Kamis, 23 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Features

Jalan-Jalan ke Museum Mandhilaras setelah Tujuh Tahun Diresmikan

Kamis, 12 Oct 2017 14:14 | editor : Abdul Basri

MINIM KOLEKSI: Pengunjung melihat koleksi Museum Mandhilaras Pamekasan, Rabu (11/10).

MINIM KOLEKSI: Pengunjung melihat koleksi Museum Mandhilaras Pamekasan, Rabu (11/10). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Museum Mandhilaras diresmikan pada 2010 lalu. Di dalamnya berisi sejumlah benda bersejarah. Namun, jumlah pengunjung tidak menggembirakan.

Daun kering berjatuhan. Satu per satu hinggap di genting Museum Mandhilaras. Pedagang kaki lima (PKL) membersihkan daun yang berserakan di teras tempat penyimpanan benda bersejarah itu.

Rabu (11/10) sekitar pukul 11.00 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjungi museum yang menghadap timur itu. Suasana tampak lengang. Tidak ada satu pun pengunjung museum di Jalan Slamet Riadi itu. Bahkan, penjaga tertidur di tempat resepsionis.

Berkali-kali ucapan salam koran ini tidak direspons. Padahal, jarak antara pintu dengan singgasana mimpi penjaga itu hanya sekitar tiga langkah kaki orang dewasa. Ucapan salam keempat, penjaga perempuan yang tertidur lemas itu terbangun.

Perempuan berjilbab itu kemudian menyodorkan buku tamu. Hari itu, nama JPRM berada di daftar paling atas. Artinya, tidak ada pengunjung lain sebelum koran ini. ”Silakan isi buku tamu dulu, Mas,” kata penjaga.

Selain perempuan itu, museum itu juga dijaga seorang lelaki. Saat koran ini bertandang, pria tersebut sedang tidur di atas lencak raca’. Tepatnya di samping kereta kencana.

Setelah membubuhkan nama, koran ini mulai melihat isi museum. Setelah meminta koran ini menulis nama, perempuan itu tidak beranjak dari tempat tidur. Tidak mengantarkan pengunjung ke tempat-tempat benda bersejarah. Dia juga tidak menjelaskan sejarah koleksi museum.

Satu lemari lumayan besar berada di tengah-tengah bangunan. Lemari itu menghadap ke barat dan timur. Lebar sekitar empat meter. Tinggi sekitar tiga meter.

Lemari itu berisi koleksi benda bersejarah. Di rak bagian barat lemari itu berisi mainan kereta api. Sedangkan di rak yang menghadap ke timur lebih banyak. Ada uang lama dengan nominal 1 rupiah, 2,5 rupiah, dan sejumlah uang logam lainnya.

Kemudian, ada sejumlah buku naskah kuno, alat-alat dapur masa kerajaan, dan sejumlah keris. Benda lain yang disimpan di museum itu rata-rata buatan baru. Di antaranya, nyiru, lukisan, dan miniatur kesenian daul. Ada juga kereta kencana di bagian selatan.

Homaidi, 25, pengunjung asal Kecamatan Pasean, mengatakan, koleksi Museum Mandhilaras sangat minim. Tidak seperti museum lain di Madura yang menyimpan banyak benda bersejarah. ”Sangat sedikit koleksinya,” katanya.

Banyak foto-foto bukan raja yang dipajang di museum tersebut. Akibatnya, ketertarikan masyarakat kurang. ”Seharusnya barang dapur seperti nyiru dan miniatur musik daul itu tidak perlu disimpan di museum,” ujarnya.

Dia berharap, pengelolaan museum yang diresmikan pada 18 Maret 2010 itu diperbaiki. Benda-benda bersejarah yang dikoleksi harus dirawat dengan baik. Pemerintah harus bekerja keras mengumpulkan benda-benda bersejarah.

Pencarian di lapangan harus dilakukan. Tidak menutup kemungkinan, ada benda bersejarah yang belum tersentuh untuk diabadikan di museum. ”Intinya, harus ada perbaikan,” harapnya.

Mahasiswa semester akhir STAIN itu menyampaikan, jika museum dikelola dengan baik, banyak dampak positif yang dihasilkan. Salah satunya, sebagai bahan edukasi bagi masyarakat mengenal sejarah. Museum juga bisa menghasilkan. Jika pengunjung banyak, bisa dikemas menjadi objek wisata sejarah. ”Pemerintah bisa menarik retribusi untuk menyumbang PAD (pendapatan asli daerah, Red),” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengakui kekurangan di museum itu. Keterbatasan koleksi benda bersejarah juga disadari. Kekurangan itu memicu minimnya pengunjung.

Achmad mengatakan, pengunjung kurang dari sepuluh orang setiap hari. Bahkan, dalam sehari kadang tidak ada pengunjung sama sekali. ”Kami memaklumi, karena memang koleksi benda bersejarah sedikit,” katanya.

Mantan Kadis PU Pengairan itu mengatakan, kondisi bangunan museum juga kurang representatif. Tahun depan diupayakan ada rehab bangunan. Penambahan koleksi juga akan dilakukan tahun yang akan datang.

”Tahun ini kami hanya melakukan perawatan. Insya Allah pembangunan dan penambahan koleksi akan dimulai tahun depan,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia