Rabu, 13 Dec 2017
radarmalang
icon featured
Malang
Hanya Makan Singkong, Tak Pernah Sakit

Hanya Makan Singkong, Tak Pernah Sakit hingga Usia 71 Tahun

Hanya Makan Singkong, Tak Pernah Sakit

Jumat, 13 Oct 2017 15:12 | editor : Deka Adrianto

Hanya Makan Singkong, Tak Pernah Sakit hingga Usia 71 Tahun

KH Burhanuddin Ahmad ini bisa dibilang unik. Bagaimana tidak, sejak 43 tahun silam, dia rutin puasa tanpa jeda setiap hari. Uniknya lagi, yang dia makan hanya singkong. Anjuran sang guru berpuluh tahun lalu membuat dia konsisten melakukan hal tersebut. Dia juga banyak merasakan manfaat berpuasa setiap hari. Seperti apa?   

”Hallo, Bur, kamu buka puasa dulu, habis itu langsung ke sini,” kata KH Ahmad Mukhtar Ghozali di ujung telepon. Pada sebuah sore di awal Oktober lalu, Pengasuh Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) Darun Najah, Desa Ngijo, Karangploso, ini menghubungi KH Burhanuddin Ahmad yang merupakan pengasuh PPAI As Sya’idiyah, Desa Babakan, Karangploso.

Ketika itu, Kiai Mukhtar tidak bertanya dulu apakah Kiai Burhan sedang berpuasa atau tidak. Alasannya, karena Kiai Mukhtar tahu kalau Kiai Burhan setiap hari selalu berpuasa. ”Ini sejak 1974 (43 tahun lalu) berpuasa terus tiap hari tidak pernah putus,” ucap Kiai Mukhtar.

Setelah itu, wartawan koran ini meminta izin melakukan wawancara dengan Kiai Burhan. Mula-mula, dia enggan diwawancarai. Alasannya, dia takut disangka pamer dengan ritual puasa puluhan tahun yang dilakukan.

Hanya, ketika dijelaskan agar ceritanya bisa menginspirasi khalayak ramai, Kiai Burhan lantas mengiyakan. ”Iya, tidak masalah kalau begitu,” katanya.

Dia menjelaskan, dalam setahun jika dihitung hanya empat hari tidak puasa. Lantaran, empat hari tersebut di dalam Islam memang haram berpuasa.

Rinciannya, tiga hari saat Idul Adha dan satu hari saat Idul Fitri. ”Itu pun ketika tidak puasa saya hanya minum air putih setelah salat Subuh. Setelah itu tidak makan,” imbuh pria empat anak dan delapan cucu ini.

Menurut dia, karena sudah terbiasa berpuasa sejak 1974 silam, dia tidak enak ketika harus makan dan minum sebelum Magrib berkumandang. Kiai Burhan lantas bercerita, saat berhaji untuk kali pertama pada 2004 silam, perutnya sakit setelah minum air zam-zam. ”Saat itu masih tawaf. Karena panas, saya ingin minum air zam-zam dan membatalkan puasa, tapi justru sakit,” imbuh pria berusia 71 tahun ini.

Semenjak itulah, Kiai Burhan tidak lagi berani minum dan makan di luar jam buka puasa. Bahkan, karena alasan inilah, dia terpaksa menolak ajakan makan dari orang-orang yang biasa mengundangnya berceramah. ”Kalau orang yang tahu (kebiasaan kiai) sudah pasti tidak memberi makan. Begitu juga saat perjalanan seperti ziarah Wali Sanga, saya terpaksa menolak ajakan orang untuk makan,” tambahnya.

Uniknya lagi, saat berbuka puasa, yang dimakan Kiai Burhan bukanlah makanan mewah. Dia hanya makan singkong rebus dan segelas air putih. Ya, sejak 1974, ketika dia mulai rutin puasa, dia memang sudah tidak makan nasi. ”Ya hanya singkong rebus dan air putih,” jelasnya.

Ketika ditemui koran ini Rabu (11/10), dia lantas mengambil singkong yang hendak disantap saat buka puasa. Ada singkong yang masih utuh dan ada singkong yang sudah dilembutkan. ”Jadi, singkong mentah ini saya lembutkan, setelah itu saya rebus. Lalu, saya makan,” imbuh suami dari Hj Anik Iswati tersebut.

Kiai Burhan bercerita, dia selalu puasa dan makan singkong rebus selama puluhan tahun, itu ada cerita tersendiri. Ketika itu, sekitar 1974, dia yang nyantri di KH Ahmad Mukhtar Ghozali pindah ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin di Tasikmadu, Lowokwaru. Pesantren ini dulu diasuh KH Agus Salim Mahfudz Yusuf atau biasa dipanggil Gus Fud.

Sehari setelah dia tiba di pesantren ini, dia dipanggil Gus Fud. Dia diminta tirakat oleh kiai kondang asal Kota Malang tersebut. Caranya dengan berpuasa dan hanya makan saat Magrib berkumandang. Yang dimakan cukup singkong. ”Katanya ilmu sebanyak apa pun kalau tidak ditirakati, akan hambar,” jelasnya.

Awalnya, dia hanya puasa tiga hari. Lalu, tujuh hari, hingga seratus hari. ”Saat saya mau menikah pun bertanya kepada beliau. Kalau kuat, teruskan saja, begitu kata beliau,” imbuhnya. Dia lantas meneruskan perintah itu hingga kini.

Ada banyak hal yang dia dapat dari berpuasa. Salah satunya dia selalu sehat meski kini umurnya 71 tahun. Dia hampir tidak pernah masuk rumah sakit. ”Tidak pernah sakit seperti rematik, kolesterol, diabetes, hingga pusing-pusing,” imbuhnya.

Bahkan, saat dia berhaji untuk kali kedua pada 2016, dokter di Jakarta yang memeriksa kesehatannya sempat kagum. Si dokter kaget karena badan Kiai Burhan tetap sehat di usia 71 tahun. ”Jantungnya bagus, semuanya bagus, Anda sering olahraga pagi ya,” katanya menirukan ucapan dokter tersebut. ”Padahal, saya tidak pernah olahraga pagi, ya cuma puasa,” imbuhnya.

Menurut dia, sehat dengan berpuasa sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. ”Hadis nabi, berpuasalah maka sehatlah kamu,” jelasnya. Terkait manfaat singkong, dia juga yakin kalau singkong memang baik untuk kesehatan. ”Karena ada teman saya yang sakit kanker, berobat di Australia, disuruh makan singkong selama tiga bulan, dan ternyata sembuh,” ucapnya.

Manfaat lain, menurut dia, Kiai Burhan merasa hidupnya penuh dengan keberkahan dan berkecukupan. Dia yakin, hal ini dampak dari puasa tiap hari yang dia lakoni. ”Padahal, saya tidak bekerja, tidak dapat bayaran setiap bulan, tapi selalu ada saja rezeki. Alhamdulillah, saya juga bisa menguliahkan anak saya,” pungkasnya.

(rm/dek/dek/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia