Sabtu, 16 Dec 2017
radarmadura
icon featured
Esai

Membongkar Realitas Santri

Oleh Achmad Faesol*

Minggu, 22 Oct 2017 21:48 | editor : Abdul Basri

Membongkar Realitas Santri

SEJAK dua tahun lalu, 22 Oktober diabadikan sebagai Hari Santri. Pemilihan tanggal ini karena 22 Oktober 1945 KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa nasional yang dikenal dengan Resolusi Jihad. Seruan inilah yang pada akhirnya membakar semangat juang kaum santri untuk memberikan perlawanan luar biasa pada Belanda di Surabaya.

Terlepas dari dorongan realitas sejarah masa lalu, santri memang memiliki poin keunggulan tersendiri dibanding siswa. Satu di antaranya adalah keabadian kata. Istilah ”santri” telah teruji dalam putaran waktu. Kata ”santri” tidak pernah mengalami perubahan sama sekali. Mulai dulu, untuk menunjuk seseorang yang belajar di pondok pesantren, kata yang disepakati adalah ”santri”.

Berbeda halnya dengan siswa. Seseorang yang belajar di sekolah, mengalami berbagai perubahan istilah. Mulai dari ”murid”, kemudian ”siswa”, dan sekarang berubah lagi menjadi ”peserta didik”. Bila sebuah kata dimaknai sebagai suatu kesepakatan sosial atas satu hal, perkembangan masyarakat seperti apa pun tetap mufakat dengan kata ”santri”. Sederhananya, istilah ”santri” mampu beradaptasi dengan lidah dan selera jaman.

Uniknya lagi, bagi mereka yang sudah selesai belajar di pondok pesantren, masih tetap pantas menyandang status ”santri” meskipun sudah hidup bermasyarakat. Ini artinya, label ”santri” bisa diterima di segala ruang kehidupan dan di sepanjang putaran waktu.

Komoditas Politik dan Objek Penelitian

Komunitas santri telah lama menjadi sorotan (lebih tepatnya dimanfaatkan sebagai objek) sejumlah pihak. Mulai dari kalangan politisi hingga akademisi. Hal ini karena nilai jual santri masih terus stabil di ranah kekuasaan dan keilmuan.

Dikatakan stabil karena bagi siapa pun yang hendak mendaki puncak kekuasaan sebagai kepala daerah (apalagi di Madura), mau tidak mau harus menjadikan santri sebagai anak tangganya. Bila komunitas santri diabaikan, kecil peluangnya untuk bisa menduduki kursi jabatan.

Sebab, ketika berbicara santri, secara otomatis tersambung dengan kiai. Sementara relasi kiai-santri hingga kini masih terus terjaga. Keabadian relasi antara kiai dan santri mengeram dalam ruang kesadaran sosial. Membentuk pola pikir dan menjelma sebagai pedoman hidup dalam bermasyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kendatipun citra kiai yang terjun dalam dunia politik praktis kian nampak buram seiring makin banyaknya yang terjerat kasus korupsi, namun harus tetap diakui bahwa karisma seorang kiai masih tetap memesona di mata santrinya. Konstruksi sosial atas diri kiai tidak memudar oleh ulah perilaku segelintir politisi picisan. Pada ruang sosial macam inilah relasi kiai-santri dimanfaatkan sebagai komoditas politik. Komunitas santri adalah lumbung suara yang harus terus dijaga kesuburannya.

Adapun pada ranah keilmuan, komunitas santri sudah lama menjadi objek penelitian sejumlah akademisi yang memiliki minat terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Satu di antaranya yang paling tersohor adalah penelitian Clifford Geertz di Pare, Kediri, Jawa Timur pada 1953–1954. Kendati banyak sikap kontroversial atas tiga tingkat varian keberagamaan (abangan, santri, dan priyayi) yang dikemukakan oleh Clifford Geertz dalam The Religion of Java, jujur harus diakui bahwa penelitian tentang wajah Islam di Indonesia selalu menarik minat peneliti-peneliti lain di bidang yang serupa.

Sebut saja missal Martin van Bruinessen, Zamakhsyari Dhofier, Deliar Noer, Abdurahman Mas’ud, Mark R. Woodward, dan Hiroko Horikoshi. Nama-nama ini adalah segelintir peneliti yang dilambungkan namanya dalam dunia akademis karena telah berhasil meneliti kiai, santri atau pondok pesantren dari berbagai aspeknya. Kajian ilmiah atas ketiganya tidak ada pasang surutnya. Karena wacana akademis terkait Islam di Indonesia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan kiai, santri, dan pondok pesantren.

Maka, berkaca pada dua hal di atas, perayaan Hari Santri Nasional sudah selayaknya untuk merumuskan ulang posisi dan peran strategis santri di ranah kehidupan bernegara. Hari Santri jangan sekadar selebrasi artifisial semata. Jangan sampai santri hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politis dan keperluan akademis an sich. Karena santri ada bukan untuk mereka, tapi untuk kita semua. 

*)Santri PP Al-Amien Prenduan. Sekarang Aktif di IDIA Prenduan Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia