Sabtu, 24 Feb 2018
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Belasan Siswa Belum Tinggalkan Puskesmas Kadur

Selasa, 13 Feb 2018 00:19 | editor : Abdul Basri

PERHATIAN: Kepala Dinkes Jatim Kohar Hari Santoso (putih) memantau kondisi kesehatan siswa yang dirawat di Puskesmas Kadur Minggu malam (11/2).

PERHATIAN: Kepala Dinkes Jatim Kohar Hari Santoso (putih) memantau kondisi kesehatan siswa yang dirawat di Puskesmas Kadur Minggu malam (11/2). (MOH. ALI MUHSIN/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Jumlah siswa yang mengalami efek buruk akibat diimunisasi terus bertambah. Senin (12/2) ada tujuh siswa yang panas dan muntah-muntah setelah diimunisasi. Mereka berasal dari lembaga Al Husen, Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Tujuh siswa itu mengalami demam pasca diimunisasi pada Kamis (8/2). Mereka terpaksa dilarikan ke puskesmas karena kondisinya tidak membaik. ”Mereka muntah, pusing, dan mual. Mereka dibawa pulang ke rumahnya oleh orang tuanya. Karena tidak membaik, lalu dilarikan ke puskesmas,” kata Esa, warga Kecamatan Kadur.

Dari tujuh santri itu, lanjut Esa, sebagian sudah ada yang diperkenankan pulang. Namun, sebagian masih harus dirawat di puskesmas. ”Yang jelas, mereka sakit pasca disuntik imunisasi,” terangnya.

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Syamsuri akan mempertanyakan masalah tersebut kepada dinas kesehatan (dinkes). Politikus PKB itu curiga, puluhan santri muntah-muntah setelah diimunisasi, bukan karena faktor psikologis. ”Saya khawatir vaksinnya bermasalah, bukan karena faktor psikologis. Masak puluhan santri itu takut semua?” ucapnya.

Kepala Dinkes Jatim Kohar Hari Santoso Minggu malam (1/1) turun ke Pamekasan. Dia memantau, kondisi kesehatan puluhan siswa yang sedang dirawat di puskesmas. ”Melihat kondisinya sudah baik. Tekanan darah baik, nadi baik, dan napasnya baik. Pusing dan mual sudah mulai menurun,” terangnya.

Kohar memastikan, kondisi vaksin yang digunakan dalam kondisi baik. Sebab, vaksin yang digunakan baru diambil pada Jumat (9/2) atau sehari sebelum disuntikkan. ”Tidak ada yang kedaluwarsa. Indikatornya bagus. Secara umum bahannya bagus semua. Penyebabnya, ada suatu reaksi kejiwaan yang menjadi ketakutan yang berlebihan,” terangnya.

Kendati demikian, dia mewanti-wanti petugas agar hati-hati ketika akan melakukan imunisasi. Kondisi anak harus dalam keadaan sehat. Misalnya, tidak dalam keadaan sakit atau flu ringan, sudah sarapan, dan tidak capek atau lelah.

Dia menjelaskan, sasaran pelaksanaan outbreak response immunization (ORI) di Jatim untuk umur 1–19 tahun berjumlah 10 juta lebih. Di Pamekasan sekitar 300 ribuan. Capaian program tersebut masih sekitar 18 persen. ”Kejadian ini diharapkan tidak mengakibatkan masyarakat gelisah. Apalagi menolak untuk diimunisasi. Sebab, imunisasi ini memiliki manfaat agar tidak terserang difteri,” tegasnya.

Kepala Dinkes Pamekasan Ismail Bey menjelaskan, dari 80 siswa yang dirawat, sudah banyak yang diperbolehkan pulang. Siswa yang masih di puskesmas hanya sekitar 15 orang. ”Mereka yang sempat dibawa ke RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo juga telah dibawa pulang. Sudah banyak yang sehat setelah kami atasi,” terangnya.

Berkenaan dengan tambahan siswa yang dibawa ke puskesmas, Ismail Bey juga mengaku heran. Dia malah mempertanyakan apakah mereka sakit faktor imunisasi atau tidak. Menurut dia, hanya ada satu tambahan pasien dari jumlah awal yang dibawa ke puskesmas.

”Tergantung daya tahan tubuh dan itu pun saya tidak habis pikir. Sebab, imunisasinya sudah Kamis lalu. Kalau ada efek, biasanya satu jam setelah imunisasi. Ini sudah lebih dari 24 jam,” terangnya.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia