Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

Sri Kurnia Mahiruni, Angkat Tema Khas Malang lewat Boneka Kaus Kaki

Bakso Jadi Inspirasi Karakter Miss So-So

Jumat, 19 May 2017 11:10

Sri Kurnia Mahiruni, Angkat Tema Khas Malang lewat Boneka Kaus Kaki

PRODUKTIF: Sri Kurnia Mahiruni bisa membuat hingga 60 boneka kaus kaki per bulan. ­ (BAYU EKA NOVANTA/RADAR MALANG)

Sudah hampir tiga tahun ini atau terhitung sejak 2015 lalu, Sri Kurnia Mahiruni menggeluti usaha kerajinan boneka berbahan kaus kaki. Setiap boneka yang dia buat memiliki nama, cerita, dan mengangkat karakter khas Kota Malang.

 

DIAN KRISTIANA

 

Belasan boneka tertata rapi di rak-rak kayu yang menempel pada tembok rumah Sri Kurnia Mahiruni di Perum Oma View Blok G1 No 38, Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang. Sementara puluhan boneka lainnya–yang masih setengah jadi– diletakkan pada beberapa keranjang plastik.

Boneka-boneka itu punya bentuk yang beragam. Ada yang berbentuk sesosok manusia, ada pula bentuk-bentuk hewan seperti jerapah. Sementara warna yang digunakan juga eye catching.

Mulai paduan warna monokrom hitam-putih-abu-abu, pink-biru, hingga hijau-kuning. Semua boneka dibuat dengan rapi dan detail yang membuat orang mungkin tak menyangka bahwa semua itu terbuat dari kaus kaki. Baik itu kaus kaki untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Ya, seluruh boneka yang dibuat oleh Nia–sapaan akrabnya– memang menggunakan kaus kaki sebagai bahan utamanya. Selain itu, dakron (serat-serat yang mengembang) juga digunakan untuk menciptakan kesan tiga dimensi pada wujud boneka.

Beberapa boneka karya Nia ini juga punya nama, karakter, dan ada ceritanya sendiri-sendiri. Ada yang diberi nama Miss Flower, Miss Pia-Pia, Miss So-So, Miss Hijab, Si Boy, hingga Robobo.

Miss So-So misalnya, terinspirasi dari bakso khas Malang. Karena itu, Miss So-So memiliki kepala membulat dengan beberapa aksesori kepala berbentuk bulatan-bulatan kecil mirip bakso. ”Saya berusaha mengangkat apa yang khas dari Kota Malang,” ujar Nia yang membanderol boneka kaus kaki produksinya Rp 150 ribu per buah.

Dalam sebulan, rata-rata Nia membuat dan menjual 60 boneka kaus kaki. Seluruh proses pengerjaan pun dia lakukan sendiri secara handmade.

Boneka-boneka itu tak hanya dijual kepada pembeli di wilayah Malang Raya. Tapi, juga dijual ke berbagai kota di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, hingga Bali. ”Pemesanannya via online,” ujar perempuan kelahiran Salatiga, 34 tahun ini.  

Nia mengaku, dirinya bersyukur dengan apa yang sudah dihasilkan dari usaha boneka kaus kaki berlabel Davayu (Sock Cute) itu. Apalagi, berwirausaha sudah menjadi cita-citanya sejak lama.

Sebelum merintis usaha kerajinan boneka, Nia sempat menjadi wartawan di beberapa media mulai 2005 hingga 2009 silam. Dari profesinya kala itu, Nia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan.

Nah, suatu ketika, Nia mendapatkan tugas untuk wawancara seorang pengusaha sukses. Dari situlah, mulai muncul tekad dalam dirinya bahwa suatu saat nanti dia harus menjadi pengusaha. ”Saya sempat ngomong ke teman sesama jurnalis begini: Kapan ya kita yang diliput, gak melulu kita meliput orang lain,” kata istri Cahyo Nugroho tersebut.

Impian untuk menjadi pengusaha itu mulai dirintis setelah Nia meninggalkan profesinya sebagai jurnalis pada 2009 silam. Tapi, Nia tak langsung menggeluti usaha pembuatan boneka berbahan kaus kaki. ”Awalnya saya bikin boneka berbahan clay (biasanya terbuat dari tepung, bubur kertas, dan juga tanah liat). Bentuknya manusia setinggi 10 sentimeter. Saya belajar dari Facebook,” kata dia.

Usaha kerajinan boneka clay itu bahkan sudah memberinya pemasukan rata-rata Rp 3 juta setiap bulan. Tapi, pada 2015, Nia memutuskan untuk berhenti menggunakan bahan clay.

Sebab, waktu itu, Nia tengah hamil anak keduanya. Dia menyebut, merawat anak sambil membuat kerajinan clay amat merepotkan. ”Bahan clay itu butuh penanganan khusus. Juga harus memerhatikan detail-detailnya,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini.

Dia pun mencari opsi lain agar bisnis yang sudah kadung berkembang itu tak sampai terhenti. Hingga akhirnya, dia menemukan bahan kaus kaki dan dakron.

Karakter bahan clay dengan kaus kaki memang jauh berbeda. Tapi, kaus kaki punya kelebihan yaitu lebih clean. Jadi, tangan Nia dan juga rumahnya tidak lagi belepotan seperti halnya ketika masih membuat kerajinan menggunakan bahan clay. ”Jadi, saya bisa bikin boneka sambil tetap momong anak,” kata ibunda dari Dafa Ghaitsa dan Anandayu Rahajeng Utami tersebut.

Lebih lanjut, Nia menyatakan, usaha kerajinan boneka kaus kaki yang dia jalankan tak hanya melulu soal bisnis. Sebab, dia juga mendapatkan kepuasan batin lewat usahanya itu. ”Saya juga rutin mengisi di blog. Isinya soal karakter-karakter dan cerita di balik pembuatan boneka. Jadi, meski sudah berwirausaha, aktivitas menulis tidak boleh berhenti,” pungkasnya. (*/c2/muf)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia