Jumat, 27 Apr 2018
radarmadura
icon featured
Features
Lika-Liku Perjuangan STAIN Pamekasan

Menuju Status Menjadi IAIN Madura

Kamis, 12 Apr 2018 08:05 | editor : Abdul Basri

PROGRESIF: Ketua STAIN Pamekasan Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. ketika ditemui kemarin. Kini STAIN Pamekasan beralih status menjadi IAIN Madura.

PROGRESIF: Ketua STAIN Pamekasan Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. ketika ditemui kemarin. Kini STAIN Pamekasan beralih status menjadi IAIN Madura. (GHINAN SALMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Civitas Akademika STAIN Pamekasan tak menyangka alih status menjadi IAIN Madura datang begitu cepat. Kini, perjuangan selama empat tahun pun terbayar.

Berawal dari informasi Kementerian Agama (Kemenag) RI bahwa ada peluang STAIN menjadi IAIN dan IAIN menjadi UIN. Informasi itu diterima petinggi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan pada 2014.

Peluang tersebut disambut baik untuk mengubah status STAIN menjadi IAIN dengan meminta dukungan tokoh, ulama, dan institusi di Madura. Persiapan lain, seperti menyusun proposal dan presentasi.

Ketua STAIN Pamekasan Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. menyampaikan, pada 2014 lalu pihaknya diundang untuk presentasi di Kemenag. Setelah presentasi dan penyempurnaan, STAIN Pamekasan secara resmi mengusulkan permohonan alih status. Permohonan alih status ke Menteri Agama dilakukan pada 5 Desember 2014. ”Ternyata tidak semudah itu. Butuh waktu empat tahun,” ucap Direktur Pascasarjana STAIN Pamekasan itu.

Setelah itu, Menteri Agama mengirim permohonan alih status ke Menteri PAN-RB pada 16 November 2015. Permohonan alih status itu sempat mandek setahun lebih. Petinggi STAIN Pamekasan kembali menanyakan progres alih status itu. ”Setelah saya tanyakan, pada 9 Maret 2017 Menteri Agama kembali mengajukan permohonan alih status ke Menteri PAN-RB,” cerita Kosim.

Selang beberapa bulan, pada 4 Agustus 2017 Menteri PAN-RB mengirim berkas permohonan kepada presiden untuk mendapat izin prakarsa. Pada 27 Oktober 2017, Sekretariat Negara (Setneg) mengirim surat ke Menteri PAN-RB tentang izin prakarsa. Lalu, Menteri PAN-RB menindaklanjuti ke Menkum HAM tentang permohonan peraturan presiden (perpres) pada 20 Desember 2017.

Kemudian, pada 19 Januari 2018 Menkum HAM menindaklanjuti permohonan Menteri PAN-RB tentang harmonisasi perpres. ”Setelah diproses, Menteri PAN-RB menindaklanjuti ke presiden tentang penyampaian rencana perpres. Itu dilakukan pada 26 Februari 2018,” terang Kosim.

Kemudian, 3 Maret 2018, Setneg meminta agar Menteri PAN-RB mengajukan paraf perpres. Menteri PAN-RB mengajukan penyampaian paraf perpres pada 21 Maret 2018. ”Baru pada 5 April 2018, perpres ditandatangani presiden dan pada 7 April 2018 diundangkan di lembaran negara oleh Menkum HAM. Kami pikir masih dua bulan lagi. Ini mungkin berkat tangan Tuhan,” ucap pria yang sebentar lagi akan dilantik menjadi rektor IAIN Madura itu sambil tertawa.

Dengan demikian, STAIN Pamekasan telah resmi menjadi IAIN Madura. Itu seperti Perpres 28/2018 tentang IAIN Madura dan telah diundangkan dalam lembaran negara Nomor 51 Tahun 2018 pada 7 April 2018 oleh Menkum HAM.

Kosim menyambut baik perubahan alih status STAIN Pamekasan menjadi IAIN Madura. Perubahan dari ”Pamekasan” menjadi ”Madura” menjadi beban bagi Kosim. Beban itu karena dari sisi wilayah, Madura cukup luas.

”Tapi, mengusulkan Pamekasan menjadi Madura bukan sekadar wilayah. Lebih dari itu, Madura sebagai karakter yang religius, kompeten, dan pekerja keras,” jelas Kosim.

Dengan alih status menjadi IAIN Madura, Kosim berkomitmen memajukan sumber daya yang ada. Mulai dari sarana prasarana, perluasan kampus, dan penataan struktur birokrasi dari sekolah tinggi ke institut. Sumber daya manusia (SDM) juga akan ditata lebih baik lagi.

”Untuk dosen, kita sudah punya 31 doktor. Yang sedang kuliah 25 orang. Ke depan, kita dorong agar dari doktor bisa naik ke profesor,” ucap Kosim penuh komitmen.

Karakter orang Madura yang pekerja keras, kompeten, dan religius, akan menjadi moto kampus. Yakni, religius, kompeten, dan kompetitif. Religius adalah roh bagi semua orang Madura. Kompeten bisa diartikan ahli di bidangnya dan siap bersaing. ”Lulusan dari sini tetap membawa karakter sebagai orang Madura yang religius, kompeten, dan pekerja keras,” kata Kosim.

Meski sudah resmi menjadi IAIN Madura, Kosim masih menunggu pelantikan yang bakal dilakukan Menteri Agama. Ada delapan STAIN yang akan dilantik bersama menjadi IAIN di Jakarta.

Delapan STAIN itu adalah Pamekasan, Kediri, Kudus, Papua, Bangka Belitung, Watampone, Curug, dan Pare Pare.Dengan adanya kabar menggembirakan tersebut, seluruh civitas akademika STAIN Pamekasan semakan bersemangat melaksanakan tugasnya masing-masing.

Kosim menceritakan, yang paling berkesan dari peralihan status STAIN menjadi IAIN adalah liku-liku yang dihadapi selama ini. Pihaknya harus berkali-kali menghadap beberapa menteri di Jakarta. ”Prosesnya tidak mudah. Ada suka dan duka di situ. Sukanya, ya banyak bertemu orang-orang penting di Jakarta. Dukanya, ya, payah di jalan karena harus menunggu menteri,” tukas Kosim seraya tertawa.

(mr/ghi/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia