Sabtu, 24 Feb 2018
radarmadura
icon featured
Features

Achmad Budi Cahyanto Sempat Bercanda tentang Kematian

Minggu, 11 Feb 2018 17:28 | editor : Abdul Basri

EMOSIONAL: Vokalis Sendja Djiwa Fajar Setya Kurniadi menyanyikan lagu Kesenyapan di Taman Wijaya Kusuma, Sampang, Jumat malam (9/2).

EMOSIONAL: Vokalis Sendja Djiwa Fajar Setya Kurniadi menyanyikan lagu Kesenyapan di Taman Wijaya Kusuma, Sampang, Jumat malam (9/2). (GHINAN SALMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Hujan deras mengguyur Kota Bahari Jumat (9/2) siang hingga malam. Namun, terpaan hujan itu tak membuyarkan semangat sejumlah grup musik indie. Mereka tergabung dalam Isme. Mereka tetap menggelar konser musik mengenang Achmad Budi Cahyanto (ABC). Parade musik itu baru digelar di atas pukul 20.00.

Meski acara itu sederhana, setting panggung tetap terkesan mewah. Mereka tidak mau mengeksploitasi nama Budi untuk meminta dana dari swasta maupun pemerintah. Konser itu dapat digelar karena sumbangan anggota Isme dan donatur yang peduli serta menginginkan konser musik tersebut bisa digelar.

Pemusik asal Sampang Fajar Setya Kurniadi merasakan betul bagaimana kehilangan sosok Budi. Sebab, Budi ikut andil dalam pembuatan tiga single lagu Sendja Djiwa. Yakni, Kesenyapan, Garis, dan Lara. ”Kami sangat respek dan perhatian kepada almarhum Budi. Karena dia adalah bagian dari anggota Isme,” ucap Fajar kepada Jawa Pos Radar Madura Sabtu (10/2).

Menurut dia, anggota Isme memang berkonsentrasi terhadap karya seni murni. Isme menciptakan lagu sendiri dan tidak menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan orang lain. ”Sebenarnya konser musik ini akan digelar tepat saat almarhum meninggal. Cuma, kami pikir tidak etis ketika kita tidak ikut tahlil,” ucapnya.

Selain itu, menghindari upaya untuk terlalu mengeksploitasi atau menjual nama Budi demi kepentingan yang macam-macam. Konser mengenang ABC ini sengaja tanpa sponsor. Hanya menerima donatur yang tidak disebutkan namanya. ”Tapi untuk instansi memang kita menolak. Karena ideologi kami juga menghindari itu. Jadi kita menghindari upaya eksploitasi,” jelasnya.

Saat konser musik berlangsung, semua anggota Isme membawakan karya masing-masing di atas panggung. Sebelas grup musik yang tampil membawakan lagu ciptaan sendiri. ”Konser musik ini memang kami khususkan untuk mengenang sosok Achmad Budi Cahyanto yang lebih dulu meninggalkan kami,” katanya.

Fajar terlihat emosional saat membawakan Kesenyapan. Tanpa sadar dia meneteskan air mata karena teringat dengan sosok Budi. Dia mengaku, Sendja Djiwa baru sekitar satu bulan dibentuk. ”Personelnya, saya sebagai vokalis, Doni di gitar, dan almarhum Budi sebagai penggesek biola. Meski kami saling kenal lama, kami baru membentuk grup musik karena ingin membuat karya sendiri,” katanya.

Kesenyapan dibuat 29 Desember 2017. Proses rekaman pada 1 Januari 2018. Saat itu, Budi menyampaikan bahwa dia tidak bisa bergabung terlalu lama. ”Budi bilang kalau dia harus pulang jam 10 malam ke Jrengik karena rumahnya jauh. Ternyata, Budi juga pulang ke rumah Allah pada 1 Februari 2018 jam 10 malam. Ini seperti isyarat atau tanda,” kenangnya.

Tiga single lagu memang mengisahkan tentang kematian. Garis seperti melihat nasib seseorang. Lara hendak mengeksplorasi tentang kehilangan. Ketiga lagu tersebut menjadi karya terakhir Fajar bersama Budi.

”Kebetulan di tiga lagu itu, saya bikin liriknya. Budi yang mengisi biolanya. Saat proses rekaman, almarhum sangat menikmati sekali. Itu tidak biasa. Seumur-umur kita berteman lama, baru saat itu kita konsen membuat lagu sendiri,” ceritanya.

Sebelum membuat lagu, kata Fajar, Budi memintanya membuat lagu yang menceritakan sesuatu yang belum pernah dialami. Lalu, Fajar menawarkan untuk membuat lagu-lagu kematian. Fajar merasakan dan berusaha mengeksplorasi bagaimana rasanya mati itu.

”Sampai kita bercanda di gedung kesenian. Bagaimana ya kalau salah satu dari kita mati setelah menciptakan lagu ini. Itu beneran dan pada waktu itu kita ngobrol bertiga,” jelasnya.

Respons Budi dan Deni saat itu biasa saja. Mereka tertawa lepas. Saat konser musik, Fajar mengakui tidak bisa maksimal karena teringat sosok Budi. Dia tidak bisa menahan emosi. ”Tiga lagu ini tanda atau isyarat bahwa salah satu personel kami telah dipanggil pemilik semesta alam.” 

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia