Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Feature

Arek Bantur Sukses Dirikan Studio Animasi

Langganan Juara Anifest Jatim, Pernah Magang di Walt Disney Animation Singapura

Selasa, 14 Mar 2017 08:00

Arek Bantur Sukses Dirikan Studio Animasi

JAGO ANIMASI: Aditya Yustanto saat berada di studio animasi miliknya. (ABDUL AZIZ MAHRIZAL/RADAR MALANG)

Langkah Aditya Yustanto memutuskan untuk berkecimpung di dunia animasi dan mendirikan Mocca Animation Studio, 2013 silam, tergolong sukses. Bermodal awal dua unit komputer, kini arek Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang ini, menorehkan berbagai prestasi dan jadi jujukan ratusan pelajar/mahasiswa magang dari berbagai daerah.

WARTAWAN: ABDUL AZIZ MAHRIZAL

Rabu pekan lalu (8/3) sekitar pukul 16.00, Jawa Pos Radar Malang mendatangi rumah di Jalan Danau Tondano A1 Nomor B24, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, yang tak tampak seperti sebuah kantor produsen animasi. Hanya terpampang spanduk berukuran 3 x 1 meter berlatar warna oranye, bertuliskan ”Mocca Animation Studio”. Begitu masuk, sekitar 25 orang sibuk dengan layar komputer masing-masing. Tak terkecuali Chief Executive Officer (CEO) Mocca Animation Studio Aditya Yustanto. Ya, ruang tengah rumah (berukuran 4 x 5 meter) yang baru dikontraknya 2 bulan itu, disulap bak kantor. ”Ya di tempat sempit ini kami kerjanya, mepet dapur juga. Jika lapar, tinggal masak,” kelakar pemuda 26 tahun itu.

Obrolan lantas berlanjut di ruang tamu. Tampak berjajar rapi belasan trofi di lemari yang juga berfungsi sebagai rak tersebut. Di antaranya 4 trofi juara Animation Festival (Anifest) Jatim yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, berturut-turut, mulai 2013–2016. Selang beberapa detik kemudian, lima anak pamit pulang dan menyalami pemuda kelahiran 16 September 1990 itu. Mereka adalah anak magang dari Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta. ”Memang selain terima order jasa animasi 3D (tiga dimensi), kami juga buka program edukasi untuk magang,” beber sulung dari dua bersaudara pasangan Moch. Ali-Mudrikah ini.

Diploma Game Animasi Universitas Negeri Malang (UM) itu menjelaskan, sekarang, di samping menerima berbagai pesanan animasi dan menggarap karya pribadi, Mocca Animation Studio aktif jadi wadah edukasi terutama bagi pelajar/mahasiswa magang. Total, sebanyak 83 anak magang tersebar dari berbagai daerah. Di antaranya mahasiswa Binus Jakarta dan STMIK Asia Malang, serta siswa SMK dari Semarang, Jogjakarta, Mojokerto, Surabaya, Malang, dan Tulungagung. ”Karena rumah kontrakan yang ini sempit, kami kontrak rumah juga tidak jauh dari sini, yakni di Blok A1 Nomor B19. Di sana khusus anak magang,” urainya.

Tahun lalu saja, dia telah meluluskan sekitar 50 anak magang dan 20 persennya masuk dunia industri animasi ternama. Seperti MD Animation (produsen Adit Sopo Jarwo), Infinite Batam, dan sebagian lainnya direkrut Mocca Animation Studio sendiri. ”Anak magang bayar Rp 100 ribu per bulan, fasilitasnya ya terdiri dari mentor kompeten, kurikulum magang sesuai dengan industri,” jelas pemuda asal Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang itu.

Menurut dia, usaha ini awalnya hanya berbekal 2 komputer yang dibeli di Surabaya dari hasil kerja satu tahun (2011–2012) di Infinite Batam. Pada 2013, Aditya nekat mengontrak sebuah rumah di Jalan Letjen Sutoyo Kota Malang dan mendirikan studio animasi. Waktu itu, dia dibantu 4 orang animator saja, dan salah satunya Eko Purnomo, teman semasa SMA-nya. ”Teman saya ini bahkan tidak tahu soal animasi, tapi nekat saya ajak dan dia keluar dari tempat kerjanya,” kenangnya.

Namun, baru beberapa bulan didirikan, dia sudah menerima 5 anak magang dari SMK di Malang dan Jogjakarta. Pihaknya tidak sekalipun membuka informasi tentang penerimaan magang, tetapi kemungkinan akibat kemenangannya di Anifest 2013. Kemenangannya itu berkat animasi pertamanya berjudul, Jamu Jowo. Animasi itu bercerita tentang tokoh utama Cak Rowi yang melawan debt collector hanya dengan minum jamu dari tukang jamu bernama Sumi. ”Masih teringat waktu awal buka, nama studio saya tulis di dinding rumah kontrakan pakai pulpen, dan anak magang duduk di karpet yang baru kami beli,” kenang dia.

Lantaran sepak terjangnya di dunia pendidikan, alumnus SMA Widya Dharma, Turen ini, juga pernah diundang sebagai pembicara di Komite Ekonomi Industri Nasional bertempat di Hotel Harris Kota Malang, Januari lalu. Saat itu, agendanya diskusi tentang kurikulum pendidikan untuk SMK animasi di hadapan ratusan komite dan guru SMK se-Malang Raya.

Dari penggalian data koran ini, untuk urusan karya dan prestasi, Aditya memang membanggakan. Bahkan kabarnya, nama Malang Raya di dunia animasi juga terangkat oleh sepak terjang Mocca Animation Studi. Itu terbukti lewat karya animasi 3D berjudul Joni Boni Puff yang memenangi Anifest Jatim 2014 dan menjuarai Institut Teknologi Bandung (ITB) Apprentice Awards di kategori best animate short. Torehan prestasi di ITB tersebut yang juga mengantarkannya magang dua minggu di Walt Disney Animation Studio Singapura dan mendapatkan uang pembinaan Rp 70 juta. ”Awal dapat kabar menang ndak menyangka sambil teriak-teriak,” kenangnya.

Belum lama ini, animasi 3D berjudul Fabel Animalia karyanya masuk nominasi Indonesia Short Film Festival 2016. Hanya saja, dia kalah dari yakni Adit dan Sopo Jarwo dalam ajang yang diselenggarakan SCTV tersebut. ”Ya belum beruntung saja,” ujarnya.

Diakui Adit, biaya produksi satu episode animasi tidak murah. Sekali produksi saja, minimal merogoh uang Rp 8 juta untuk durasi 3 menit. Selain itu, juga membutuhkan kru rata-rata 8–20 orang. Terdiri dari desainer, model, animator, penulis naskah, dan editor. ”Untuk servis (pesanan), membutuhkan kru yang banyak karena mengutamakan kualitas, ketepatan waktu, manajemen produksi yang rapi, dan bertanggung jawab,” urainya.

Khusus servis, pihaknya hanya dipesan untuk menganimasikan. Ketika ditanya siapa pemesannya, dia menolak menyebutkan karena masuk dalam perjanjian kontrak. Yang jelas, lanjut Aditya, pemesan jasanya asal luar negeri. Yang boleh disebutkan, salah satunya film animasi tentang sistem imun tubuh di bioskop 3D Museum Tubuh The Bagong, area Jawa Timur Park (JTP) I, Kota Batu. (*/c4/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia