Minggu, 22 Apr 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Setelah Tragedi Jabal Nur, 10 Rumah Tak Berpenghuni

Rabu, 25 Oct 2017 11:35 | editor : Abdul Basri

TAK BERPENGHUNI: Kepala Desa Brakas Syamsul Arifin menunjukkan rumah korban tenggelam KM Jabal Nur.

TAK BERPENGHUNI: Kepala Desa Brakas Syamsul Arifin menunjukkan rumah korban tenggelam KM Jabal Nur. (FATHOR RAHMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Pulau/Dusun Talango Tengah menyimpan kenangan pahit. Tiga tahun lalu puluhan warga di pulau itu tewas ketika KM Jabal Nur tenggelam. Kapal tersebut mengangkut rombongan pengantin ke Desa Pemuteran, Kecamatan Singaraja, Kabupaten Buleleng. Sebagian jasad korban belum ditemukan hingga saat ini.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkesempatan mengunjungi pulau yang secara administrasi masuk dalam Desa Brakas, Kecamatan/Pulau Raas, tersebut. Meski sudah lama, tragedi itu belum hilang dari ingatan para korban selamat dan keluarga yang ditinggalkan.

            Salah seorang korban selamat ialah Puhawe, 57. Dia mengaku belum bisa melupakan tragedi tersebut. Terlebih, empat familinya juga menjadi korban tewas. Yakni, anak, menantu, dan dua cucunya. ”Suara teriakan dan tangisan seolah terus terdengar di telinga saya,” katanya meneteskan air mata.

            Puhawe melanjutkan ceritanya. Sebelumnya, kapal yang ditumpanginya diterjang ombak. Seketika seluruh penumpang menangis. Saat itu dia memegang erat cucunya, Elok, 7, dan Ragil yang masih berusia 2,5 tahun. Keduanya tidak selamat. Dia berpisah dengan keluarganya saat lambung kapal pecah.

            Menurut dia, sebagian penumpang langsung hilang saat ombak besar menerjang. Namun, pada hari pertama masih banyak warga yang selamat. Mereka bertahan menggunakan papan kayu pecahan perahu dan jeriken. Tapi, saat malam mereka tidak tahan dan satu per satu tenggelam.

            Puhawe menjelaskan, beberapa jam setelah kejadian terdapat helikopter melintas dan berputar-putar di atas para korban selamat. Namun, pilot dan regu penyelamat tidak melihat warga yang melambai-lambai di tengah laut. Selain melambai, para korban berteriak meminta tolong.

            Bahkan, sebagian di antara penumpang membuka baju yang digunakan untuk melambai agar lebih mudah dilihat. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil. Pencarian baru berhasil pada hari kedua. Korban selamat satu per satu ditemukan. Puhawe mengaku pasrah dan ikhlas dengan kejadian itu.

            Pantauan JPRM, sedikitnya ada sepuluh rumah kosong di pulau tersebut. Sebagian di antaranya milik para korban tewas. Rumah itu tidak ditempati karena seluruh anggota keluarganya meninggal. Maklum, seluruh penumpang di kapal tersebut masih memiliki ikatan kekeluargaan.

Ada rumah yang tidak ditempati lantaran hanya tersisa anak-anaknya. Karena masih di bawah umur mereka disekolahkan ke luar pulau sehingga rumah itu tidak ditempati. ”Sampai sekarang tidak ada penguninya. Rata-rata mereka satu keluarga meninggal,” ucap Kades Brakas Syamsul Arifin.

            Dari jumlah penumpang sekitar 60 orang, terang dia, yang selamat hanya delapan orang. Sebagian jasad mereka belum ditemukan hingga sekarang. ”Saudara saya sebagian besar menjadi korban. Saya sudah terdaftar ikut, tapi mendadak membatalkan karena ada keperluan,” imbuhnya

(mr/fat/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia