Kamis, 26 Apr 2018
radarmadura
icon featured
Sampang

Aliran Sungai Kamoning kembali Meluap

Banjiri Empat Desa dam Dua Kelurahan

Jumat, 12 Jan 2018 19:06 | editor : Abdul Basri

KEMBALI TERGENANG: Anak-anak bermain di genangan banjir di Jalan KH Hasyim Asy’ari, Sampang.

KEMBALI TERGENANG: Anak-anak bermain di genangan banjir di Jalan KH Hasyim Asy’ari, Sampang. (DARUL HAKIM/JPRM/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Awal 2018, sudah dua kali luapan Sungai Kamoning menggenangi wilayah Kota Sampang. Kamis (11/1), luapan air itu kembali membanjiri empat desa dan dua kelurahan. Yakni, di Desa Pasean, Panggung, Banyumas, dan Gunung Maddah, serta Kelurahan Dalpenang dan Rongtengah.

Data yang dirangkum Jawa Pos Radar Madura, luapan Sungai Kamoning masuk ke perkotaan pada pukul 08.50. Luapan air sangat deras. Pada pukul 12.35, ketinggian banjir di Jalan Suhadak sebetis orang dewasa. Pukul 14.30 banjir sudah memasuki Jalan KH Hasyim Asy’ari dan di Monumen Sampang.

Pantauan terakhir koran ini, pukul 16.55 banjir sudah memasuki Jalan Bahagia. Alirannya juga cukup deras. Ditambah wilayah Kota Sampang diguyur hujan. Banjir di ruas jalan raya Desa Pasean mencapai 40 sentimeter, Desa Panggung 50 sentimeter, dan Desa Banyumas 50 sentimeter. Semnentara di Desa Gunung Maddah dan Dusun Glisgis masing-masing 40 sentimeter.

Banjir paling tinggi di Jalan Imam Bonjol, Jalan Suhadak, Jalan Panglima, Jalan Melati, dan Jalan Mawar. Masing-masing setinggi 60 sentimeter. Sementara di Jalan Seruni, Jalan Kenanga, Jalan Cempaka, Jalan Kamboja, dan Jalan Bahagia masing-masing mencapai 50 sentimer. Di Jalan Merapi dan Jalan Trunojoyo ketinggian air hanya 10 sentimeter.

Kepala BPBD Sampang Anang Djoenaidi yang diwakili Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Moh. Imam mengatakan, tim terus memantau dan memberikan informasi kepada warga terdampak. ”Diperkirakan, kondisi banjir masih akan meluas ke selatan,” katanya.

Keluhan datang dari Arfan Afroni, warga Jalan Melati, Sampang. Dia mengaku kecewa terhadap pemerintah daerah. Sebab, banjir tahunan tak kunjung terselesaikan. Padahal, pada 2017 sudah dibangun instalasi pompa banjir dan normalisasi sungai. ”Tapi, tidak bermanfaat. Yang jelas, kami kecewa kepada pemerintah,” akunya dengan nada kesal.

Pria berumur 28 tahun itu berharap bisa menyelesaikan persoalan banjir. ”Pemerintah hanya menyosialisasikan ketika banjir. Itu pun tidak merata. Kasihan warga terdampak,” tuturnya. 

(mr/rul/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia