Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

Tjipto Yhuwono, Kepala SDN Lowokwaru 3 Nonaktif di Mata Guru, Tetangga, dan Siswanya

Dikenal Religius, Wajibkan Siswa Baca Asmaul Husna sebelum Jam Belajar Dimulai

Senin, 08 May 2017 07:36

Tjipto Yhuwono, Kepala SDN Lowokwaru 3 Nonaktif di Mata Guru, Tetangga, dan Siswanya

BERI SUPPORT: Dua siswi SDN Lowokwaru 3, Fildza Ikramina (kanan) dan Atifah Fasha saat menjenguk Tjipto Yhuwono, Sabtu lalu (6/5). (DARMONO/RADAR MALANG)

Tjipto Yhuwono, kepala SDN Lowokwaru 3 nonaktif, ini tengah menghadapi ujian yang mungkin paling berat dalam hidupnya. Dia mendapatkan tekanan besar setelah dilaporkan atas dugaan kekerasan terhadap empat siswanya, 25 April lalu. Meski begitu, dukungan terhadap pria 57 tahun ini terus mengalir. Terutama ketika Tjipto dirawat di rumah sakit karena penyakit jantung sejak Selasa lalu (2/5).

WARTAWAN: DAVIQ UMAR AL FARUQ

Lebih dari sepekan ini, pemberitaan soal Tjipto, baik itu di media cetak, media online, bahkan di media sosial lebih banyak mengulas sisi negatifnya. Tjipto, seperti diketahui terbelit kasus dugaan penyetruman terhadap empat siswa SDN Lowokwaru 3.

Kasus itu mencuat setelah ada seorang wali murid yang melapor ke Polres Malang Kota. Namun belakangan diketahui bahwa alat setrum yang digunakan oleh Tjipto adalah alat yang biasa digunakan untuk terapi kesehatan.

Melihat alat setrum tersebut, bisa dikatakan bahwa Tjipto memang tidak punya niat mencelakai anak didiknya. Tujuan Tjipto sebenarnya baik. Dia hanya ingin mengingatkan siswanya yang berbuat gaduh saat salat Duha berjamaah. Niat baik Tjipto itulah yang dipercaya oleh rekan sejawatnya, keluarga, dan juga anak didiknya di SDN Lowokwaru 3.

Kalau Tjipto bukan orang baik, tidak mungkin gelombang penjenguk terus berdatangan ke tempat dia dirawat. Seperti yang terlihat Sabtu lalu (6/5), antara pukul 10.00–11.00. Waktu itu ada 20-an orang yang menjenguk Tjipto.

Di antara para penjenguk itu, ada dua siswi SDN Lowokwaru 3, Fildza Ikramina dan Atifah Fasha. Keduanya datang membawa rangkaian bunga mawar merah. Di dalam rangkaian bunga itu terselip kertas dengan beberapa tulisan.

Salah satunya tertulis begini: ”Untuk Pak Tjip tercinta. Pak Tjip, terima kasih atas semua jasanya. Semoga cepat sembuh, doakan kami bisa meraih nilai tinggi dan SMP yang bagus ya Pak. Sampai jumpa di sekolah lagi ya Pak”.

Lalu, ada juga tulisan ”We always support and love you Pak Tjip. Semoga Pak Tjip cepat sembuh, tetap semangat dan diberi kekuatan. Aamiin. Dari kami yang selalu menyayangimu. Siswa-siswi kelas VI D”.

Fildza dan Atifah bersama-sama masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Tjipto. Keduanya berada di sana selama lima menit.

Ketika keluar dari ruangan, dua gadis kecil itu menangis sesenggukan. Pemandangan itu membuat beberapa guru perempuan mendekat dan langsung memeluk Fildza dan Atifah. ”Tenang, Pak Tjip pasti cepat sembuh,” ujar salah seorang guru berusaha menenangkan Fildza dan Atifah.

Jawa Pos Radar Malang sebenarnya sempat berusaha masuk untuk melihat kondisi Tjipto. Sayangnya, pihak keluarga tidak memperkenankan media untuk masuk. ”Maaf beliau tidak bisa diganggu dan sedang butuh ketenangan. Kalau sudah sembuh, mungkin bisa bertemu,” kata salah seorang keluarga yang enggan namanya dikorankan.

Meski tak bisa bertemu langsung Tjipto hari itu, Radar Malang berusaha untuk menggali informasi terkait siapa sebenarnya sosok yang dinonaktifkan dari jabatannya sebagai kepala SDN Lowokwaru 3 pada Kamis lalu (4/5) itu. Banyaknya orang yang menjenguk memantik rasa penasaran wartawan koran ini.

Seperti disampaikan oleh Denny Yanuar, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Denny pernah menjadi anak didik Tjipto semasa masih bertugas di SMP Negeri 11 Malang. ”Pak Tjip itu dulu wali kelas saya waktu kelas IX SMP. Waktu saya dengar beliau kena kasus itu, jujur saya kaget,” ujar dia.

Dia mengingat Tjipto sebagai sosok yang tegas. Tapi di balik ketegasannya, Tjipto adalah sosok yang ngemong. ”Saya ingat momen saat saya tidak lulus SMP. Beliaulah yang berusaha membesarkan hati saya dan memberi semangat,” kata dia.

Denny mengaku, terakhir dia bertemu dengan Tjipto pada Desember 2016. ”Ternyata, beliau masih ingat dengan saya. Sebagai seorang guru, saya akui beliau itu sangat kompeten,” kata warga Kecamatan Blimbing ini.

Hal sama juga disampaikan seorang wali murid SDN Lowokwaru 3 yang enggan namanya dikorankan. ”Kami menilai Pak Tjip itu sosok yang baik. Beliau itu menerapkan kegiatan-kegiatan Islami di sekolah. Tidak semua sekolah menerapkannya,” ujar dia.

Salah satu kebijakan Tjipto yang diterapkan untuk SDN Lowokwaru 3 adalah mewajibkan siswa-siswinya membaca asmaul husna selama 15 menit sebelum jam belajar dimulai.

Kemudian, pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2016 lalu, Tjipto juga mengajak orang tua siswa untuk ikut upacara pengibaran bendera. Tujuannya, sekolah ingin melibatkan orang tua dalam upaya membentuk karakter siswa-siswi.

Sementara itu, Uning Pontjolastri, rekan Tjipto semasa masih berdinas di SMPN 11 Malang, juga ikut bersuara. ”Waktu dengar kabar itu, saya kasihan dengan Pak Tjip. Ya Allah, kok ya apes Pak Tjip ini. Padahal, niatnya untuk memusatkan konsentrasi siswa-siswi jelang ujian,” kata guru Matematika ini.

Dia menilai, Tjipto merupakan sosok yang disiplin dan tak pernah lelah untuk mengingatkan anak didiknya. ”Jadi, kalau ada orang yang tanya tentang kasus Pak Tjip, saya bisa klarifikasi,” ujar dia.

Tak hanya dikenal baik di sekolah, Tjipto juga menancapkan kesan positif di lingkungan tempat tinggalnya. Ketua RT 03, Kelurahan Purwantoro, Suprianto menilai Tjipto merupakan sosok warga yang aktif.

Sebab, di hampir setiap kegiatan RT maupun RW, Tjipto selalu hadir. ”Ya nyumbang untuk kegiatan warga pun tak pernah putus, seperti acara 17 Agustusan. Pak Tjip juga tidak pernah ada masalah dengan warga di sini (Kelurahan Purwantoro). Makanya, saya kaget waktu lihat pemberitaan soal beliau,” ujar pensiunan pegawai bea dan cukai ini.

Selain dari guru, tetangga, serta siswa, dukungan terhadap Tjipto juga datang dari Wali Kota Malang Moch. Anton. Orang nomor satu di Pemkot Malang itu bahkan mengutarakan dukungannya di depan kepala SD negeri dan swasta se-Kota Malang di SMKN 2 Malang, Jumat lalu (5/5).

”Malaikat tidak bisa salah, setan tidak pernah benar. Tapi, manusia kadang salah dan kadang benar. Untuk itu, kami berharap, bagaimana kita semua saling mengingatkan. Bukan menyalahkan,” ujarnya.

Dukungan demi dukungan itulah yang membuat Tjipto tetap semangat. Meski hingga kemarin (7/5) masih belum bisa ditemui, Tjipto bersedia menjawab pertanyaan yang dikirimkan Radar Malang via SMS.

Terkait masalah yang membelitnya ini, Tjipto tak ingin menyalahkan siapa pun. ”Saya tidak pernah punya dendam kepada siapa saja. Saya sangat sayang kepada anak didik. Saya selalu rindu tawa anak-anak dan senda gurau mereka. Saya selalu mendoakan anak didik saya agar sehat dan sukses. Dan berharap semua masalah segera selesai,” balasan SMS dari Tjipto. (*/c2/muf)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia