Selasa, 21 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Resensi

Landasan Hidup Orang Madura

Minggu, 15 Oct 2017 17:31 | editor : Abdul Basri

Landasan Hidup Orang Madura

SEJAK dahulu, masyarakat Madura dipandang sebagai suku berkarakter keras. Hal itu lahir karena peristiwa carok –pembunuhan yang dilakukan dengan adu kekuatan antara dua orang menggunakan senjata tajam. Stereotip semacam itu sudah mendarah daging di Nusantara. Carok seakan menjadi sebuah budaya masyarakat Madura.

Padahal tidak demikian. Hanya, sebagian saja yang melakukan carok. Pada umumnya, masyarakat Madura mencintai kedamaian. Sama seperti masyarakat lainnya. Masyarakat Madura juga memilih tatanan moral dalam bergaul dengan masyarakat secara luas. Hal ini yang perlu dipegang erat oleh seluruh unsur dan elemen masyarakat Madura.

Dengan membaca buku ini, kita –khususnya masyarakat Madura dan umumnya masyarakat secara luas– akan menemukan cahaya kearifan hidup melalui moral. Moral merupakan landasan hidup bersosial yang harus dipegang teguh oleh masyarakat. Tak terkecuali masyarakat Madura. Dari buku ini, masyarakat Madura bisa berkaca, bahwa moral sangat penting ketika bergaul dengan masyarakat pada umumnya.

Di sini pentingnya hati nurani yang mampu menjadikan seseorang melahirkan moralitas yang unggul. Karena hati nurani merupakan ”suara Tuhan”, aneka pertimbangan yang diberikan mengantar manusia kepada Allah. Hati nurani tidak sekadar berurusan dengan salah atau benar secara etis, melainkan langsung menunjuk kepada relasi manusia dengan Allah dalam cara-cara yang tidak bisa direduksi sekadar dalam agama-agama formal (hlm 20).

Begitu kiranya yang perlu menjadi landasan hidup masyarakat Madura dan masyarakat secara umum. Etika atau moral sudah menjadi sebuah tatanan baku dalam lingkungan masyarakat yang beragama, terlebih masyarakat Madura yang kental dengan tradisi keberagamaannya. Sehingga, menjunjung tinggi nilai-nilai dalam tatanan hidup bersosial menjadi sebuah kewajiban. Tujuannya, demi menemukan kerukunan dan ketenteraman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Dalam suatu kaidah fikih disebutkan bahwa kebiasaan (adat atau budaya) bisa menjadi landasan hukum (al-‘adadu muhakkamah) selama tidak menyimpang dari kebaikan dan perintah Tuhan. Hukum harus tunduk pada moral. Artinya, apa yang diperintahkan harus merupakan kebaikan, dan apa yang dilarang harus merupakan keburukan (hlm 40). Maka kaidah al-‘adadu muhakkamah menjadi jalan tengah ulama fikih untuk menguniversalkan ajaran agama.

Bahkan, hukum agama tak pernah menjadi mungkin dalam masyarakat plural. Apabila dipaksakan, justru akan terjadi aneka kerancuan mengenai tata hidup bersama. Pluralitas manusia tidak memungkinkan penyeragaman hukum dalam reduksi agama tertentu saja (hlm 41).

Kaidah tersebut merupakan suatu bentuk penghargaan suatu hukum agar menjadikan suatu budaya yang tak menyimpang dari tatanan agama sebagai aturan baku keagamaan. Hal ini menjadi contoh bahwa agama lahir dengan moralitas yang tinggi, selama masih dalam garis kebaikan dan tidak merugikan umat manusia. Dengan kata lain, suatu budaya yang diiringi moralitas kemanusiaan yang tinggi akan memiliki nilai-nilai keagamaan. Sehingga, suatu budaya bisa dijadikan standar baku penetapan hukum.

Di dalam buku ini, kita dan khususnya masyarakat Madura akan disuguhi cakrawala berpikir tentang kesadaran hidup bermoral atau beretika di lingkungan sosial. Penulis menggunakan sudut pandang menggugah pembaca untuk menginspirasi urgensitas moral dalam kehidupan. Meski ulasannya menggunakan pisau bedah filsafat, buku ini tidak sulit untuk dipahami, karena objek pembicaraannya mengacu pada tata hidup keseharian masyarakat secara luas. 

JUNAIDI KHAB

Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya. Editor Penerbit Sulur Jogjakarta.

 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia