Minggu, 22 Apr 2018
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Pemkab Pamekasan Tak Punya Penerjemah Naskah Kuno

Jumat, 16 Mar 2018 03:53 | editor : Abdul Basri

RESERVASI: Petugas Perpustakaan Nasional memberi tisu jepang pada bagian pinggir naskah kuno di Ponpes Az Zubair Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, kemarin.

RESERVASI: Petugas Perpustakaan Nasional memberi tisu jepang pada bagian pinggir naskah kuno di Ponpes Az Zubair Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Ratusan naskah kuno dalam bentuk lontar dan kitab berada di Pamekasan. Naskah warisan budaya itu belum terinventarisasi dengan baik. Pemerintah didesak mengumpulkan naskah itu.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Mohammad Sahur mengatakan, naskah kuno merupakan warisan budaya. Banyak ilmuwan masa lalu mencatatkan ilmunya dalam bentuk naskah. Naskah tersebut diyakini banyak beredar di Kota Gerbang Salam.

Indikasinya, di Ponpes Az Zubair Sumber Anyar saja berhasil dikumpulkan 520 judul naskah. Pesantren lain dan tokoh juga diyakini memiliki naskah serupa. Dengan demikian, pemerintah daerah diminta aktif mencari. Kemudian dirawat, agar tidak rusak dan dapat dipelajari. ”Harus dilakukan inventarisasi,” katanya Kamis (15/3).

Menurut Sahur, dahulu Pamekasan merupakan kawasan kerajaan. Diyakini banyak peninggalan ilmu berbentuk naskah. Ilmu yang terkandung di dalamnya belum tentu dipelajari pada masa sekarang.

Pemerintah daerah penting memburu keberadaan naskah tersebut untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Naskah kuno juga bisa menjadi daya tarik wisata budaya. Sebab, tidak banyak daerah yang memiliki warisan budaya berbentuk naskah itu.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan Budi Ashari mengatakan, pengumpulan naskah kuno sudah dilakukan. Hasilnya, ditemukan satu naskah berbentuk lontar. Sampai sekarang naskah tersebut belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan tidak memiliki tenaga penerjemah. Akibatnya, harus dibawa ke Perpustakaan Nasional. Beberapa kendala dihadapi dalam pengumpulan naskah. Di antaranya, tidak semua pemilik naskah berkenan menyerahkan kepada pemerintah. Sebagian ada yang memilih dikoleksi sendiri.

Kemudian, sumber daya manusia (SDM) terbatas. Pemburu naskah kuno itu harus memiliki keahlian. Meski demikian, upaya pengumpulan naskah tetap dilakukan secara maksimal. ”Kalau di Perpustakaan Nasional, banyak tenaganya. Banyak ahli-ahli yang bisa menerjemahkan naskah kuno itu,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia