Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

Lutfi Pratomo, Pembuat Film Dokumenter yang Karyanya Diapresiasi Lembaga Internasional

Dua Tahun Syuting, Terkenang saat Dikejar Perusahaan Pembabat Hutan

Sabtu, 06 May 2017 19:15

Lutfi Pratomo, Pembuat Film Dokumenter yang Karyanya Diapresiasi Lembaga Internasional

TOTALITAS: Lutfi Pratomo (pegang kamera) saat proses pengambilan gambar di dalam hutan, beberapa waktu lalu. (LUTFI PRATOMO FOR RADAR MALANG)

Sudah 12 tahun atau sejak 2005 silam, Lutfi intens membuat film-film dokumenter. Sebagian besar filmnya mengangkat isu-isu kerusakan lingkungan hingga kondisi sosial masyarakat Indonesia. Bahkan, apresiasi dari masyarakat internasional pun beberapa kali dia peroleh.

WARTAWAN: FISCA TANJUNG K.B.

Kaus oblong, celana pendek, tas ransel, dan tas selempang. Itulah yang biasa dikenakan Lutfi Pratomo setiap hari. Termasuk ketika bertemu dengan wartawan koran ini di Semeru Art Gallery, Rabu malam lalu (3/5).

Melihat penampilannya, Lutfi terlihat seperti anak-anak muda penggemar olahraga petualangan pada umumnya. Pada kenyataannya, memang aktivitas itulah yang dia lakoni.

Tapi, berpetualang bagi Lutfi tak hanya hobi dan sekadar menikmati keindahan alam. Pria berambut gimbal ini juga berkarya dengan memanfaatkan keindahan alam. Mulai dari hutan hingga pantai.

Ya, sudah 12 tahun ini, Lutfi konsisten membuat film-film dokumenter. Kebanyakan, dia membuat film untuk proyek-proyek Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau non-governmental organization (NGO), serta lembaga-lembaga lain. Baik itu nasional maupun internasional.

Beberapa karyanya itu di antaranya film dokumentasi ”Partner for Resilience” untuk Netherland Red Cross atau palang merah Belanda (2015), lalu film dokumentasi ”Adopting Disaster Risk Reduction in Education for Safer School” dari perwakilan UNESCO di Indonesia (2015).

Selain itu, Lutfi juga membuat sejumlah karya yang dia unggah ke YouTube. Di antaranya ada video berjudul Into the Shadow. Video berdurasi sembilan menit itu dibuat sebagai bentuk kritik kepada perusahaan kelapa sawit yang telah mengalihfungsikan hutan mangrove.

Selain itu, Lutfi juga pernah membuat video dokumenter tentang perdagangan manusia (human trafficking), perburuan hewan langka, pekerja seks komersial (PSK), hingga anak-anak pengidap HIV/AIDS.

Yang jelas, tema yang dia angkat itu tak jauh-jauh dari lingkungan dan sosial.  ”Isu-isu menarik saja yang saya ambil. Kalau tidak, ya tak saya ambil,” kata pria yang juga owner ceritadibaliklensa.com.

Kiprah Lutfi di dunia film dokumenter sudah mendapatkan pengakuan luas. Di antaranya dia meraih penghargaan Best International pada Golden Lens Documentary Festival 2013. Ajang itu digelar oleh Erasmus Huis, sebuah pusat kebudayaan Belanda yang ada di Jakarta.

Kemudian, pada 2015 lalu, Lutfi mendapatkan kepercayaan dari Center of International Forestry Research (Cifor) untuk menjadi juri kompetisi film dokumenter. Lutfi menjadi juri bersama dengan sejumlah sinematografer dan juga akademisi/praktisi di bidang lingkungan dari berbagai negara.

Kompetisi bertajuk Think Forests Video Competition itu sendiri merupakan kompetisi video berdurasi 2 menit yang mengangkat tema, mengapa hutan sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Kompetisi itu diikuti oleh 80 peserta dari 29 negara.

Tidak sembarang orang bisa berada di posisi seperti Lutfi. Yang jelas, jalannya cukup panjang sebelum dia akhirnya terjun ke dunia film dokumenter.

Selepas menuntaskan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana, Lutfi bekerja sebagai jurnalis pada sebuah media cetak nasional, 2005 silam. Ketika menjadi jurnalis itulah, Lutfi juga mulai membuat karya film dokumenter.

Bahkan, berbeda dengan karir jurnalistiknya yang hanya bertahan sekitar 1 tahun, kiprah Lutfi sebagai sinematografer masih berlanjut hingga sekarang. ”Saya milih terjun ke dunia film dokumenter, karena lebih berbicara fakta. Dari dulu emang suka dokumenter,” ujar putra dari pasangan Iman Supardi dan Nia Karnia tersebut.

Waktu itu dia sudah memprediksi bahwa dunia visual adalah sebuah masa depan. Itu membuat Lutfi mantap pada pilihannya untuk menyeriusi pembuatan film dokumenter.

Meski disadari oleh Lutfi, atensi masyarakat dalam negeri terhadap karya film dokumenter masih amat kurang. Tapi sebaliknya, apresiasi dari masyarakat internasional cukup besar.

Karena itu, lebih mudah bagi Lutfi menjual film dokumenternya kepada pihak asing. ”Orang luar negeri lebih suka fakta, bukan hoax (berita palsu). Rata-rata lebih suka film dokumenter,” kata dia. Bahkan, karya pertamanya yang mengangkat mengenai orang utan di Kalimantan sempat dibeli oleh perusahaan asing.

Lutfi menjelaskan, dalam setiap pembuatan film dokumenter, dia selalu bekerja bersama timnya. Sementara waktu pengambilan gambar, paling cepat dua minggu. ”Kalau short documentary (film pendek) berdurasi 10 menit, paling membutuhkan waktu 2–3 minggu. Sementara paling lama bisa hingga 2 tahun,” ujarnya.

Film dokumenter dengan proses pengerjaan paling lama adalah ketika dia mengangkat kerusakan hutan di Indonesia. Terutama hutan-hutan di Kalimantan. Saking lamanya proses pembuatannya, dana yang dihabiskan mencapai Rp 300 juta.

Berapa pun dana yang dihabiskan serta seberapa lama waktu yang dibutuhkan, Lutfi puas bila hasilnya mampu mengeksplorasi alam Indonesia.  ”Tidak hanya menghadirkan keindahan, tapi juga menghadirkan cerita di dalamnya,” terang dia.

Ketika mengerjakan film dokumenter, banyak hal dialami oleh Lutfi. Tak melulu kejadian yang menyenangkan, tapi juga momen-momen yang mendebarkan.  ”Seperti dikejar sama orang-orang perusahaan karena ambil gambar tanpa izin. Ya, iyalah, perusahaan itu membabat hutan,” kenangnya.

Kemudian, acap kali Lutfi dan timnya harus berusaha keras meyakinkan masyarakat di mana tempat mereka membuat film. ”Pendekatannya lebih sulit ke masyarakat yang baru kita kenal. Terutama suku-suku pedalaman,” ujar dia.

Tapi apa pun itu, Lutfi berusaha menikmati profesinya ini. Bahkan, Lutfi tak pelit membagi ilmunya kepada orang lain. ”Saya pernah ngasih pelatihan bikin video untuk anak-anak lembaga pemasyarakatan (lapas) sekitar 3–4 hari secara gratis,” pungkasnya. (*/c2/muf)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia