Kamis, 14 Dec 2017
radarmalang
icon featured
Malang
Belajar dari Tukang Cukur

Belajar dari Tukang Cukur, Biasa Layani Customer hingga Pagi

Belajar dari Tukang Cukur

Kamis, 12 Oct 2017 14:46 | editor : Deka Adrianto

Belajar dari Tukang Cukur, Biasa Layani Customer hingga Pagi

Barber (pemotong rambut) yang bernama Yudhek ini bisa dibilang punya keistimewaan. Selain jago menata rambut para lelaki, dia punya kiprah internasional di bidang potong-memotong rambut. 

Usaha barbershop atau salon rambut khusus lelaki kini bermunculan di mana-mana. Di Kepanjen, ada barbershop milik Yudhek yang selalu ramai. Barbershop di Jalan Effendi Nomor 33 Kepanjen itu dia kelola sejak 2015 dan nyaris tidak pernah sepi dari pelanggan. Kecuali Rabu, ada saja pelanggan Yudhek yang mengantre di tempat potong rambut miliknya. Sebab, hari liburnya memang hanya Rabu.

Bicara soal antrean, jangan membayangkan bahwa Anda akan dilayani oleh kapster begitu tiba ke lokasi. Barbershop milik Yudhek ini sepertinya memang tidak cocok jika dipilih oleh customer yang tergesa-gesa. Untuk mendapatkan antrean pertama saja, beberapa customer harus rela datang ke salon sejak pukul 05.00 pagi. Sebab, memang banyak yang antre. Itu karena selama ini banyak pelanggan yang cocok dengan cara Yudhek memotong rambut.

Padahal, dalam melayani customer, Yudhek tak seperti barber pada umumnya yang bekerja dengan pakem saklek dan terikat dengan deadline. Namun, pria asal Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum, ini lebih senang menikmati proses melayani customer-nya tanpa harus terikat waktu. ”Karena memotong dan menata rambut itu bagian dari seni. Sehingga, harus dinikmati dan dicermati secara detail,” kata Yudhek saat ditemui beberapa waktu lalu.

Sembari melayani customer-nya, Yudhek menyatakan, kepuasan dalam sebuah karya seni itu bukan hanya milik orang yang menyaksikan (dalam hal ini customer), melainkan juga untuk dirinya sendiri. ”Makanya, saya tidak pernah menyarankan orang yang sedang tergesa-gesa untuk potong di sini. Karena saya tidak pernah menghitung berapa lama harus menyelesaikan per pelanggan,” ungkapnya dengan logat Jawa.

Selain itu, Yudhek tipikal orang yang memegang teguh kedisiplinan. Siapa yang datang terlebih dahulu atau mengantre untuk pertama kalinya akan dilayani sesuai dengan urutan. ”Pernah ada yang bilang ke saya kalau sedang buru-buru dan minta didahulukan. Saya iyakan saja. Dengan catatan, dia mau  membayar ongkos potong customer saya yang sudah mengantre sebelumnya, ternyata tidak mau,” terangnya sambil tertawa.

Meski tidak ada patokan pasti berapa lama pengerjaan hairstyles pelanggannya, tapi rata-rata untuk menyelesaikan cukuran satu pelanggan, Yudhek bisa menghabiskan waktu sampai 2 jam. Detail pekerjaan menjadi ciri yang tidak bisa dilepaskan dari karya-karya Yudhek.

Alumnus Sekolah Teknik Menengah (STM) Nasional Malang ini bahkan menjuluki pelanggan setianya sebagai fighter (pejuang). Demi para figther-nya tersebut, Yudhek bisa melayani jasa potong rambut sampai pukul 03.00 dini hari. ”Ya dinikmati saja, ini passion saya,” ujarnya santai.

Hal ini juga yang sukses membawa nama Yudhek sebagai salah satu profesional barber. Dia pun dipercaya menjadi juri dalam beberapa kompetisi daerah maupun nasional.

Putra dari pasangan Gariman dan Daice ini menjadi salah satu peserta dari ajang pertemuan barber lokal dan mancanegara yang tergabung dalam Hair Expo 2017. Dalam kesempatan tersebut, Yudhek bersanding dengan sejumlah barber terbaik di tingkat nasional maupun internasional. Salah satu ajang yang paling berkesan untuk Yudhek, yaitu barber camp yang digelar bekerja sama penyelenggara dari Singapura beberapa waktu lalu di Sidoarjo. Meski dilaksanakan di Indonesia, ajang tersebut merupakan momentum gathering dan sharing oleh para babershop around the world. Dalam kesempatan itu, selain sebagai juri barber battle, Yudhek berkesempatan menjadi pemateri.

Pria yang juga hobi bermain skateboard ini bahkan langganan menjadi pemateri dalam sejumlah workshop tentang hairstyles di berbagai kota.

Dia menyatakan, bakat di bidang cukur-mencukur yang dimilikinya itu bukan turun dari langit. Sejak masih duduk di bangku STM, Yudhek sudah mulai mengasah bakatnya dengan memotong rambut teman-teman sekolahnya. ”Kalau belajarnya, dulu sering lihat bapak-bapak tukang cukur rambut dekat asrama tentara di Kesatrian, Kota Malang. Saya tungguin seharian hanya supaya bisa cara memotong rambut model flattop (potongan rambut seperti artis Tukul Arwana),” katanya lalu tertawa.

Di mata Yudhek, tukang cukur maupun barbershop itu sama. ”Yang membedakan hanya kelasnya. Kalau dilihat dari sisi lain, tukang cukur malah punya sisi keren yang tidak dimiliki barbershop,” terangnya.  Meski menggunakan peralatan yang tidak secanggih barbershop, nyatanya banyak tukang cukur yang bisa menghasilkan cukuran dengan teknik maupun kesulitan yang sama dengan barbershop.

Pun dari customer, anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari mereka. ”Kadang ada saja yang mintanya macam-macam, tapi saya malah senang karena dari situ bisa memperkaya inovasi,” tambahnya. Namun, bukan berarti Yudhek akan selalu menuruti apa yang diminta oleh pelanggannya. Tidak sekadar memotong, pria lajang ini juga berusaha untuk memberikan edukasi pada customer-nya dalam memilih tatanan rambut yang paling tepat.

Beberapa tips pun disampaikan Yudhek sebagai pertimbangan untuk memilih gaya rambut. Di antaranya, menyesuaikan gaya dengan kondisi rambut pelanggan dan tidak memaksakan diri pada model rambut yang tidak sesuai dengan karakter wajah. ”Jangan lupa pilih eksekutor (barbershop) yang benar-benar Anda percaya,” imbuhnya.

Meski telah menjadi profesional, Yudhek tidak pernah berhenti belajar. Melalui media sosial, dia banyak mengambil inspirasi dari para barbershop lain, baik lokal maupun mancanegara.

(rm/dek/dek/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia