Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Jangan Baca

Ulah Kasar Suami Berakhir di Balik Sel Jeruji

Jumat, 07 Oct 2016 16:41

Ulah Kasar Suami Berakhir di Balik Sel Jeruji

Ilustrasi (jpnn.com)

Kate nyambel ndolek terasi

Ketemune beras ketan

Timbang nontok bojo ditahan polisi

Mending milih pegatan

Hati sakit, raga remuk. Pukulan demi pukulan suami singgah di wajah. Setiap ada persoalan, bogeman mentah yang mewarnai. Tak ada lagi keharmonisan.

Demikian itu secuil gambaran kondisi rumah tangga Mukiyo (samaran), 48, dan Tulkiyem (samaran), 45. Warga Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto itu, kini tengah membawa persoalan rumah tangganya ke Pengadilan Agama (PA). Pada Selasa (4/10), sudah memasuki sidang kedua.

Iya, rumah tangga Mukiyo dan Tulkiyem awalnya berjalan baik-baik saja. Lancar dan selalu berselimut bahagia. Hingga kini, terhitung sudah 20 tahun. Waooow.... Perjalanan yang tidak sebentar. Dari jalinan kasih dan sayang keduanya, sudah dikaruniai dua anak. Yang satu duduk di bangku SMA. Satunya lagi di bangku SMP.

Memang, hari-hari keluarga Tulkiyem ini tidak pernah ada masalah. Mukiyo sendiri lancar bekerja di pabrik. Untuk urusan ekonomi, baik-baik saja. Kebutuhan terpenuhi semua. Dengan kata lain, tidak dalam kekurangan ekonomi. Namun, kondisi mendadak berubah. Iya, semua itu setelah Mukiyo tak lagi bekerja di pabrik.

Ekonomi rumah tangga menjadi kelimpungan. Seiring itu, bukan prihatin yang didapat Tulkiyem. Melainkan amarah dan siksaan lahir batin. Batin tersiksa amarah dan kekurangan, lahir selalu jadi sasaran pukulan Mukiyo. ’’Lama-lama kalau di biarin aku yang sakit semua Mbak,’’ ungkap Tulkiyem.

Bukan tanpa sebab Tulkiyem berpikir seperti itu. Saking seringnya dipukul, bisa dibilang tangan Mukiyo sangat akrab dengan wajah Tulkiyem. Sesabar apa pun Tulkiyem, tetap ada batasnya. ’’Terus aku laporin polisi,’’ katanya.

Sebenarnya, menurut Tulkiyem, polisi mengarahkan keduanya berdamai. Namun, Mukiyo harus tetap ditahan. Pilihan yang sangat dilematis. Berdamai, Tulkiyem bakal melihat suaminya dipenjara. Sedangkan, jika tidak bertahan, berarti harus bercerai. ’’Masih kasihan kalau ditahan di penjara. Lebih baik aku gugat saja,’’ ungkap Tulkiyem.

Iya, Tulkiyem memang kerap menjadi sasaran kemarahan Mukiyo. Hati sakit dan raga remuk tak membuat Tulkiyem menjadi tega. Dia tetap tidak bisa melihat suami dipenjara. Tapi, karena harus memilih, akhirnya dia memilih bercerai. (indahyani/abi)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia