Minggu, 18 Feb 2018
radarmadura
icon featured
Sampang

Mendikbud Bertekad Bangun SMK Garam di Madura

Selasa, 13 Feb 2018 00:23 | editor : Abdul Basri

MOTIVASI: Mendikbud Muhadjir Effendy foto bersama kru Jawa Pos Radar Madura serta Kapolres Sampang, dan Dandim Sampang, dan Kadisdik Sampang, Senin (12/2).

MOTIVASI: Mendikbud Muhadjir Effendy foto bersama kru Jawa Pos Radar Madura serta Kapolres Sampang, dan Dandim Sampang, dan Kadisdik Sampang, Senin (12/2). (A. YUSRON FARISANDY/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Madura memiliki potensi besar berupa garam. Namun, persoalan kristal putih tersebut terus terjadi. Mulai masalah tata niaga hingga impor yang mencemaskan petani lokal.

Potensi besar tersebut hingga saat ini belum tergarap secara serius oleh pemangku kebijakan di bidang pendidikan. Belum ada sekolah menengah kejuruan yang fokus pada garam.

Hal itu yang menjadi salah satu perbincangan Mendikbud Muhadjir Effendy di kantor Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Sampang Senin (12/2). Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu ingin ada sekolah khusus yang mempelajari dan mengembangkan garam. Menurut dia, bisa dibangun sekolah menengah kejuruan (SMK) kelautan. Namun, jurusannya nanti khusus tentang garam.

Mendikbud Muhadjir Effendy

Mendikbud Muhadjir Effendy (A. YUSRON FARISANDY/Radar Madura/JawaPos.com)

Bahkan, pria kelahiran 29 Juli 1956 tersebut sangat yakin sekolah itu bisa segera dibangun. Karena itu, kepada Kepala Cabang Disdik Jatim Wilayah Sampang Asy’ari, dia meminta segera menyusun proposal. Asy’ari segera menyanggupi permitaan menteri tersebut. ”Jika lahannya siap, bisa kita bangun tahun ini,” katanya yakin.

Mendikbud yang menggantikan Anies Baswedan sejak 27 Juli 2016 itu menerangkan, nantinya siswa di SMK kelautan itu akan mempelajari segala sesuatu terkait garam. Mulai persiapan, produksi, masa panen, hingga pengolahan.

Pihaknya juga bertekad akan menyiapkan sumber daya manusia (SDM). Jika diperlukan, kata Muhadjir, tenaga pendidiknya dapat disekolahkan dulu ke luar negeri. ”Sekolah bisa di lahan pegaraman,” tambahnya.

”Kami sudah sampaikan untuk mencari lahan khusus. Sehingga sekolah garam segera terealisasi. Siswa langsung diajarkan mulai cara budi daya hingga mampu mengembangkan potensi garam,” paparnya.

Kunjungan ke kantor JPRM itu merupakan salah satu agenda Mendikbud ke Kota Bahari. Kali pertama dia memimpin upacara di SMAN 1 Torjun, Sampang. Di depan guru dan ratusan siswa dia menekankan pentingnya pendidikan karakter. Sebab, sebelumnya terjadi kasus yang mendapatkan perhatian publik.

Yakni, dugaan penganiayaan siswa hingga mengakibatkan guru meninggal dunia. Dia juga mengajak hadirin berdoa untuk almarhum guru seni SMAN 1 Torjun Achmad Budi Cahyanto. ”Tidak ada istilah mantan guru. Kita tetap selalu mendoakannya,” ucap Muhadjir.

Dari SMAN 1 Torjun dia bergeser ke Pondok Pesantren Darussalam, Torjun, rumah duka Achmad Budi Cahyanto, SMPN 1 Sampang, dan memberikan pengarahan kepada ratusan guru di Gedung PKPN. ”Kami sengaja datang ke sini dalam rangka penguatan (pendidikan) karakter siswa,” ucapnya.

Dia berhadap kasus dengan tersangka siswa berinisial HZF itu tidak memengaruhi kondisivitas pendidikan. Muhadjir mengajak siswa tetap semangat belajar cita-cita. ”Kami imbau masalah ini jangan sampai digeneralisir. Ini adalah kasus kasuistik. Sehingga tidak perlu ada yang memanasi. Tapi, saya berharap kasus ini ditindak seadil-adilnya. Namun, tetap dengan asas praduga tak bersalah,” ucapnya.

Kepala Disdik Sampang H.M. Jupri Riyadi mengapresiasi kedatangan Mendikbud. Pihaknya mendukung penguatan pendidikan karakter siswa dan guru. Pihaknya mendukung dan menindaklanjuti sejumlah rencana yang disampaikan orang nomor satu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu.

”Kami sangat mendukung rencana pemerintah pusat seperti yang disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy. Salah satunya, sekolah garam yang direncanakan direalisasikan di Sampang,” ucapnya.

(mr/fat/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia