilaksanakan.

Aset Majapahit yang berharga dan tidak ternilai harganya meninggalkan kurang lebih 200 petilasan dan situs akan dibukukan dan dibuka kembali agar cerita sejarah dapat terawat dan menjadi uri-uri majapahit yang dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia dan dunia internasional. (ron/abi)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia