Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Malang Kota

Chutdroul Yaqin, Kolektor Ribuan Bambu Berbentuk Unik

Jelajahi Hutan, Koleksinya Dihargai Puluhan Juta Rupiah

Selasa, 21 Mar 2017 11:34

Chutdroul Yaqin, Kolektor Ribuan Bambu Berbentuk Unik

NYELENEH: Chutdroul Yaqin menunjukkan bambu-bambu berbentuk unik saat pameran di diler Honda Kartika Sari, Sabtu lalu (4 /3). Seluruh bambu terbentuk secara alami. ( BAYU EKA NOVANTA/RADAR MALANG)

Hobi yang ditekuni Chutdroul Yaqin terbilang nyeleneh. Selama 15 tahun ini, Droul menjelajahi hutan demi mendapatkan bambu-bambu unik bermotif sisik naga hingga spiral.

WARTAWAN: NURLAYLA RATRI

Seperti apa bentuk bambu yang Anda ketahui? Sebagian besar dari Anda barangkali menjawab bambu itu berbentuk silinder yang memanjang. Sementara pada bagian batangnya terdapat ruas-ruas. Jawaban itu tidak salah. Tapi, Anda mungkin tidak tahu bahwa ada bentuk lain dari bambu. Bahkan, ada bentuk-bentuk tertentu yang tidak mudah untuk ditemui.

Bambu-bambu unik itu pernah dipamerkan Chutdroul Yaqin di halaman diler sepeda motor Honda Kartika Sari, Jalan Jaksa Agung Suprapto, 3–5 Maret lalu. Waktu itu, ada ratusan bambu beraneka bentuk yang dia bawa.

Ada bambu yang separo bagian bawahnya terlihat normal, tapi memiliki lima cabang pada bagian atasnya. Lalu, ada bambu yang pada ruas-ruas batangnya memiliki lubang secara alami. Sekilas, bentuk itu mirip dengan kentongan.

Droul menyatakan, hobinya mengumpulkan bambu-bambu unik sudah dimulai sejak 2002 silam. Warga Jalan Menco No 181, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, ini mengaku hampir setiap hari mencari bambu.

Biasanya, dia hunting (mencari) bambu mulai pukul 07.00–16.00. Tempat hunting favoritnya adalah hutan-hutan yang disinyalir menyimpan bambu-bambu unik. Di antaranya hutan-hutan yang berada di lereng pegunungan Pulau Jawa.

Dari hunting itu, Droul bisa mendapatkan puluhan batang bambu unik. Tentu saja, makin hari, rumah Droul makin penuh dengan bambu.

Karena itu, hobi dari pria yang juga dikenal dengan panggilan Droul Deling (deling: pengkaji ilmu bambu) ini sempat dipandang sebelah mata oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya. ”Kamu itu kepala keluarga. Sampai kapan kamu terus-terusan mengoleksi bambu?” kata Droul mengingat kembali ucapan seorang rekannya kepada dirinya beberapa tahun lalu.

Namun, Droul tidak peduli. Dia meyakini, suatu ketika hobinya ini akan mendatangkan keuntungan finansial. Meski selama belasan tahun, tidak banyak penghasilan yang dia peroleh.

Droul baru menemui titik terang ketika bersama Komunitas Bowo Roso Suryo Aji menemui Bupati Malang Rendra Kresna pada Juli 2016. Saat pertemuan itu, seperti yang diceritakan Droul, Rendra menunjukkan sebuah bambu bercabang. Dia menyatakan kalau bambu seperti itu memiliki nilai seni dan kekhasan.

Mengetahui hal itu, seorang anggota Komunitas Bowo Roso Suryo Aji memberitahu Rendra kalau Droul punya lebih banyak bambu unik. Rendra pun meminta Droul untuk membawa bambu-bambu koleksinya.

Droul pun membawa beberapa bambu yang dikoleksi dan menemui Rendra untuk kali kedua. Dalam pertemuan itu, dia membawa bambu sisik naga. ”Bambu itu kemudian menjadi tongkat komando Pak Rendra,” ujar alumnus SMAI Singosari tersebut. 

Dari situlah, Droul makin semangat memperbanyak koleksi bambunya. ”Setelah itu saya bangkit. Saya niatkan mencari bambu unik sebanyak-banyaknya,” kata pria yang mengaku mendapatkan Rp 10 juta dari Rendra untuk biaya hunting bambu unik.

Perlahan tapi pasti, kondisi Droul mulai berubah. Orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata berbalik memberi apresiasi. Bambu-bambu koleksinya juga mulai diburu para kolektor.

Kolektor-kolektor itu berasal dari beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan. Bambu unik yang pernah dia jual kepada kolektor berharga paling murah Rp 1,5 juta hingga puluhan juta rupiah per batang. ”Awal bulan ini (Maret) ada yang terjual Rp 18 juta yaitu bambu songgo langit,” ungkapnya.

Ukuran batang bambunya macam-macam. Mulai dari yang paling kecil berukuran 4 sentimeter hingga paling panjang 2 meter.

Bagi sebagian masyarakat, bambu-bambu unik itu dipercaya memberikan tuah atau bisa menjadi simbol strata sosial. Seperti bambu petel lele (hanya memiliki satu ruas). Bambu ini biasanya diletakkan di pedaringan (tempat menyimpan beras) sebagai simbol kemakmuran.

Lalu, bambu bermotif sisik naga yang diyakini bisa untuk pertahanan diri. ”Boleh percaya, boleh tidak,” ujar suami dari Rini Kusniawatu tersebut.

Bapak tiga anak itu mengaku, hobinya ini tak hanya sekadar menguntungkan, tapi ada semangat mencintai alam. Selain itu, juga untuk melakukan konservasi lewat hobi mengumpulkan bambu.

Sebab, dari pengalamannya selama ini, bambu-bambu unik hanya bisa ditemukan di dalam hutan yang kondisi lingkungannya masih bagus. ”Karena itu, saya berharap pembalakan liar terhadap hutan-hutan di Indonesia bisa dihentikan,” pungkas dia. (*/c2/muf)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia