Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

Tim Mahasiswa UB Juarai Inovasi Teknologi Terbarukan di Harvard University, Amerika Serikat

Bikin Toolbox Dokter Gigi Berbasis Sinar Ultraviolet, Singkirkan 199 Kampus dari 69 Negara

Kamis, 16 Mar 2017 09:44

 Tim Mahasiswa UB Juarai Inovasi Teknologi Terbarukan di Harvard University, Amerika Serikat

Donny (Donny for Jawa Pos Radar Malang )

Inovasi tas dokter canggih (Dental Magic Box) karya tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), menorehkan prestasi internasional dalam Social Venture Challenges on Resolution Project yang diadakan di Harvard University, Amerika Serikat (AS), 10 Februari–2 Maret.

 

WARTAWAN: Kisno Umbar

Kegembiraan terlukis di wajah Donny Ramadhan saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, di kantor Wakil Rektor III UB, Kamis (9/3) lalu. Dia bersama dua orang temannya, Dinda Asri, mahasiswa ilmu politik dan Fathur Rahman Utomo, mahasiswa akuntansi baru saja mengharumkan nama Indonesia pada ajang kompetisi bergengsi tingkat internasional yang diselenggarakan di Harvard University, AS, mulai 10 Februari–2 Maret 2017.

Mahasiswa yang kerap disapa Donny itu menceritakan, inovasi Dental Magic Box (Dentmox) yang dipresentasikan pada Social Venture Challenges on Resolution Project di Harvard University, berhasil masuk dalam kategori juara. Inovasi yang digarap sejak 2016 itu, dapat mengalahkan lebih dari 200 kampus dari 69 negara yang andil dalam kegiatan tersebut. ”Mungkin jumlah yang ikut seleksi lebih dari 200 kampus. Soalnya, 200 kampus itu yang hadir di Harvard,” ujar mahasiswa pendidikan kedokteran gigi tersebut.

Pemuda 21 tahun itu menjelaskan, Dentmox merupakan alat sterilisasi (pembersihan) kedokteran gigi dengan memanfaatkan sinar ultraviolet. Bentuknya sederhana menyerupai laptop dengan ukuran panjang 30 sentimeter, lebar 25 sentimeter dan tingginya 9,5 sentimeter.

Dalam alat tersebut, terdapat beberapa komponen penting. Di antaranya, powerbank bertenaga solar yang menjadi sumber listrik alat itu. Lampu dengan sinar ultraviolet tipe-c ini digunakan untuk sterilisasi. Kemudian, ada tempat untuk alat-alat kedokteran gigi. Serta dilengkapi dengan layar LCD untuk mengetahui suhu dalam Dentmox tersebut.

Menurut calon sarjana kedokteran gigi itu, manfaat inovasinya, alat ini mampu membantu kinerja dokter gigi yang bertugas di daerah terpencil atau tanpa listrik. Biasanya, mereka harus membawa toolbox yang cukup berat, mencapai 10 kilogram. Apalagi, kotak berisi peralatan tersebut tidak dilengkapi dengan alat sterilisasi otomatis. Dampaknya, banyak dokter gigi yang tidak mau melaksanakan tugasnya di pelosok. Sebab, selesai pakai alat, mereka harus membersihkan alat secara terpisah, misalnya di rumah sakit atau puskesmas terdekat. ”Dengan bantuan Dentmox ini, akan sangat membantu,” beber dia.

Selain dapat menyimpan tenaga listrik, kotak tersebut bisa digunakan untuk sterilisasi alat kedokteran gigi secara otomatis dengan memanfaatkan sinar ultraviolet. ”Dengan kotak alat steril yang portable, dokter gigi cukup membawa satu kotak itu. Di dalamnya, sudah ada tempat untuk menyimpan alat-alat kedokteran gigi,” tutur dia. Dengan kemudahan ini, seorang dokter gigi bisa melakukan sterilisasi peralatan dalam perjalanan.

Atas kesuksesan inovasinya, pemuda kelahiran Jakarta itu mendapatkan pendanaan dari Harvard sebesar 3.000 dolar AS atau setara dengan Rp 39 juta untuk dikembangkan lebih lanjut. ”Selama enam bulan ke depan, kami akan dipantau dengan memberikan laporan progres kami ke Harvard,” katanya. Hal ini dimaksudkan agar dapat memberikan manfaat dan harapan akan adanya alat itu bisa terwujud. Khususnya, untuk membantu kinerja dokter gigi.

Donny membeberkan, rencana ke depan, dia akan bekerja sama dengan berbagai pihak di bidang kesehatan. Misalnya, rumah sakit dan dinas kesehatan terkait. ”Jika alat tersebut sudah diproduksi masal, ada yang mengontrol di lapangan juga ketepatan pemanfaatannya,” imbuh dia.

Selanjutnya, alumnus SMAN 8 Kota Tangerang itu mengungkapkan, proses seleksi dalam lomba ini cukup sulit. Sebab, tidak semua peserta bisa langsung hadir di Harvard untuk mengikuti seleksi Social Venture Challenges on Resolution Project yang digelar oleh Harvard University. Tapi, melalui seleksi online sejak November 2016 lalu. ”Semua peserta diminta untuk menulis esai berkaitan dengan project kita, juga tentang potensi diri masing-masing,” terangnya. Dia merasa beruntung karena bisa lolos seleksi bersama dua temanya.

Lolos seleksi ternyata masih belum cukup. Dentmox harus dipresentasikan lagi di Harvard pada 17 Februari, bersaing dengan 199 kampus dari 69 negara lainnya. ”Pada seleksi 17 Februari tersebut, saya sangat bersukur tim saya lolos dalam 16 besar,” kenang dia. Tepat pada 19 Februari, timnya berkesempatan ikut final. Di final ini, inovasinya diumumkan masuk ke nominasi 6 besar.

Menurutnya, saat-saat itulah yang paling mendebarkan. Sebab, Donny merasa kemenangan sudah di depan mata. Apakah dia cukup terpilih nominasi enam besar saja, atau bisa menjadi juara. ”Ternyata, Indonesia masuk juara bersama delegasi dari tiga negara lainnya, Venezuela, Ghana, dan Nigeria,” cerita dia.

Alumus SMP Negeri 1 Kota Tangerang tersebut mengaku, tidak menduga bahwa sejauh ini inovasinya dapat diterima di dunia internasional. Padahal, pada 2016 lalu, Dentmox gagal masuk pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2016 di Institut Pertanian Bandung (IPB). ”Inovasi tersebut berhenti pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti),” tambah dia.

Pada waktu diajukan ke PKM, inovasi Dentmox, lanjut Donny, digarap bersama empat orang temannya. Keempat mahasiswa itu adalah Asrori Arsyad (teknik elektro), Dandhi Tri Laksono (teknik elektro), Faica Amalia Sari dan Hilda Oktaviani (pendidikan kedokteran gigi). Namun, keempat mahasiswa ini tidak berhasil lolos seleksi online untuk mengikuti kompetisi di Harvard itu. ”Saya akhirnya memilih dua teman saya yang lolos pada seleksi tersebut, yaitu Dinda Asri juga Fathur Rohman Utomo,” jelas dia.

Selain mengikuti kompetisi Venture Challenges on Resolution Project, Donny bersama tujuh temannya, termasuk Dinda dan juga Fathur, mengikuti Harvard National Model United Nations ke-63. Lima teman lain di antaranya Sarah Fatihana Rangkuti (ilmu komunikasi), Maya Kirana Putri (akuntansi), Talitha Vania Sahaly (ilmu hukum), Kamka Yanuar Budhi (teknik industri), dan Michael Parasian (hubungan internasional). ”Tapi, untuk Harvard National Model United Nations, kami masih belum berhasil,” tutup dia. (kis/c4/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia