Sabtu, 24 Feb 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Membangun Nalar Kebenaran Ilmiah

Minggu, 04 Feb 2018 20:37 | editor : Abdul Basri

Membangun Nalar Kebenaran Ilmiah

JAGAD keilmuan, khususnya disiplin ilmu jiwa, pasti sangat kenal dengan sosok Sigmund Freud. Bertahun-tahun pemikiran ilmuwan terkemuka ini melanglang buana dalam jagad pemikiran para pencintanya. Dari ujung dunia hingga pedalaman, pembaca dan penikmat pemikiran Freud bisa terlena dengan hentakan pemikiran Freud.

Teori Freud bisa menjadi belati sangat tajam dalam membenah pesoalan kejiwaan. Ada sekian pemikiran Freud yang dipergunakan banyak kalangan untuk meniti dan menjangkau hal-hal kejiwaan seseorang. Dalam buku ini, Todd Dufresne menghadirkan teori psikoanalisis yang menjadi bagian inti dari pemikiran Sigmund Freud.

Psikoanalisis Freud memang hanya sepintas dari sekian pemikiran yang ditelorkan Freud. Sebab, segudang teori tentang psikologi dimunculkan Freud sejak babak kehidupan Freud. Pada masanya dan masa sekarang pemikiran Freud itu terus hidup menyesaki otak-otak pemerhatinya.

Karya Killing Freud ini secara substansi menggambarkan kedahsyatan teori Freud dalam memengaruhi jamaahnya. Pengikut Freudian menjadikan teori Freud sebagai media dalam membedah kajian-kajian kejiwaan. Baik dalam bingkai sosial maupun kehidupan akademik. Todd Dufresne dalam karya ini hendak menjunjung kedahsyatan pemikiran Sigmund Freud.

Menggali satu teori yang lahir dari sosok Freud menjadi sesuatu yang sangat menarik (hlm. 23). Todd mencoba melacak basis-basis Freudian dan mengajaknya melakukan kajian ulang atas pemikiran Freud. Sebab, selama bertahun-tahun, sejak 50 tahun pasca kematian Freud, teori psikoanalisis menapaki puncak kebenarannya. Ada sekian tokoh dan penganut ajaran Freud yang terlena dan menjadikan pemikiran Freud sebagai segalanya.

Bangunan taklid atas pemikiran Freud, dalam asumsi Todd menjadi tanda buruk bagi bingkai kehidupan ilmiah. Sehingga, penting menghadirkan jalan lain mencoba membangun kebenaran teori-teori yang baru. Termasuk, mendiskusikan ulang teori psikoanalisis yang melihat seseorang berdasar kondisi kejiwaan. Kenyataannya, tidak semua kondisi kejiwaan bisa dibaca orang lain dengan gamblang. Apalagi, wilayah jiwa menjadi sesuatu yang sangat rahasia (privat).

Keraguan atas teori  psikoanalisis Freud ini terus bergerak karena tidak selamanya akan bisa membedah hal-hal di balik kematian seseorang. Dalam karya setebal 297 halaman ini Tood menghadirkan kasus kematian sosok Anna O. Kasus kematian seorang perempuan itu dipandang sebagai salah satu kematian yang menggemparkan. Sebab, sejumlah ahli psikologi menduga kematian Anna terkait tekanan kejiwaaan (hlm. 19). Padahal, ada sekian dasar kematian yang bisa dijadikan alasan. Bisa karena penyakit dan kecelakaan (hlm. 109).

Atas pertimbangan-pertimbangan ilmiah inilah, maka Todd Dufresne hendak membuktikan, mengapa Freud bisa saja keliru. Keraguan atas pemikiran Freud akan terus menjalar ke mana-mana. Meragukan kebenaran atas satu dan berbagai teori ilmiah itu akan terus terjadi. Pada prinsipnya, kebenaran ilmiah itu akan mati pada saatnya.  

Meski menghadirkan satu telaah yang kontras, Todd di dalam karya ini perlu dibaca secara hati-hati. Pertimbangan-pertimbangan rasional terhadap setiap kritik yang dilontarkan terhadap bangunan pemikiran Freud tidak muntah begitu saja. Namun, dilalui dengan proses yang sangat ilmiah. Seperti penggambaran sejarah pemikiran sejumlah tokoh dan perbandingan teori dengan realitas-realitas pada masa Freud dan masa berikutnya (hlm. 246).

Gaya penulisan karya ini menjadikan buku ini semakin sulit ditemukan kekurangannya. Yang terpenting, Killing Freud menandai bertakhtanya tradisi dialogis antarilmuwan. Karya ini hadir memberikan inspirasi tentang makna sebuah kebebasan berpikir.

Todd Dufresne melalui karya ini mengajak dan mengajari pembaca untuk kritis dalam membaca realitas. Tradisi diskusi yang melingkup aba-abad awal bisa terjalin hingga abad 21 ini. Keraguan terhadap konsep teoretis ilmuwan terdahulu merupakan jembatan menyambung ikatan rasa. Rasa emosional sesama pencinta ilmu pengetahuan. 

ZAITUR RAHEM

Penulis buku Jejak Intelektual Pendidikan Islam.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia