Minggu, 21 Jan 2018
radarmalang
Malang Fashion Movement

Ketangguhan Kaktus Jadi Inspirasi Busana

Senin, 13 Mar 2017 10:52

Ketangguhan Kaktus Jadi Inspirasi Busana

Indahayu Choirunnisa (Darmono/ Jawa Pos Radar Malang)

KOTA MALANG – Seluruh peserta kompetisi young designer di ajang Malang Fashion Movement (MFM) 2017  menyiapkan secara total konsep karya yang akan dipamerkan saat grand show, 23–24 April mendatang. Ide-ide yang dimunculkan pun terbilang menarik.

Seperti konsep yang diusung oleh desainer Indahayu Khairunnisa Rahmawati, gadis kelahiran Klojen, Kota Malang, itu terinspirasi dari tumbuhan kaktus yang sedang berbunga. ”Kaktus mencerminkan ketangguhan, tapi masih tetap menggambarkan sisi feminin dari gambaran bunganya,” kata mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Hayu–sapaan akrab Indahayu Khairunnisa Rahmawati–menyatakan, dia memiliki konsep membuat baju ready-to-wear (siap pakai) yang ramah lingkungan. ”Bahannya dari kain rayon. Kayak katun, tapi adem,” terang perempuan kelahiran 14 Juli 1996 tersebut. Selanjutnya, untuk hiasan pada busananya, Hayu menggunakan bahan alami yang kemudian di-print.

”Istilahnya eco printing. Jadi, dari tumbuhan (kaktus) kemudian ditumbuk di kain, hasilnya seperti printing,” jelasnya. Hayu menerangkan, inspirasinya dari kaktus karena memang melihat dari tema lombanya, yakni futurethical. ”Aku mikirnya kaktus, karena lebih unik dan beda dari tumbuhan lain,” lanjutnya.

Sementara untuk perpaduan warnanya, busana milik Hayu akan lebih dominan pada warna hijau natural dan pink. Pink diambil untuk menggambarkan dari sisi bunganya.

Menurut dia, tahun ini merupakan tahun pertama keikutsertaannya pada ajang MFM 2017. Untuk itu dia ingin tampil total dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia juga menyiapkan bahan-bahan khusus yang akan digunakan untuk merancang busananya. ”Prosesnya agak lama untuk bikin eco printing karena harus mengumpulkan daun, lalu ditumbuk satu per satu ke kain,” terangnya.

Sementara itu, peserta kompetisi yang lain Oktavia Rinda Santi, menyatakan, dia mengusung tema yang mengambil dari motif batik parang Jogjakarta. ”Saya memanfaatkan kain perca dari batik parang sebagai motif pada busana,” kata dia.

Perempuan kelahiran 2 Oktober 1995 itu menerangkan, busana yang akan dia bawakan pada grand show mendatang mempunyai bentuk geometris. ”Lebih ke baju ready-to-wear sih,” lanjutnya.

Busana karya Oktavia memang lebih banyak menggunakan bahan-bahan reuse (penggunaan kembali). Hal itu berkaitan dengan tema dari MFM 2017 sendiri yang tahun ini mengangkat tentang kepedulian lingkungan. (fis/c2/lid)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia