Kamis, 23 Nov 2017
radarmalang
Edukasi

Mau KB, Divaksin Aja

Kontrasepsi Temuan terbaru Dosen UB untuk Wanita dan Pria

Kamis, 16 Feb 2017 12:51

Mau KB, Divaksin Aja

Prof Dr Aulanni’am drh (Humas UB)

Malang Kota – Bagi pasangan suami istri yang ingin menunda kelahiran anak, kini ada cara baru selain dengan alat kontrasepsi, di antaranya spiral, pil, suntik, atau yang selama ini ada. Sebab, kini ditemukan vaksin yang fungsinya sama dengan alat kontrasepsi tersebut. Bahkan, vaksin ini tidak menimbulkan efek samping, misalnya menjadikan badan gemuk.

 

Vaksin temuan dosen Fakultas Kedokteran Hewan  Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Aulanni’am drh DES itu dinamakan vaksin zona pellusida-3 (ZP3) untuk wanita, sedangkan vaksin inhibin untuk laki-laki. ”Jadi, program KB tersebut bisa diimplementasikan wanita dan laki-laki,” jelas perempuan yang juga dekan Fakultas Kedokteran Hewan UB itu.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan  penggunaan kontrasepsi yang ada selama ini, dia menyatakan, ada banyak perbedaan. Alat kontrasepsi yang selama ini dipakai para wanita, seperti pil maupun suntik, tidak langsung tepat pada sasaran. Sebab, memiliki dampak pada perkembangan fisiologi hormon. Misalnya, menstruasi yang tidak stabil.

Kemudian, batas penggunaan KB juga hanya dalam waktu tiga bulan. Namun, berdasarkan penelitian, vaksin temuannya itu mampu menahan kehamilan hingga tujuh bulan atau 222 hari. Aulanni’am membeberkan, vaksin khusus untuk perempuan tersebut apabila dibandingkan dengan suntik, fungsinya memang sama. Akan tetapi, penggunaan dan efeknya berbeda.

Aulanni’am menyatakan, pada prinsipnya, vaksin kontrasepsi yang sedang dikembangkannya ini berupa protein. Protein tersebut yang akan mengenali molekul zona pellusida atau protein di luar sel telur. Dengan begitu, bisa membuat sel telur tidak bisa lagi mengenali sperma laki-laki.

Dia menjelaskan, protein tersebut bersifat reversible (tidak banyak perubahan) dan tidak menyebabkan patologis (sakit) di saluran reproduksi wanita. Vaksin kontrasepsi ini pun sudah diujicobakan pada hewan Makaka vesicularis (monyet). ”Ada kesamaan antara mamalia dan manusia,” jelasnya.

Kemudian, hasil kerja vaksin inhibin berbeda dengan vaksin ZP3. Perempuan kelahiran Tuban itu menerangkan, cara kerja vaksin inhibin untuk melemahkan sperma laki-laki. Protein yang terdapat di dalamnya berfungsi untuk mengganggu proses spermatogenesis (proses pembuatan sel sperma).

Namun, dia menjelaskan, untuk vaksin inhibin ini, masih belum sempurna. Oleh karena itu, batasan waktu penggunaannya juga belum diketahui. Saat ini, masih  melakukan proses uji coba. Tahap uji coba awal dilakukan pada kelinci yang biasanya beranak banyak. Terbukti, vaksin tersebut dapat mengurangi jumlah anak kelinci.

Menurut dia, proses penelitian yang dilakukan bersama Prof Sutiman B. Sumitro, guru besar biologi UB, itu dimulai sejak 1998–2013. Untuk pendanaan, dia mendapatkan support dari pabrik obat Bio Farma. Aul menyatakan, vaksin yang sudah siap digunakan sebetulnya adalah ZP3 untuk perempuan. Namun, dia menyatakan, saat ini masih proses untuk dapat diloloskan dan diuji. Sebab, vaksin itu sifatnya langsung berhubungan dengan tubuh manusia. Dengan begitu, dibutuhkan kejelian dan perlu dites lembaga luar untuk menentukan uji kesuksesannya. ”Saya tidak heran dengan proses administrasi yang ribet itu di Indonesia. Jika di luar negeri, mungkin langsung dikembangkan,” ucapnya.

Sebetulnya, dari pihak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat, sudah mendapatkan respons baik untuk mengembangkannya. Hal itu pun disampaikan pihak BKKBN awal Februari lalu saat mengadakan seminar tentang keluarga berencana (KB) di Malang. ”Tapi, saat ini, kita masih menunggu BKKBN untuk mampu mengambil alihnya. Sebab, ini berkaitan dengan program untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia,” pungkasnya. (kis/c3/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia