Rabu, 25 Apr 2018
radarmadura
icon featured
Features

Restu Dicegat karena Bahaya, Dapat Hadiah agar Tak Trauma

Jumat, 06 Apr 2018 21:55 | editor : Abdul Basri

PEDULI ANAK: Kasatlantas Polres Sampang AKP Musa Bakhtiar memberikan hadiah kepada dua bocah di Jalan Imam Bonjol, Kampung Tenten, Kelurahan Dalpenang, Sampang, Kamis (5/4).

PEDULI ANAK: Kasatlantas Polres Sampang AKP Musa Bakhtiar memberikan hadiah kepada dua bocah di Jalan Imam Bonjol, Kampung Tenten, Kelurahan Dalpenang, Sampang, Kamis (5/4). (FATHOR RAHMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Amse bingung cucunya tidak cepat pulang sore itu. Biasanya Restu hanya bermain di sekitar rumah. Amse terkejut ketika cucunya datang bersama empat polisi.

Sore itu, lalu lalang kendaraan di Kota Sampang cukup ramai. Begitu juga di sekitar Monumen Trunojoyo. Orang-orang berjalan sesuai keperluan masing-masing.

Ada pemandangan berbeda di sudut barat daya monumen. Di Pos 90B atau dikenal Poslantas Monumen, seorang pengendara dicegat petugas. Sebelumnya dia melaju dari arah utara atau Jalan KH Hasyim Asy’ari.

Kecepatan motor mini yang mereka kendarai sekitar 50 kilometer per jam. Pengendara itu diberhentikan di dekat traffic light.

”Matikan dulu, matikan dulu,” pinta seorang polisi.

”Matikan dulu, Anak. Matikan, Nak. Aduh..,” sambung suara polisi yang lain.

Pengendara itu segera mematikan mesin motor yang dia naiki bersama seorang di belakangnya.

”Pakai helm,” kata orang polisi.

”Yang di belakang tidak,” jawab pengendara itu sambil menunjuk teman yang diboncengnya menggunakan jempol kanan.

”Iya semuanya,” timpal polisi.

”Ini saya pakai,” jawab sambil menunjukkan helm hitam yang baru saja dilepas dari kepalanya.

”Mana ayahnya? Ayahnya mana?”

”Di rumah.”

”Rumahnya sebelah mana, Sayang? Ha?

”Di sebelah sana. Sampang sana tuh,” kata pengendara berkaus Baal Veer itu.

”O, sini yuk. Maem roti dulu yuk. Sini sini. Bawa-bawa (motornya),”

Demikian petikan percakapan polisi lalu lintas (polantas) dengan bocah yang diberhentikan karena tidak mengenakan helm, Rabu sore (4/4). Video tersebut direkam oleh polisi dan menyebar ke media sosial (medsos). Di video tersebut terlihat ada tiga anggota polantas.

Belakangan anak tersebut diketahui bernama Restu Alfarizi Saputra, 4. Saat itu dia mengendarai motor mini membonceng Arkan Zikri Abror, 3. Di akhir percakapan dengan polisi Restu menangis karena takut motornya diambil. Tangis kian menjadi-jadi saat polisi menawarkan untuk mengantar pulang. ”Sepedaku beli lagi, nanti gimana?” katanya. ”Aku gak punya uang,” ucapnya lagi.

Empat polantas dengan empat sepeda motor mengantarkan mereka ke rumah Restu. Tepatnya diJalan Imam Bonjol, Kampung Tenten, Kelurahan Dalpenang, Kota Sampang.

Keesokan harinya, Kamis (5/4),Kasatlantas AKP Musa Bakhtiar mengunjungi rumah dua bocah tersebut. Restu dan Arkandiberi hadiah mobil-mobilan berbentuk kendaraan lalu lintas.

”Kami memberikan pengarahan kepada orang tua agar tidak mengizinkan kembali kedua bocah ini mengendarai motor mini di jalan raya. Selain membahayakan keselamatan, juga melanggar aturan,” katanya.

Dia menemui dua bocah agar tidak trauma. Sehingga, dua bocah tidak takut ketika bertemu polisi kembali. Kedatangannya didampingi sejumlah anggota.

Pada kesempatan itu dia mengimbau orang tua berhati-hati. Anak dibawah umur tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor. Lebih baik mengalihkan pada permainan yang tidak berisiko. ”Kami akan memfasilitasi bakat mereka. Kami akan bekerja sama dengan Ikatan Motor Indonesia (IMI). Bakat Restu Alfarizi Saputra bisa dikembangkan,” ucapnya.

Restumerupakan buah hati pasangan Fahrur Rozi,28, dan Vita Widayanti, 25. Mereka berada di Jakarta sejak beberapa tahun lalu. Bocah tersebut tinggal bersama kakeknya di rumah.

Selama ini dia biasa mengendarai motor mini yang dikirim orang tuanya.

Amse, kakek Restu mengaku hari itu bingung. Sebab, kebiasaan cucunya hanya bermain di sekitar rumah. Namun saat itu cukup lama menghilang dan membuatnya khawatir. ”Saya kira akan segera kembali. Ternyata sampai berjam-jam dan akhirnya diantar polisi,” ungkap pria 60 tahun itu.

Sebelumnya, Amse sudah meminta cucunya tidak boleh ke jalan raya. Namun hari itu bocah tersebut nekat. Dia pun khawatir cucunya tidak bisa pulang. ”Kami akan menjaganya agar tidak main di jalan raya setelah ini,” janjinya.

Cucunya sudah lama tinggal bersamanya. Sejak umur tiga tahun sudah bisa mengendarai motor mini itu. Namun, selama ini paling jauh hanya naik di sekitar jalan sempit atau gang. Karena itu, dia tidak mengira Restu akan berani melintas di jalan raya bersama kendaraan bermotor yang dikemudikan orang dewasa.

Di tempat terpisah, Pembina IMI Sampang Nanang Noviyanto mengaku akan memfasilitasi bakat anak pencinta balapan. Menurut dia, potensi pembalap andal di Kota Bahari banyak. Seperti Robby Sakera yang sukses hingga tingkat internasional.

”Kami berencana menggelar event motor. Kami akan melakukan latihan bersama dengan para calon pembalap di Sampang. Kami akan mendatangkan sejumlah pembalap cilik di Indonesia,” katanya.

(mr/fat/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia