Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

L’luvia, Band SMAN 3 Malang Juarai Festival Band Pelajar Se-Malang Raya

Sempat Berniat Mundur Jelang Audisi

Jumat, 12 May 2017 10:29

L’luvia, Band SMAN 3 Malang Juarai Festival Band Pelajar Se-Malang Raya

(BAYU EKA NOVANTA/RADAR MALANG)

Tak banyak band pelajar di Malang Raya yang percaya diri (pede) tampil membawakan lagu karyanya sendiri. Apa yang dilakukan L’luvia layak diapresiasi. Band beranggotakan enam siswa kelas XI SMAN 3 Malang itu menciptakan lagu berjudul Rona Senja yang membuat mereka dinobatkan sebagai juara I dalam Festival Band Pelajar se-Malang Raya, Rabu malam (10/5).

FAJRUS SHIDDIQ

Saat satu per satu nama pemenang Festival Band Pelajar se-Malang Raya diumumkan, para personel L’luvia tengah berada di backstage. Mereka berbaur dengan personel dari band-band lain, peserta ajang yang dihelat Jawa Pos Radar Malang itu. 

Bahkan, dari enam personel, hanya Rexy Timothy–pemain keyboard– yang mendengar nama L’luvia disebut sebagai juara I dalam Festival Band Pelajar se-Malang Raya. Karena itu, lima personel lain, yaitu Isabela Anjani (vokalis), Rafi Anugrah (gitaris), M. Alif Renaldo (drumer), M. Nouval (saksofon), dan Wahana (bassist) sempat ragu ketika Rexy memberitahukan kabar gembira itu.

Butuh waktu beberapa saat bagi mereka untuk ”sadar”, lalu naik ke panggung untuk menerima penghargaan. Mereka baru tersenyum lepas penuh kelegaan ketika menerima plakat juara I dari Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad.

L’luvia menang berkat penampilan mereka yang dinilai komplet oleh tiga juri: Donny Roy, M. Faiz, dan M. Ichsan. Sedikitnya, ada lima poin yang membuat L’luvia menang. Di antaranya starting poin mulus, persiapan band terlihat matang, ending lagu bagus, harmoni sesuai proporsi, serta performa vokalisnya bagus.

Isabela, sang vokalis, memang menjadi salah satu kelebihan dari band ini. Dia terlihat cukup menonjol. Tak hanya soal kualitas vokal, tapi juga kostum yang dikenakan. Isabela all-out dengan balutan dress warna biru dan cokelat keemasan. 

Dari sisi musikalitas, band yang mengusung aliran musik jazz ini juga berwarna. Salah satunya berkat personel yang memainkan saksofon. Karena itu, mereka terlihat sempurna saat membawakan lagu Mars Radar Malang serta lagu berjudul Rona Senja.

Lagu Rona Senja merupakan lagu yang diciptakan sendiri oleh enam personel L’luvia. ”Lagu ini kami ciptakan tahun lalu. Kami diminta untuk bikin lagu untuk acara pentas seni (pensi) di sekolah. Lagunya berkisah soal alam Indonesia,” ujar Aldo–panggilan akrab M. Alif Renaldo, drumer L’luvia.

Butuh waktu 10 hari bagi L’luvia untuk menyelesaikan lagu tersebut. Mulai dari tahap brainstorming ide hingga membuat aransemennya. ”Untuk bikin lagu itu, kami banyak mendengarkan lagu-lagu bertema alam,” katanya.

Lagu Rona Senja dibawakan dua kali oleh L’luvia dalam Festival Band Pelajar se-Malang Raya. Yang pertama, pada tahap seleksi di SMK Negeri 1 Kepanjen, 29 April lalu. Kedua, dinyanyikan pada tahap grand final di gedung Graha Cakrawala UM, Rabu malam (10/5).

Isabela, vokalis L’luvia, mengaku, bandnya sempat ragu untuk ikut Festival Band Pelajar se-Malang Raya yang digelar Jawa Pos Radar Malang. Apalagi, agenda seleksi Zona A di SMKN 12 Malang, 22 April lalu, bebarengan dengan agenda sekolah. ”Kami sempat mau mundur. Tapi kami pikir ulang, hingga akhirnya memilih ikut audisi Zona B (di SMKN 1 Kepanjen, 29 April),” kata Ica–sapaan akrab Isabela.

Bahkan, saat tahap seleksi berlangsung, nyali mereka sempat ciut. Sebab, L’luvia yang waktu itu mendapatkan nomor urut 15 pun melihat penampilan band-band lain sebelum mereka show. Beberapa band di antaranya bermain begitu menonjol.

Sebut saja, Fabuleux, band SMAN 8 Malang, yang tampil pada urutan kedua di Zona B. Fabuleux seperti diketahui, juga menjadi satu dari tiga band dari Zona B yang berhak melaju ke babak grand final. Di samping L’luvia dan Goo Best (SMKN 1 Turen).

Karena itu, L’luvia sejak awal mengusung semangat nothing to lose. ”Saya cuma bilang, pokoknya kita fokus saja. Band lain biarin tampil bagus seperti apa pun juga,” kata Rafi–gitaris L’luvia.

Nothing to lose bukan berarti mereka asal-asalan. L’luvia all-out dalam mempersiapkan diri. Terutama setelah mereka dinyatakan sebagai salah satu finalis yang berhak tampil di panggung yang sama dengan Sheila On 7. ”Kami siang-malam mikirin perform-nya harus seperti apa,” kata M. Nouval, pemain saksofon L’luvia.

Sejak seleksi Zona B, 29 April lalu hingga grand final 10 Mei, L’luvia punya waktu sekitar 10 hari untuk mempersiapkan diri. ”Selain latihan, kami sering makan dan ngopi bareng. Bahkan, pernah dua hari gak latihan, tapi ngopi dan makan bareng demi mendapatkan ide untuk perform,” ujar Nouval.

Untung, kata Nouval, masing-masing orang tua personel band ini mendukung mereka untuk meraih prestasi di dunia musik. Bahkan, meski harus berlatih sedari pagi hingga petang pun, orang tua bisa memahaminya. ”Saya bilang ke ortu kalau latihan di rumah Aldo gitu, udah gak dicariin lagi,” kata Nouval, lalu nyengir.

Meski sudah melakukan persiapan sedemikian rupa, rasa nervous sempat menghinggapi personel L’luvia. Untuk menghilangkan nervous, peran Rexy yang dikenal jahil pun amat diperlukan. ”Saya injak dulu kaki mereka (personel L’luvia lain) sebelum naik panggung,” kata Rexy, lalu tertawa.

Setelah menjadi yang terbaik dalam Festival Band Pelajar se-Malang Raya, L’luvia tak ingin muluk-muluk dulu berbicara soal masa depan di dunia musik. Apakah itu ikut ajang yang lebih tinggi ataukah masuk ke dapur rekaman. ”Terdekat, kami mempersiapkan tampil dalam acara ulang tahun sekolah pada 30 September mendatang,” pungkasnya.  (*/c2/muf)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia