Senin, 23 Apr 2018
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Pengelolaan Pasar Tradisional Amburadul

Rabu, 14 Mar 2018 11:59 | editor : Abdul Basri

CARI SOLUSI: Anggota Komisi II DPRD Pamekasan meninjau Pasar 17 Agustus Selasa (13/3).

CARI SOLUSI: Anggota Komisi II DPRD Pamekasan meninjau Pasar 17 Agustus Selasa (13/3). (HARUN SUYITNO FOR Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Pengelolaan pasar tradisional diharapkan lebih maksimal. Sejauh ini masih banyak kondisi pasar semrawut. Salah satu tawaran solusi, pasar tersebut dikelola badan usaha milik desa (BUMDes).

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, pasar tradisional sangat berpotensi meningkatkan perekonomian. Tetapi, sejauh ini manfaat itu belum terasa secara maksimal. Pemerintah daerah tidak mampu menangani pasar secara terpusat. Anggaran yang dimiliki juga terbatas dibanding kebutuhan yang sangat banyak. ”Kami melihat pengelolaan pasar butuh inovasi,” katanya Selasa (13/3).

Salah satu tawaran dewan agar pengelolaan pasar lebih efektif yakni diserahkan kepada desa. Mengingat, salah satu fungsi dana desa (DD) untuk peningkatan perekonomian masyarakat dengan cara pemberdayaan. DD bisa digunakan untuk mengelola pasar.

Dewan mengusulkan agar pasar tradisional di desa bisa dikelola BUMDes. ”Desa sudah mengelola dana sendiri, bisa dimanfaatkan untuk mengelola pasar,” katanya. Beberapa pasar dikelola BUMDes antara lain Pasar Panempan, Kecamatan Kota. Kemudian, Pasar Pegantenan. 

”Akan segera kami bicarakan dengan eksekutif,” katanya. ”Pasar dikelola BUMDes saya kira solusi baik untuk mengatasi pengelolaan pasar yang kurang maksimal,” katanya.

Sebelumnya, Kepala DPMD Pamekasan Ach. Faisol mengatakan, penataan BUMDes akan dimulai pada 2018. Badan usaha itu menjadi induk berbagai jenis usaha desa. Salah satunya, bisa mengelola pasar. Tetapi, tidak semua desa memiliki pasar. Jika harus membangun dari nol, juga akan sulit. ”Kami melakukan penataan,” tandas pria berbadan kekar itu.

Komisi II DPRD Pamekasan Selasa (13/3) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar 17 Agustus. Penataan dan pengelolaan pasar disebut tidak tertib dan amburadul. Kondisi di dalam pasar sepi, sementara pedagang pasar meluber di luar kawasan pasar.

Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan Iskandar mengatakan, semestinya kondisi pasar itu bersih. Pasar-pasar tradisional di Kota Gerbang Salam juga memiliki masalah serupa. Dia menuding, pengelolaan pasar yang dikelola pemkab tidak bagus. 

Pihaknya meminta disperindag mengevaluasi kepala pasar dengan memberikan reward dan punishment. ”Kalau pengelola pasar itu kreatif, timbunan sampah tidak sampai terlihat,” ucap Iskandar.

Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto belum berhasil dikonfirmasi guna klarifikasi pengelolaan pasar itu.

(mr/pen/ghi/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia