Rabu, 13 Dec 2017
radarmadura
icon featured
Features

Dulla-Hosaimah, Pasutri Miskin yang Puluhan Tahun Hidup di Rumah Gedek

Setiap Musim Hujan, Kamar Pasti Tergenang

Kamis, 07 Dec 2017 17:49 | editor : Abdul Basri

TETAP BAHAGIA: Hosaimah melayani pelanggan rujak di rumah gedek yang ditempati sejak puluhan tahun, tepatnya di Desa Buddih, Kecamatan Pademawu.

TETAP BAHAGIA: Hosaimah melayani pelanggan rujak di rumah gedek yang ditempati sejak puluhan tahun, tepatnya di Desa Buddih, Kecamatan Pademawu. (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN Matahari pagi kian meninggi. Intensitas panasnya berkurang lantaran langit diselimuti awan. Jalan Kecamatan Pademawu sesak dengan kendaraan. Knalpot brong mengaung-mengaung dari kejauhan Rabu (6/12).

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menyusuri jalan tanpa markah itu. Kemudian menuju pedesaan menapaki bantaran sungai yang rapi lantaran baru direnovasi.

Tepat di Dusun Selatan, Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, koran ini menuju gubuk sederhana. Berukuran sekitar 6 x 4 meter persegi. Rumah gedek berdiri tepat di bantaran sungai pedesaan itu.

Saat tiba, penghuninya tidak ada. Hanya satu orang perempuan yang rupanya juga mencari penghuni istana di bawah standar sederhana itu. ”Orangnya masih keluar, katanya mau cari hutang,” kata perempuan tua itu.

Sekitar 15 menit kemudian, perempuan tanpa kerudung datang. Dia terkekeh. Entah apa yang membuat perempuan berambut ikal itu kegirangan.

Wajahnya merona. Raut bahagia terpancar. Usut punya usut, ternyata dia mendapatkan pinjaman Rp 10 ribu dari tetangganya. Uang itu akan dijadikan modal usaha rujak yang dijalani sejak puluha tahun silam.

Perempuan humoris itu adalah Hosaimah, pemilik rumah. Sebelum berbincang dengan koran ini, perempuan 40 tahun itu melayani pelanggan terlebih dahulu. Dia menyajikan menu andalan, rujak lontong.

Simah –sapaan akrab Hosaimah– kemudian menemui JPRM. Tanpa malu, tanpa ragu, dan tanpa canggung Simah menceritakan kehidupannya. Dia mengaku, rumah gedek yang ditempati sekarang bukan dia yang membangun.

Rumah itu warisan orang tuanya. Sampai sekarang, kondisinya tetap sama masih terbuat dari gedek. ”Saya juga ingin memiliki rumah gedung, tapi tidak punya uang,” katanya polos.

Simah mengatakan, suaminya, yakni Dulla, 60, hanya buruh tani. Penghasilannya tidak menentu. Satu-satunya pendapatan yang dinilai rutin adalah hasil berjualan rujak. Itupun tidak seberapa. Tergantung seberapa banyak rujak yang laku.

Rata-rata, setiap hari penghasilan bersih dari berjualan rujak Rp 10 ribu. Uang itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara, uang hasil suami bekerja, ditabung untuk kebutuhan mendadak.

Simah mengaku tidak pernah mendapat bantuan. Kecuali beras untuk keluarga miskin (raskin). Beberapa tahun lalu, Simah sempat didatangi seseorang yang mengaku petugas pemerintah.

Orang tersebut lalu memotret hampir setiap sudut rumah. Bahkan, seluk-beluk ruangan rumah yang dipetak menjadi dua kamar itu juga didokumentasikan. ”Katanya mau dapat bantuan,” kata Simah.

Semenjak didatangi petugas, Simah dan keluarganya senang. Bahkan telanjur senang. Sebab, rumah gedeknya akan dibangun. Tidak akan lagi air masuk jika hujan lebat. Tidak akan lagi kasurnya kuyup lantaran atap bocor.

Tidak akan lagi anaknya, Sindi Renata, Anggraeni yang  masih berusia 4,2 tahun sakit karena kedinginan. Kedatangan petugas itu bak pelita yang menerangi lorong gelap yang ditapaki selama bertahun-tahun. Turun temurun.

Namun, mimpi itu tak kunjung menjadi nyata. Setiap malam berdoa agar mimpi itu segera menjadi nyata. Semakin bantuan itu dipikirkan, semakin dalam pengharapan Simah dan keluarganya.

Hari-hari yang dijalani terasa amat lambat. Mimpi yang diharapkan tak kunjung tiba. Bahkan, sampai JPRM berkunjung, mimpi itu tinggal mimpi. Harapan semakin pudar. Sebab, petugas yang sempat memotret sudut rumah itu tak pernah kembali.

”Semoga pemerintah memerhatikan nasib orang miksin seperti kami. Kami juga ingin punya rumah. Meski sederhana asal bukan dari gedek. Semoga keinginan kami menjadi nyata,” ucapnya.

(mr/pen/hud/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia