Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

M. Iwan Wahyudi, Guru PKn SMK Diponegoro Tumpang Terpilih untuk Studi di Amerika Serikat

Kenalkan Topeng Malangan, Dapat Undangan Khusus dari Wali Kota Phoenix

Selasa, 09 May 2017 10:21

M. Iwan Wahyudi, Guru PKn SMK Diponegoro Tumpang Terpilih untuk Studi di Amerika Serikat

WAKIL INDONESIA: M. Iwan Wahyudi (tiga dari kanan) bersama para temannya di Amerika Serikat. (M. IWAN WAHYUDI FOR RADAR MALANG)

Muhammad Iwan Wahyudi termasuk guru istimewa di Kabupaten Malang. Sebab, dia berhasil lolos dalam program International Leaders in Education Program (ILEP). Di Indonesia, hanya ada 5 guru yang terpilih dan berangkat untuk studi ke Amerika Serikat (AS).

WARTAWAN: FAJRUS SHIDDIQ

Muhammad Iwan Wahyudi, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Diponegoro, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, itu masih berada di Amerika Serikat saat diwawancarai koran ini pada Minggu lalu (7/5). Melalui WhatsApp (WA) dan e-mail, dia menceritakan pengalamannya hingga bisa terbang ke Amerika Serikat untuk menempuh studi secara gratis.

Dia menyatakan, dari 275 guru yang menjadi peserta International Leaders in Education Program (ILEP), 5 guru terpilih termasuk Iwan berangkat ke Amerika Serikat (AS) pada 4 Januari 2017. Untuk diketahui, ILEP merupakan salah satu program beasiswa Fulbright yang di Indonesia dikelola oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Beasiswa Fulbright lewat AMINEF ini memberikan kesempatan kepada para guru untuk studi di Amerika Serikat selama lima bulan.

Dia menyatakan, untuk bisa lolos program tersebut butuh perjuangan keras. Sebab, dirinya terlebih dulu mendaftar lewat online sejak setahun sebelumnya. Hal itu dia lakukan semata-mata agar lolos seleksi. Kemudian, berbagai persiapan pun dia lakukan. Misalnya, Iwan harus bisa menguasai budaya lokal, bahasa Inggris, dan skill keterampilan. Iwan pun rajin belajar tentang budaya Indonesia, termasuk soal topeng Malangan.

Pria asal Sumberpakis Krajan tersebut terbang ke negeri pimpinan Donald Trump karena terpilih mewakili Indonesia melalui beasiswa pendidikan nongelar selama lima bulan di AS bersama dua guru dari Sulawesi, satu dari Ambon, dan satu guru Kalimantan Barat. Yang mana mereka semua adalah guru bahasa Inggris. Dan Iwan-lah satu-satunya guru PKn. Saat ini, putra pasangan Ponirin-Kastupah tersebut masih menikmati masa menimba ilmu di Amerika Serikat, tepatnya di Arizona State University.

”Saya beberapa kali ke luar negeri untuk bekerja. Tapi, kali ini saya ke luar negeri untuk menimba ilmu,” kata alumnus SDN Sukoanyar 02 tersebut.

Menurut dia, sambil studi di sana, Iwan juga berupaya mengenalkan model pendidikan dan budaya Indonesia. Yang mana, dalam proses pembelajaran tak hanya berbasis kelas, tapi pemanfaatan alam dan juga lingkungan. Serta pendidikan interaktif yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Alumnus SMPN Pakis 01 itu menceritakan pengalamannya selama di AS. Kesehariannya tak lain belajar bagaimana menjadi guru terampil dalam memajukan pendidikan. Namun, Iwan tak lupa menyisipkan model pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat dirinya didapuk menjadi guru tamu di sana.

Di Franklin Police and Fire High School, Mary Fulton Foundation, Ability 360, Herberger Institute, Chinle High School, dan juga Arizona State University, pria kelahiran  9 November 1978                        ini mengenalkan budaya Malang. ”Ini bukanlah tugas (mengenalkan budaya Malang), melainkan misi pribadi saya,” kata alumnus SMAN 01 Tumpang tersebut.

Namun sayang, Iwan hanya membawa dua topeng koleksinya dan gambar kesenian tari Malangan. Maka dengan media yang terbatas itu, dia mengenalkan budaya Malang di sana.

Menurut dia, Amerika Serikat dan banyak negara di dunia ternyata tetap gencar mempertahankan kebudayaan lokal yang dimiliki. Amerika Serikat misalnya, lewat pendidikan, mereka terus mengenalkan suku Navajo (suku asli Amerika). Kata Iwan, seluruh dunia hingga kini terus mempertahankan budaya lokal agar tidak tergerus arus global. Usaha Iwan mungkin tidak sia-sia mengenalkan budaya dan kesenian Malang di sana. Sebab, dari upayanya mengenalkan budaya Malang itulah, sudah banyak temannya dari beberapa negara yang akan berkunjung ke Malang. ”Bahkan, mereka akan bekerja sama di bidang pendidikan,” tukas sarjana Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Hal itu, menurut dia, tak lepas dari usahanya mempromosikan pendidikan model interaktif secara langsung dengan masyarakat. Maksudnya, siswa-siswi dididik untuk mengabdi kepada masyarakat lewat budi luhur. Juga kesetaraan dalam pendidikan dan pendidikan autism. ”Sudah ada kawan dari Ghana dan India yang mau bekerja sama. Kami akan membangun lembaga pendidikan di Pakis,” imbuhnya.

Kerja sama itu, lanjut dia, juga sudah dibicarakan. Mereka akan melestarikan budaya Jawa dan dimulai dengan pendataan serta pemetaan aksara Jawa. Sehingga nantinya huruf aksara Jawa dikenal di dunia internasional. Iwan mengharapkan, Indonesia, khususnya Malang menjadi jujukan budaya internasional.

Iwan juga menyatakan, dia menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia yang diundang Wali Kota Phoenix AS Mayor Greg Stanton dalam acara Mayor’s International Gala Dinner pada 27 April lalu. Saat itu Iwan bersama peserta asal Ghana. Dan Iwan pun mencoba mengenalkan budaya Malang di sana. ”Saya bicara dengan stafnya, kami (Indonesia) punya banyak budaya dan kesenian,” ucapnya waktu itu.

Terkait keseriusannya dalam melestarikan budaya, Iwan mengaku dulu sewaktu mahasiswa dirinya aktif di Sanggar Minat. Bersama teman-temannya, Iwan terus berkarya. Dia melestarikan Ludruk Wijaya Mulya yang dibangun bapaknya pada era 1970-an. Setelah lulus kuliah pada 2002 silam, dia pun mengajar  dan membangun komunitas pemuda ”Gubuk Baca Lentera Negeri” di Pakis. Selain itu, dia juga mendirikan organisasi pencinta alam di sekolah tempatnya mengajar.

Dia bercerita, karena kemampuan mengajarnya dulu terbilang pas-pasan, dia kemudian merantau ke Palembang pada 2006 untuk mencari pengalaman. Kerja kerasnya kemudian membuahkan hasil. Dia mendirikan tempat kursus atau bimbingan belajar (bimbel). ”Di Palembang, dulu saya dipercaya untuk ngelesi anak pelatih Sriwijaya FC Indrayadi,” ujarnya.

Kemudian pada 2013, Iwan kembali ke Malang (SMK Diponegoro). Namun tak lama, Iwan kemudian lolos seleksi belajar di Qatar pada 2014. Iwan sebenarnya merasa aneh karena di sana, dia malah diminta menetap dan ditawari pekerjaan sebagai manajer di sebuah perusahaan. Tujuannya agar nantinya ketika Iwan kembali ke Indonesia, dia bisa mengelola anak cabang perusahaan tersebut yang ada di Indonesia.

Namun, dia memilih pulang kembali ke Malang. Iwan tidak mau menetap di Qatar karena kehidupan dia di sana menurutnya monoton. Saat itu karena kemampuannya masih dipercaya oleh perusahaan di Qatar, Iwan ditunjuk menjadi pimpinan perusahaan penjual mesin laser Blue Lasser Indowell Niaga. ”Seenak-enaknya hidup di luar negeri, tetap enak tinggal di Malang,” tandas suami Nur Rohmah Maulana Sari tersebut.

Saat ini, bapak dua anak tersebut mengaku sudah ditunggu teman-temannya di Pakis untuk melanjutkan merintis sanggar pelestarian budaya. Bersama empat guru lain dari Indonesia, Iwan akan kembali pulang tanggal 18 Mei mendatang. (*/c2/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia