Sabtu, 24 Feb 2018
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Jalan Berliku Bisnis Batik di Bumi Pamelingan

Kamis, 08 Feb 2018 04:35 | editor : Abdul Basri

SEPI: Pedagang batik menunggu pembeli di Pasar 17 Agustus, Jalan Pintu Gerbang, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, Rabu (7/2).

SEPI: Pedagang batik menunggu pembeli di Pasar 17 Agustus, Jalan Pintu Gerbang, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, Rabu (7/2). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Ribuan daun kering berserakan di Pasar 17 Agustus. Sejumlah warga lalu lalang silih berganti. Kendaraan bermotor menderu di Jalan Pintu Gerbang, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota itu.

Sejumlah pedagang terlihat santai. Bahkan, ada yang tertidur di teras toko yang berisi batik khas Kota Gerbang Salam itu. Nyaris tidak satu pun pemilik toko melayani pembeli siang Rabu (7/2).

Pasar batik terbesar di Madura itu sepi pembeli. Tidak terlihat mobil mewah milik pencinta batik di halaman pasar. Hanya sejumlah kuda besi terparkir tepat di depan masing-masing toko.

Abd. Syukur, penjaga toko batik di Pasar 17 Agustus mengatakan, jumlah pembeli sangat sedikit. Rombongan wisatawan yang mampir tidak banyak. Dalam sehari, batik yang laku hanya 4–5 helai.

Harganya juga tidak seberapa. Pendapatan pedagang turun drastis dibanding bulan-bulan sebelumnya. ”Sangat sepi. Jarang ada rombongan yang memborong batik dalam jumlah banyak,” katanya.

Pria 45 tahun itu menyampaikan, selain mengandalkan jualan di pasar, pengusaha juga menerima pesanan. Biasanya, promosi melalui media sosial dan bekerja sama dengan travel untuk menggaet konsumen.

Selebihnya, tidak ada promosi lain yang digunakan. Pedagang lebih mengadu nasib dengan berjualan di pasar. ”Kalau ada yang beli ya dilayani. Kalau tidak ada yang beli, diam saja,” katanya.

Dia berharap pemerintah mendorong pengembangan batik Pamekasan. Promosi kepada publik lebih digenjot. Kerja sama dengan pengusaha travel wisata juga harus dibangun. Tujuannya, jika ada rombongan wisatawan, bisa mampir ke pasar sentra batik tersebut.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, kualitas batik Bumi Pamelingan sangat bagus. Tidak kalah dengan produksi luar daerah. Jika dipamerkan di dareah luar seperti Jakarta selalu laris terjual.

Sayangnya, kata dia, industri kreatif ini belum berkembang pesat di Pamekasan. Pedagang masih kesulitan memasarkan hasil produknya. ”Promosi sangat lembah. Itu tugas pemerintah,” katanya.

Harun menyampaikan, setiap tahun ada anggaran promosi. Dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) yang menggawangi kegiatan tersebut. Namun, hasilnya belum terlihat jelas.

Pedagang masih kesulitan menggaet pembeli. Informasi mengenai batik masih minim. Akibatnya, tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke Pasar 17 Agustus untuk memborong batik lukis karya tangan-tangan kreatif itu.

Harun mengatakan, dari sisi promosi, pemerintah miskin inovasi. Kegiatan yang dilakukan sangat stagnan. Batik Pamekasan hanya dikenalkan melalui pameran bersama yang hanya bersifat sementara.

Selain itu, nyaris tidak ada promosi. Akibatnya, tidak banyak batik yang terjual di pasar yang disediakan pemerintah. ”Harus lebih berinovasi agar promosi batik lebih baik,” katanya.

Minimnya pembeli juga berpengaruh terhadap harga jual. Pedagang cenderung melepas batik dengan harga murah. Daripada tidak terjual, lebih baik laku meski hasilnya sedikit.

Kondisi tersebut berpengaruh besar terhadap perekonomian pelaku usaha batik. Seharusnya, ekonomi kreatif itu bisa meningkatkan kesejahteraan warga. ”Pemerintah harus menggenjot promosi. Kalau promosinya lemah, pedagang bisa gulung tikar,” katanya.

Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto mengatakan, promosi batik sudah dilakukan. Salah satunya dengan mengikuti pameran batik terbesar di Indonesia. Upaya lain yang dilakukan dengan mewajibkan lembaga pendidikan dan instansi menggunakan batik Pamekasan.

Harapannya, agar lebih banyak batik yang laku terjual. Saat ini diakui memang tidak banyak pembeli. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Pamekasan. Di daerah lain juga mengalami hal serupa. ”Promosi tetap kami lakukan. Tahun ini akan digelar pertengahan tahun. Berbentuk pameran,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia