Rabu, 17 Jan 2018
radarmadura
icon featured
Features

Ibu-Ibu Tergiur Harga Murah, Juragan Tinggalkan Rumah

Sabtu, 06 Jan 2018 07:25 | editor : Abdul Basri

RESAH: Sejumlah korban penipuan pembelian sembako di Desa Pandian berdiskusi dengan Kapolsek Kota Sumenep AKP Widiarti di salah satu rumah warga Jumat (5/1) siang.

RESAH: Sejumlah korban penipuan pembelian sembako di Desa Pandian berdiskusi dengan Kapolsek Kota Sumenep AKP Widiarti di salah satu rumah warga Jumat (5/1) siang. (FATHOR RAHMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Siapa yang tak tergiur membeli harang dengan harga lebih murah dari pasaran? Namun, hati-hati lebih baik sebelum menyesal di kemudian hari.

Sejumlah perempuan berkumpul di rumah warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, Jumat (5/1). Raut wajah mereka menampakkan keresahan. Ada yang sudah sepuh. Ada pula yang masih segar bugar.

Di tempat itu juga ada perempuan berpakaian polisi. Dia adalah Kapolsek Kota Sumenep AKP Widiarti bersama seorang anggotanya. Perempuan berkerudung ini mendengar setiap keluhan kaum hawa di depannya. Dari berbagai keluhan, semua bermuara pada dugaan penipuan.

Satu per satu di antara mereka menceritakan kronologis penipuan yang dialami. Lengkap dengan jumlah uang yang telah dikeluarkan. Mereka mengaku menjadi korban investasi sembako warga setempat berinisial NE, 43. Karena itu, mereka mengadu ke polisi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), dugaan penipuan tersebut terungkap sejak akhir 2017. Sejak saat itu NE sudah tidak ada di rumahnya. Namun saat itu warga masih berharap pelaku kembali ke rumah.

Hingga kemarin korban terus menghilang. Diduga pelaku membawa uang hasil setoran dari puluhan warga. Modusnya, pelaku meminta korban menyetorkan investasi. Uang investasi akan dibelanjakan sembako dengan harga murah.

Dengan harga miring itu warga tergiur. Mereka pun berbondong-bondong membeli sembako berupa beras, minyak kelapa, dan sejumlah jenis kebutuhan lain kepada NE. Seperti beras merek Ikan Paus seberat 25 kilogram dijual dengan harga Rp 75 ribu. Sementara harga eceran di toko mencapai Rp 95 ribu.

”Saya kena Rp 57 juta tanpa menerima barang sama sekali. Pernah saya mendapatkan beras, tapi sama pelaku diambil kembali,” kata Nur Hayati yang merupakan istri rukun tetangga (RT) Desa Pandian Tengah.

Berbeda dengan Dwi Septiningrum. Perempuan 43 tahun ini mengaku percaya setelah berkali-kali beras yang diorder datang. Setiap pembelian beras dia jual ke masyarakat. Setelah barang habis kembali order.

Pembelian dilakukan sejak November 2017. Namun sejak Desember barang mulai tersendat. Biasanya pesanan barang datang dalam seminggu. Sejak akhir Desember barang sudah tidak datang. Bahkan pelaku menghilang tanpa jejak. ”Uang saya yang hilang berjumlah Rp 26 juta,” ungkapnya.

Dia mengatakan, puluhan warga terkena penipuan tersebut. Jika ditotal, sementara jumlah uang berkisar Rp 500 juta. Itu hanya untuk kerugian warga Kampung Pandian Timur. Dia menduga masih banyak korban di desa lain.

”Bahkan satu orang ditipu lebih dari seratus juta. Pelaku menghilang tanpa pamit pada keluarga,” katanya. Dalam pertemuan sekitar pukul 10.00–11.30 itu terungkap bahwa korban tidak hanya warga biasa. Ada juga istri pejabat dan polisi.

Korban semakin resah setelah pelaku menghilang dari rumahnya sejak Jumat pekan lalu. NE hanya meninggalkan seorang suami di rumah. Menurut keterangan warga, suami NE mengaku tidak tahu keberadaan istrinya sendiri.

Selama sepekan terakhir warga berusaha mencari pelaku. Muncul dugaan NE melarikan diri ke luar kota dengan naik bus. Sebab sepeda motor miliknya diketahui berada di lahan parkir Terminal Arya Wiraraja, Sumenep. 

Kapolsek Kota Sumenep AKP Widiarti belum bisa berbuat banyak karena belum ada laporan resmi. Namun pihaknya sudah mendapatkan keterangan awal dari para korban. ”Sementara korban masih menginginkan uang bisa kembali. Kami akan berusaha melakukan mediasi dengan pihak keluarga (NE, Red). Siapa tahu ada keluarga yang hendak bertanggung jawab,” katanya.

Selain itu, pihaknya akan berusaha mencari keberadaan NE. Selanjutnya, akan diupayakan pelaku mengembalikan uang. Jika pelaku tidak kembali, pihaknya meminta korban untuk melapor. ”Sebab ada unsur penggelapan uang dan penipuan,” tandasnya.

(mr/fat/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia