Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Malang Kota

Pedagang Korban Kebakaran Pasar Besar Balik Kucing Akhir Januari

Sulit Tertibkan PKL karena Bercampur dengan Pedagang Pasar

Jumat, 27 Jan 2017 10:10

Pedagang Korban Kebakaran Pasar Besar Balik Kucing Akhir Januari

Kondisi Pasar Besar Sampai hari ini (Jumat,27/1) (Bayu Eka Novanta/Radar Malang)

MALANG KOTA – Delapan bulan sejak kebakaran Pasar Besar Malang (PBM) pada 26 Mei 2016 lalu, sejumlah kios yang dilalap api hingga kini masih merana. Terutama kios di lantai satu, hingga  Jumat ini (27/1) banyak yang belum dibenahi. Kondisinya juga mengenaskan, bekas kebakaran membuat temboknya menghitam dan sebagian rusak. Meski demikian, ada juga pedagang yang telah menempatinya karena sudah memperbaiki kios secara mandiri.

Namun, berbeda dengan kondisi lantai dasar. Saat ini sudah sekitar 90 persen yang sudah ditempati oleh pedagang yang selama sekitar 8 bulan setelah kebakaran berjualan di sisi barat dan timur Pasar Besar. Saat ini mereka sudah banyak yang dikembalikan ke dalam pasar di lantai dasar setelah kios diperbaiki.

Bahkan ditargetkan, para pedagang yang berjualan di luar pasar yang asalnya dari lantai dasar pasar seluruhnya bisa kembali menempati kiosnya (di dalam pasar) pada akhir Januari mendatang.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang Wahyu Setianto menyampaikan, akhir bulan ini, mereka yang berjualan di sisi barat dan timur pasar akan dikembalikan lagi ke dalam pasar. ”Kami sudah lakukan woro-woro lewat petugas supaya mereka (para pedagang) segera masuk,” kata Wahyu, kemarin (26/1). Kepada Jawa Pos Radar Malang Wahyu menjelaskan, pertimbangan pengembalian para pedagang ke dalam pasar sebagai upaya menertibkan pedagang kaki lima (PKL).

”Karena masih ada pedagang asli yang berjualan di luar pasar, makanya kami tidak bisa menertibkan pedagang kaki lima (PKL) liar,” ungkap Wahyu. Mantan kepala dinas perhubungan itu menjelaskan bahwa yang mereka imbau untuk masuk adalah pedagang yang tempat berjualannya sudah siap. ”Tujuan utamanya untuk melihat, yang tidak punya tempat berarti itu adalah PKL,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pasar Besar Malang Muhammad Munif juga membenarkan bahwa sosialisasi perpindahan para pedagang tersebut memang sudah mulai mereka lakukan sejak awal tahun ini. ”Kami sudah menyampaikan pada koordinator pedagang dan juru pungut retribusi. Jadi, semua pedagang sudah tahu,” kata Munif.

Mantan Kepala Pasar Nusakambangan Kasin tersebut menyatakan, kebanyakan mereka sudah mulai masuk dan berjualan di bagian dalam pasar sejak Senin lalu (23/1). ”Imbauan ini khususnya kami tujukan kepada para pedagang yang memiliki lapak di lantai dasar. Sebab, sebagian besar lapak-lapak mereka sudah selesai diperbaiki oleh pemiliknya sendiri,” kata Munif saat ditemui di kantornya.

Dari data kepala Pasar Besar Malang, ada 600-an lapak menjadi korban amukan si jago merah pada 26 Mei 2016 lalu. Kios maupun lapak milik pedagang tersebut berada di lantai dasar dan lantai satu. ”Untuk yang ada di lantai dasar, sekitar 95 persen di antaranya sudah diperbaiki,” kata dia. Sementara untuk kios yang ada di lantai satu, pihaknya belum bisa mengimbau mereka untuk kembali berjualan di dalam. ”Selain masih belum diperbaiki, aliran listriknya juga belum merata. Kalau yang di bawah,  semuanya sudah,” kata dia.

Munif menambahkan, soal penertiban PKL, tindakan tersebut harus segera dilakukan karena kehadiran mereka membuat kawasan Pasar Besar Malang menjadi kotor dan kumuh. ”Kalau sudah jualan biasanya terpal-terpal yang mereka pakai untuk berteduh, dibiarkan begitu saja. Kami mau menindak juga kesulitan karena tempat jualannya jadi satu dengan para pedagang yang jadi korban kebakaran. Makanya, para pedagang resmi harus masuk dulu supaya kami bisa mendata PKL-nya yang mana saja.

Munif pun tidak menampik bahwa para pedagang memperbaiki sendiri lapak-lapak yang mereka gunakan untuk berjualan. ”Untuk pembangunan kios memang tidak ada campur tangan pemerintah. Jadi, murni mereka sendiri yang memperbaiki,” ujarnya. Sejauh ini pemerintah masih mengupayakan perbaikan, khususnya untuk pengadaan penerangan.

Rencana kepindahan ini pun disambut positif oleh para pedagang, baik yang berjualan di dalam maupun luar pasar. Afi Ristia misalnya, pedagang sembako tersebut mengaku senang dengan rencana tersebut. ”Kalau teman-teman yang di luar pasar banyak yang masuk, otomatis pembeli semakin banyak,” kata perempuan 38 tahun tersebut. Afi sendiri termasuk pedagang yang kiosnya rusak total saat terjadi musibah kebakaran itu. Total kerugian yang dia tanggung mencapai Rp 50 juta. Sebelum menempati kios setelah terbakar, dia pun harus merogoh koceknya sebesar Rp 40 juta untuk perbaikan.

Hal senada disampaikan Rismayanti yang tidak lama lagi juga akan kembali berjualan di dalam pasar. ”Masih diperbaiki, tinggal sedikit lagi. Nanti kalau sudah selesai, ya segera masuk. Wong di sini juga sudah sepi,” kata Rismayanti. Saat ditemui koran ini, perempuan 43 tahun tersebut masih berjualan bumbu dapur di sisi barat pasar.

Dari pantauan koran ini, jumlah para pedagang yang berjualan di sisi barat dan timur pasar memang sudah lumayan berkurang. Tempat-tempat yang biasa mereka gunakan untuk berjualan, sebagian sudah beralih fungsi menjadi tempat parkir. Meskipun masih ada juga yang menggunakan mobil sebagai tempat menjajakan dagangan.

Sementara itu, di lantai satu PBM, masih banyak kios yang dibiarkan kosong karena pemiliknya masih belum memperbaikinya. Aisyah, salah satu pemiliki kios yang masih memilih berjualan di tempat relokasi karena tempat jualannya masih belum diperbaiki. ”Untuk kulakan (belanja) dagangan saja masih utang. Sabar saja, jualan di sini dululah,” kata pedagang sandal dan sepatu tersebut.

Hal senada juga disampaikan Alfin Imron yang lebih memilih berjualan di kios beralas tripleks. ”Di dalam pasar masih rusak, tidak bisa untuk jualan,” kata pedagang bunga plastik tersebut. Namun tidak dipungkiri, selalu ada hikmah di balik musibah. Dengan berjualan di luar pasar, pendapatan Imron justru naik 10 persen jika dibandingkan jualan di dalam pasar. ”Mungkin karena banyak yang lewat dan tidak sengaja mampir, ya disyukuri sajalah,” tandasnya. (iik/c2/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia