Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

Kenalkan Karakter Malang di Universitas Tokyo

Senin, 20 Mar 2017 11:12

Kenalkan Karakter Malang di Universitas Tokyo

PASSION: Yuyun Sofiyah saat membuat patung wujud dirinya sendiri, beberapa waktu lalu. (DIAN KRISTIANA/RADAR BATU)

Tak banyak perempuan muda di Malang Raya yang seperti Yuyun Sofiyah Karlina. Di usianya yang masih 25 tahun, dia mengambil pilihan hidup tak biasa: Menjadi seniman patung. Tak sembarang menjadi seniman, Yuyun bahkan pernah mendapatkan kesempatan mengajar di luar negeri.

 

WARTAWAN: DIAN KRISTIANA

 

Keramik beraneka bentuk tertata rapi di sebuah rumah yang beralamat di Jalan Bromo RT 03/RW 10, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu. Mulai dari keramik berbentuk perempuan Jawa yang tengah bersolek hingga piring bergambar cake.

Keramik-keramik yang dipajang di ruangan itu seluruhnya merupakan buah kreasi Yuyun Sofiyah Karlina. Saat ini, Yuyun tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Seni pada Program Studi Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Saat ini bisa dibilang tak banyak anak muda yang mau menekuni kerajinan keramik. Tapi, Yuyun sudah membuktikan bahwa lewat keramik, dia bisa meraih prestasi. Dia juga bisa melihat dunia lebih luas.

Antara 2011–2016 lalu, Yuyun aktif mengikuti pameran. Di antaranya pameran bertajuk Eksposisis yang digelar di Galeri Nasional Jakarta pada 2013 lalu, dan di tahun yang sama dia juga pernah menjadi peserta pameran Vaccum di Bentara Budaya Jogjakarta.

”Tak mudah untuk ikut pameran-pameran seperti itu. Sebelumnya, saya dan seniman lain harus melalui proses kurasi (penilaian). Jadi, barang seni yang mau kami pamerkan harus dilihat, apakah sesuai dengan tema atau tidak. Apakah sudah memenuhi syarat atau tidak,” jelas dia.

Kesempatan langka didapat oleh lajang yang berulang tahun tiap 19 Mei  itu pada 2013 lalu. Yakni saat dia mendapatkan kesempatan untuk studi banding di Tokyo University of Arts, Jepang. ”Saya ditunjuk oleh kampus. Sebelumnya, ada seleksi internal yang digelar di kampus,” ujar dia.

Di Jepang, Yuyun mendapatkan waktu dua hari untuk belajar tentang keramik di Tokyo University of Arts.  ”Saya melihat Jepang pintar dalam menjaga budayanya, terutama kerajinan keramiknya. Mereka benar-benar total,” kata gadis kelahiran 1992 ini.

Satu hal yang membuatnya tertarik yaitu seniman Jepang sangat memerhatikan detail dan hasil akhir karyanya yang halus. ”Mereka juga tak pakai warna yang macam-macam (terlalu banyak warna) pada patung keramik buatannya. Dan keramik hasil karya mereka sulit untuk ditiru,” ujar dia.

Tak hanya sekadar belajar dari para seniman Jepang, Yuyun juga mengenalkan keramik khas Malang kepada mahasiswa Tokyo University of Arts. ”Saya mengajar teknik pembuatan patung tradisional loro-blonyo (pengantin adat Jawa). Ternyata, mereka sangat menghargai budaya kita,” katanya.

Selain itu, di Jepang, Yuyun juga memperkenalkan konsep kit.pot atau kitchen pottery (dapur tembikar). Arah konsepnya lebih ke produk tableware (peralatan makan dan minum), tapi dengan desain yang tidak mainstream. ”Karakter merupakan hal yang penting dalam penciptaan karya. Itulah yang saya kejar,” kata alumnus SMAN 01 Batu ini.

Selalu ada kepuasan yang dirasakan Yuyun tiap kali bergulat dengan keramik. Aktivitas ini sudah intens dia lakukan sejak 2010 lalu atau selepas menyelesaikan studinya di SMAN 01 Batu. ”Waktu SMA, saya tertarik dengan seni menggambar, suka bikin-bikin sketsa. Tapi setelah lulus, saya malah suka membuat keramik,” ujarnya.

Yuyun teringat dengan masa kecilnya, ketika tangannya menyentuh tanah liat dan membentuknya. ”Dulu waktu kecil, ibu sering sekali membelikan malam atau lilin,” ujar dia.

Dari sekian banyak bentuk yang pernah dibuat, Yuyun lebih suka figur manusia. Namun, dalam bentuk surealis dan dekoratif. Di antaranya, Yuyun pernah membuat figur dirinya sendiri, tapi dalam ukuran dan model seperti kurcaci. Lalu, ada pula wujud seorang laki-laki yang duduk di kursi, sementara di sampingnya terdapat gitar klasik.

Soal karakter, Yuyun mengaku masih terus berproses. Dia juga berharap, apa yang dilakukan ini memberi manfaat bagi dunia seni, khususnya untuk keramik di tanah air. ”Saya sedang dalam  penelitian masalah atau fenomena seni yang terkait objek keramik di Indonesia,” kata dia.

Penelitiannya itu didasari fenomena industri keramik di berbagai daerah, tak terkecuali di Malang, yang produksinya kian hari makin susut. Banyak perajin yang memilih gulung tikar, karena tak sanggup bersaing dengan keramik-keramik asal Tiongkok. Harga keramik impor biasanya malah lebih murah.

Tapi bukan hanya soal harga saja yang membuat keramik lokal kalah. Dia menduga, keramik lokal belum memiliki ciri khas yang kuat. Atau mungkin lupa dengan ciri khasnya. ”Karena itu, perlu diteliti lagi terkait industri, budaya, dan seperti apa karakter keramik yang ideal untuk mewakili potensi daerah,” pungkasnya. (*/c2/muf)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia