Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Ekonomi Bisnis

Manfaatkan Internet atau Tergerus Zaman

Perusahaan Harus Melek Digital Economics

Jumat, 19 May 2017 11:10

Manfaatkan Internet atau Tergerus Zaman

BAHAS BISNIS INTERNET: Dari kiri, Fintech Office Bank Indonesia Safari Kasiyanto, Perwakilan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Aang Affandi, dan dosen Universitas Brawijaya (UB) Dias Satria, di Hotel Gajahmada Graha, Kamis (18/5). (BAYU EKA NOVANTA/RADAR MALANG)

KOTA MALANGVice President Marketing Bukalapak.com Bayu Syerli Rachmat menyebut, ada sekitar 600 ribu orang di Malang yang sudah memanfaatkan Bukalapak.com. Baik sebagai penjual maupun pembeli. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Malang makin tak bisa dilepaskan dari bisnis berbasis internet.

Data itu dipaparkan Bayu dalam seminar Digital Economics yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang. Tepatnya, di ballroom Hotel Gajahmada Graha kemarin (18/5). ”Suatu saat nanti atau beberapa tahun ke depan, uang akan makin bertebaran di dunia maya. Digital Economics sangat kuat pengaruhnya pada dunia bisnis,” kata Bayu.

Ingat, angka 600 ribu hanya dicapai oleh Bukalapak.com. Padahal, ada banyak portal e-commerce yang eksis saat ini. Bahkan, di Malang ada sejumlah pihak yang membuat situs e-commerce untuk menampung para pelaku usaha lokal.

Geliat bisnis digital ini harusnya dibarengi dengan upaya maksimal dari pemerintah. Fintech Office Bank Indonesia Safari Kasiyanto pun menyebut beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah. ”Salah satunya, mendorong perkembangan teknologi internet,” ujar Safari.

Bentuk dorongan itu bisa berupa penyediaan infrastruktur jaringan internet. Dan, jaringan listrik yang memadai hingga ke pelosok daerah. ”Percuma jika jaringan internetnya bagus, tapi pasokan listriknya tidak bisa mengimbangi,” kata dia.

Sementara itu, yang tak kalah penting, pemerintah harus terus mengedukasi masyarakat tentang internet. ”Terutama, konsekuensi atau dampak dari internet,” ujar dia.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah aksi kriminalitas yang muncul dalam bisnis digital. Pemicu aksi kriminal itu sebenarnya berawal dari kelengahan pengguna internet atau pelaku bisnis e-commerce. ”Ada kasus orang yang tidak mau ribet. Akhirnya, dia memberikan pinnya kepada orang lain agar bisa transaksi sewaktu-waktu. Hal seperti itu tidak boleh dilakukan,” jelas dia. 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia Bari Arijono menyatakan, bisnis berbasis internet sudah menjadi sebuah keniscayaan. ”Pemicunya adalah pertumbuhan penduduk saat ini yang didominasi usia muda menjadi faktor pendorong Digital Economics,” ujar dia.

Nah, karakteristik dari anak muda itu adalah tidak mau ribet dan menuntut semuanya serba instan. Padahal, dunia internet menawarkan hal yang praktis dan instan.

Anak-anak muda itu menjadi ceruk pasar yang harus dimanfaatkan oleh para pelaku usaha. Mereka yang masih mempertahankan pola bisnis konvensional, bisa jadi akan tergerus. ”Jika tidak bisa beralih ke dunia Digital Economics, perusahaan harus bekerja sama dengan penyedia jasa digital tersebut. Itu agar tetap bisa bertahan di dunia bisnis era modern,” imbuhnya. (pit/c3/muf)

 

 

 

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia