Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Edukasi

Setrum Empat Siswanya, Kasek SDN Lowokwaru 3 Dinonaktifkan

Rabu, 03 May 2017 08:34

Setrum Empat Siswanya, Kasek SDN Lowokwaru 3 Dinonaktifkan

Ilustrasi ()

KOTA MALANG – Posisi Tjipto Yhuwono sebagai Kepala SDN Lowokwaru 3 sedang di ujung tanduk. Ini setelah dia dilaporkan oleh salah satu wali siswa karena telah melakukan terapi dengan cara menyetrum empat siswanya pada Selasa lalu (25/4). Empat siswa kelas VI yang disetrum tersebut adalah RA, MK, MZ, dan MA.

 

Sumber Jawa Pos Radar Malang menyebut, Tjipto Yhuwono sudah dinonaktifkan.  Ini diperkuat saat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Balai Kota Malang, Selasa  (2/5), dia tak hadir.

 

Wali Kota Malang Moch. Anton mengungkapkan, Pemkot Malang pasti memberi sanksi berat pada kasek yang menyetrum siswanya itu jika terbukti bersalah. Namun, untuk sementara, sebelum menjatuhkan sanksi, masih menunggu hasil penyelidikan dari disdik. Sebab, disdik masih meminta keterangan kepada Tjipto terkait tindakannya menyetrum empat siswanya itu. ”Tindakan tersebut jika benar, tentu disayangkan. Tetapi informasi yang kami dapat, itu bukan disetrum seperti yang dibayangkan. Katanya, itu metode untuk kesehatan pola pikir,” ujar Anton di Balai Kota Malang, kemarin.

Kasus ini terungkap saat Ulfa Anita, orang tua RA, mengadukan tindakan Tjipto ke disdik pada Jumat lalu (28/4). Dia awalnya curiga kepada RA yang tiba-tiba mimisan (hidung berdarah). Awalnya RA tidak mengakui telah disetrum kasek. Namun, dia mencari informasi ke sejumlah teman RA.

Betapa kagetnya Anita setelah mendapat informasi jika RA dan tiga teman lainnya usai salat Duha di musala sekolah mendapat terapi setrum dari kaseknya. Alasan terapi itu untuk melatih konsentrasi. Keempat siswa tersebut diminta menginjak alat terapi yang sudah dialiri listrik. Tentu saja, para siswa itu mengeluh kesakitan. Sementara kasek membawa tespen yang ditaruh di dahi para siswa. Jika tespennya menyala, berarti para siswa itu kerap berbohong kepada orang tua.

Nah, setelah mendapat informasi itu, Anita bersama tiga wali murid lainnya mengadu ke sekolah pada Kamis (27/4). Tjipto sendiri yang menemui dan menjelaskan jika yang dilakukan sebenarnya untuk terapi melatih konsentrasi siswa. Namun, para orang tua tetap tidak terima hingga Tjipto membuat surat permintaan maaf karena tidak konfirmasi dulu kepada orang tua siswa. Dalam surat pernyataan bermeterai itu, Tjipto juga berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Tak puas dengan permintaan maaf tertulis dari Tjipto, Anita dan tiga orang tua lain mengadu ke disdik. Hasilnya, disdik telah melakukan mediasi antara Anita dan Tjipto. Namun, lagi-lagi Anita tidak terima dengan mediasi itu hingga akhirnya dia buka suara.

Anton menyatakan, sudah ada pemanggilan dari dinas pendidikan (disdik) kepada Tjipto Yhuwono. Dan hasilnya, terapi setrum itu tujuannya untuk kepentingan kesehatan. Namun, Anton mengaku tidak percaya begitu saja. Untuk memastikan apakah alat terapi berbahan aluminium foil yang tersambung ke kabel listrik itu tepat atau tidak, harus dilakukan penelitian dulu. ”Apa pun kesalahannya, kasek itu tidak koordinasi dengan disdik soal metode yang dilakukan. Hal ini bisa menimbulkan mispersepsi, bahkan membahayakan,” kata pria yang juga ketua DPC PKB Kota Malang ini.

Dia juga menyampaikan, sanksi tegas akan diberikan apabila memang dari hasil penyelidikan yang saat ini masih dilakukan memberi hasil yang berbeda. ”Kami minta pihak yang terkait memeriksa lebih lanjut. Bagaimana hasilnya, nanti dijadikan acuan. Jika terbukti bersalah, tentu ada tindakan tegas,” tuturnya.

Kepala Disdik Kota Malang Zubaidah menambahkan, saat ini pihaknya tengah menghimpun bukti dari permasalahan tersebut. Juga sejauh mana validitas alat yang digunakan sebagai alat terapi kesehatan itu. Pihak disdik juga masih mencari tahu kegunaan alat tersebut untuk pendidikan. ”Kami masih mengevaluasinya. Perlu dilihat apakah memang digunakan untuk mata pelajaran atau tidak,” jelas perempuan asal Jawa Tengah itu.

Zubaidah juga menyampaikan, peristiwa tersebut sebelumnya belum pernah menimpa siswa lain. Terkait alat yang digunakan itu buatan sendiri atau bukan, juga akan dievaluasi. ”Ini masih proses penyelidikan. Kami belum tahu tujuan kepala sekolah melakukan itu,” tambahnya.

***

Di sisi lain, beredar kabar jika hasil dari mediasi itu, ada salah satu orang tua wali murid yang meminta garansi anaknya masuk di SMP favorit. Namun, Zubaidah meluruskan jika yang benar, orang tua siswa yang jadi korban terapi setrum itu khawatir nilai anaknya jeblok. ”Bukan seperti itu (meminta anaknya dimasukkan ke SMP favorit). Ada keluhan dari salah satu wali murid, dia bilang, anakku mau ujian, kalau nilainya jelek (setelah kejadian penyetruman) jaminannya apa? Gitu,” ujar Zubaidah menirukan keluhan tersebut.

Zubaidah menegaskan bahwa saat ini soal kesalahpahaman antara wali murid dengan pihak sekolah telah diselesaikan dengan mediasi dari disdik. Ke depan, pihaknya mewanti-wanti agar sekolah yang akan menerapkan metode pembelajaran khusus diharapkan berkoordinasi dengan disdik. Terlebih jika metode tersebut tidak lazim dilakukan. ”Sudah selesai semuanya, ya ini jadi pelajaran bagi semuanya,” tandas dia.

Sementara itu, wali murid RA, Anita Ulfa, mengaku, bila masalah yang menyangkut anaknya, RA, tersebut sudah selesai. ”Maaf ya. Masalahnya sudah klir. Terima kasih atas bantuan dan dukungannya,” papar dia saat dihubungi via WhatsApp (WA), Selasa  (2/5).

Disinggung seperti apa jalan keluarnya, warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, itu kukuh tidak mau angkat bicara. ”Pokoknya sudah selesai masalahnya. Saya mau konsentrasi sama anak saya dulu karena mau menghadapi ujian,” pungkasnya.

Mengenai kabar soal permintaan agar anaknya masuk SMP favorit ditolak mentah-mentah oleh Anita. ”Nggak ada nego masalah itu. Dari mana kata-kata tersebut,” jelasnya. 

Sedangkan Kepala SDN Lowokwaru 3 Tjipto Yhuwono mengaku masih belum tahu apakah kejadian itu dilaporkan ke polisi secara resmi oleh wali murid atau tidak. ”Tapi, manakala hal ini memang menggelinding ke ranah hukum, kami menyerahkan semuanya ke dinas pendidikan. Saya pun juga legawa jika lantaran karena masalah ini, nantinya saya dimutasi atau dinonaktifkan. Ini saya anggap pelajaran dan bukan suatu hukuman,” imbuhnya.

Keahlian dia dalam terapi ini, diakuinya, belajar dari seorang pensiunan guru SMPN 11 Malang, (alm) Marzuki Wahab. ”Saya mendapatkan ilmu terapi tersebut dari guru saya itu. Saya sangat terilhami semua ilmu dari guru saya,” jelasnya. Pasca peristiwa ini, Tjipto juga mengaku komunikasi dengan orang tua dan siswa tetap terjalin seperti biasa. Pelayanan pendidikan terhadap anak tersebut juga tetap seperti biasa tanpa ada hal yang berbeda dari biasanya.

Disinggung soal kabar dirinya telah dinonaktifkan, Tjipto pun tak menjawab iya maupun tidak. Dia mengungkapkan yang bisa menjelaskan permasalahan tersebut bukanlah dia sendiri. ”Ngapunten (maaf), yang berhak menjawab ya dari dinas. Mohon pengertiannya. Ini saya lagi di dokter,” terangnya singkat. (lil/viq/c2/abm)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia