Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Edukasi

SBM PTN Sempat Diwarnai Protes

Rabu, 17 May 2017 12:00

SBM PTN Sempat Diwarnai Protes

SULIT YA?: Salah satu peserta tes SBM PTN terlihat menutup wajahnya di sela-sela mengerjakan soal, kemarin (16/5). (BAYU EKA NOVANTA/RADAR MALANG)

KOTA MALANG – Tes seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) di tiga perguruan tinggi di Kota Malang, kemarin (16/5), diwarnai adanya protes. Salah satu peserta yang mengikuti tes secara manual atau paper based test (PBT) menyebutkan jika soal telah diambil oleh panitia sebelum waktu mengerjakan habis.

Pada saat SBM PTN, peserta itu mengikuti tes yang diselenggarakan di SMKN 4 Malang. Itu merupakan salah satu lokasi dari peserta tes tulis yang seharusnya digelar di Universitas Negeri Malang (UM). Peserta yang enggan disebutkan namanya itu menyatakan, dia berada di ruang 37 yang dijaga oleh dua pengawas. ”Satu pengawas bilang waktunya kurang sepuluh menit, tapi yang satunya bilang kalau waktu sudah habis. Kemudian bel berbunyi,” ujarnya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Malang, Selasa (16/5)

Dia juga menyampaikan kalau bel sempat berbunyi dua kali. ”Sudah ada bel, tapi belnya salah. Jadi ada bel dua kali,” tuturnya. Alih-alih melontarkan komplain kepada pengawas, dia hanya bisa pasrah karena soal telah diambil. Tidak hanya permasalahan waktu, dia juga mengaku kalau pada saat mengerjakan soal tidak boleh mencoret-coret soal. Padahal, peserta lainnya diperbolehkan.

Menanggapi masalah ini, Ketua Pelaksana SBM PTN UM Dr Ibrohim MSi menyatakan, hal itu mungkin saja terjadi. Bisa jadi pengawas tidak mencocokkan antara jam tangan yang dipakai dengan jam di sekolah tersebut. ”Kalau awal ujian mengacu pada jam di sekolah, untuk pulangnya juga pakai jam di sekolah. Jadi kesalahan ada pada pengawasnya,” kata dia.

Ibrohim menambahkan, ada kemungkinan jika pengawas tersebut melihat jam di tangannya. Dia pun mengungkapkan jika kejadian seperti penarikan soal sebelum waktu ujian selesai tidak mungkin terjadi. Di dalam panduan sudah jelas, begitu bel tanda berakhir (terakhir pukul 11.45), peserta SBM PTN tidak boleh meninggalkan ruangan. Semua soal dan lembar jawaban harus ditarik kembali oleh panitia. ”Kalau diambil sebelum waktunya, saya kira enggak,” katanya.

Dia juga menyampaikan, jika semua pengawas sudah mengetahui peraturan tersebut. Sebelumnya juga telah dilakukan coaching serta pemberian panduan pengawasan SBM PTN. Sehingga apa yang terjadi di SMKN 4 itu, dia yakin karena kesalahpahaman saja.

Untuk diketahui, peserta SBM PTN di Panlok 55 Malang, ada sebanyak 35.823 orang. Mereka mendaftar di Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. Sedangkan total jumlah pengawas sebanyak 3.400 orang.

Humas Panlok 55 Malang Pranatalia Pratami Nugraheny menyatakan, SBM PTN tahun ini berjalan lancar. Panitia tidak menemukan adanya joki dan ujian CBT yang terkendala oleh virus WannaCry.

Namun, kendala masih saja ada meskipun tidak besar. ”Tahun ini aman. Tidak ada joki. Cuma ada fenomena kelelahan dari peserta. Kemungkinan karena mereka dari rumah langsung ke lokasi ujian,” ujarnya.

Selain itu, dari total peserta, ada 1.000 orang lebih yang tidak hadir. Namun, untuk angka pastinya, panitia belum merekapnya. ”Yang jelas tahun ini jumlah yang tidak hadir lebih banyak. Tahun lalu tidak sampai 1.000 orang yang absen,” kata dia.

Bersamaan dengan pelaksanaan SBM PTN kemarin, juga ada registrasi bagi calon mahasiswa baru (camaba) yang lolos lewat jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN). Namun rupanya, banyak calon mahasiswa yang lolos SNM PTN yang tidak daftar ulang.

Di UB misalnya, dari total peserta yang diterima SNM PTN sebanyak 2.966 camaba, yang daftar ulang 2.847 orang. Sedangkan yang tidak registrasi 119 orang. Kemudian di UM dari yang diterima SNM PTN sebanyak 2.268 orang, yang daftar ulang 1.964 camaba, yang tidak daftar ulang ada 304 orang.

Di UIN Malang, dari 782 orang yang lolos SNM PTN, yang daftar ulang 630 camaba dan yang tidak daftar ulang 152 orang. Sehingga dari total 6.061 orang yang diterima di tiga kampus, yang daftar ulang 5.441 orang dan yang tidak daftar ulang 575 camaba.

Achmad Heru, kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama UIN menjelaskan, bagi yang tidak melakukan registrasi administrasi maka dinyatakan gagal. Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi kebijakan dari pemerintah untuk mengubah pola pikir calon mahasiswa baru selama ini. Sebab, mereka mengganggap SNM PTN hanya dijadikan sebagai opsi terakhir ketika mereka tidak diterima lewat jalur SBM PTN. Tentunya, hal ini bisa menimbulkan banyak dampak negatif. Di antaranya slot penerimaan yang seharusnya dimasuki justru diabaikan. Akibatnya, dapat merugikan calon mahasiswa lain. Misal tidak diminati, seharusnya tidak mendaftarkan diri lewat jalur SNM PTN agar slot yang masih tersisa bisa diisi oleh mereka yang benar-benar berminat.

Hal senada juga disampaikan R. J. Herry Soewito, kabag Akademik UM. Dia  menjelaskan, UM akan memberikan sanksi kepada sekolahan yang siswanya diterima SNM PTN, tapi tidak memenuhi registrasi. Sanksinya, UM akan mengurangi kouta peserta yang diterima pada SNM PTN tahun depan. Bahkan, ada kemungkinan SMA asal siswa yang tidak daftar ulang SNM PTN tersebut akan di-backlist. ”Karena masih banyak siswa dari SMA lain yang lebih berminat,” kata dia. (fis/viq/pit/c2/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia