Minggu, 22 Oct 2017
radarmadura
icon featured
Esai

Sandal Kiai dan Distingsi Barokah

Minggu, 24 Sep 2017 18:00 | editor : Abdul Basri

Sandal Kiai dan Distingsi Barokah

SAAT salat Jumat di Masjid Jamik Annuqayah, beberapa kali—bahkan setiap salat Jumat—ada seorang santri yang berebut membalikkan kateteyan (selanjutnya ditulis sandal kiai). Ya, pada setiap jumatan, ada satu dua orang santri yang nampak selalu menunggu para masyaikh Annuqayah melepaskan sandalnya. Setelah kiai berjejak naik ke masjid, santri tersebut dengan langkah berhati-hati mendekati sandal kiai. Lalu diambil dan dibalikkannya sandal kiai tersebut.

Sebenarnya bukan hanya santri. Masyarakat di desa juga kerap melakukan hal sama. Jika ada kiai yang disegani, masyarakat akan membalikkan sandalnya dalam artian menghormati kiai. Sependek pengetahuan saya, cerita ini erat kaitannya dengan cerita-cerita dalam berbagai kitab klasik tentang proses mendapatkan barokah dari orang-orang yang dekat dengan Allah SWT., seperti kiai atau ulama, asal bukan Pak Kae atau umara’.

Sebagai santri yang sedikit skeptis dengan kisah-kisah demikian, saya mencoba menengarai kenyataan-kenyataan yang terjadi di lapangan, tentang sosok santri yang suka membalikkan sandal, meski cerita-cerita lain yang top-top juga banyak saya dengar, semisal mon ngeco’ jarum e pondhuk, mon mole ka romana ngeco’ jaran. Artinya, jika mencuri jarum di pondok, kelak ketika pulang ke kampung halaman ia akan mencuri kuda.

Mungkin term ”kuda” hanya disesuaikan dengan term ”jarum” agar pengucapannya sesuai dengan ritme. Sebab, tidak semua tempat ada kuda, termasuk di Madura, sangat jarang ditemukan kuda, karena kebanyakan masyarakat mengembala sapi dan kambing. Termasuk orang tua saya yang juga pengembala sapi dan kambing.

Berkaitan dengan teks cerita santri yang membalikkan sandal kiai, dan juga berkaitan dengan cerita santri yang mencuri jarum di pesantren, alangkah tepatnya jika dikiaskan pada bentuk konteks sosial yang tidak seharusnya santri melupakan kisah-kisah yang penuh dengan makna yang tersirat itu. Pertanyaannya, pada zaman digitalisasi yang digoncang dengan kapasitas rasionalitas dalam mengukur segala bentuk kebenaran, mungkinkah santri bertahan, dan percaya pada kisah-kisah etik yang kerap dikait-kaitkan dengan upaya menadah barokah? Atau malah sebaliknya, mereka hanya terjebak dalam kamuflase kisah-kisah tersebut, dan mengabaikan akar dan substansi dari kisah yang sudah klasik?

Tentu jawabannya terletak pada pribadi santri masing-masing, termasuk santri tadi yang saya kisahkan di awal. Karena konteks barokah berkelindan dengan hal-hal yang abstrak dan samar. Barokah bisa berupa apa saja, angsal itu menambah nilai kebaikan yang terus meloncat dari satu kebaikan menjadi kebaikan-kebaikan yang lain.

Meski sedikit ilmu yang diperoleh jika barokah, ilmu itu akan menjadi perantara (wasilah) untuk mencapai kebaikan-kebaikan yang lain (ziyadatul khair). Sesuatu itu akan meningkatkan taraf kualitas santri itu sendiri. Itu sebabnya, jamak ditemukan santri yang ilmunya setinggi langit. Akan tetapi, tak dapat menambah perilaku dan kebaikan untuk dirinya, apalagi untuk orang lain, dalam artian ilmu yang dimilikinya tak dapat bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat yang lebih luas. Pandai berteori kering aplikasi, kaya dengan wacana nihil maknanya.

Lalu apa kaitannya dengan dua cerita tadi yang perlu diambil hikmahnya?

Seakan-akan persoalan intelektual tidak menjadi prioritas dalam mencari ilmu. Angsal barokah itu cukup. Mungkin saja jika santri tahu cara mendapatkan barokah, tentu santri tidak akan mencari ilmu, tapi cari barokah. Pikir mereka, buat apa cari ilmu banyak tapi tidak barokah. Kan jadi repot?

Menurut pengamatan saya, cerita tersebut perlu direkonstruksi dengan contoh-contoh yang sesuai untuk menggambarkan barokah. Sepertinya ada distingsi yang perlu direvitalisasi dalam cerita ini, karena kebanyakan santri berharap dengan kisah tersebut langsung ketiban barokah secara sekaligus tanpa proses belajar, dan proses mengabdi kepada kiai. Seolah nyata. Nyatanya, bentuk usaha selain ”membalik sandal” kiai tak pernah dilakukan. Kendati demikian, saya ingin merekomendasikan bentuk kisah-kisah yang lain agar dapat dipopulerkan di kalangan santri. Anggap saja kisah ini merupakan autokritik dari kisah-kisah lama. Bukan bid’ah. Saya takut neraka.

Misal kisah itu ditambah, dengan perantara-perantara lain yang bisa menghantarkan santri mencapai puncak barokah, bagaimana dengan teori iluminasi Suhrawardi, tentang seseorang yang mencari ilmu tanpa proses belajar—berupa ilmu laduni—pancaran langsung dari cahaya Ilahi ke dalam diri manusia. Mungkinkah ilmu demikian bisa dikatakan barokah? Bisa saja menurut penulis ilmu laduni adalah barokah. Bisa saja santri yang sering membalikkan sandal kiai mendapatkan barokah. Sebaliknya barangkali, bisa saja santri yang sering mencuri jarum di pondok tidak mendapatkan barokah meski termasuk santri yang pintar setinggi langit.

Menurut penulis kitab Isyraqiah, ilmu laduni bisa digapai dengan cara-cara yang sama dengan cara-cara memperolah barokah. Jalan itu berupa tirakat dengan melalui tahapan-tahapan. Bisa dengan cara menyendiri (zuhud). Bisa dengan mengabdi. Bisa dengan usaha-usaha lain seperti puasa, zikir, dan banyak menggunakan kesibukannya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.

Yang paling urgen, ”tunduk” dan ”patuh” adalah kunci untuk mendapatkan barokah. Akan tetapi, di masa dunia Facebook, WhatsApp, dan Instagram sekarang ini, untuk mencapai barokah seorang santri harus menambah dengan ketekunan, giat, dan sungguh-sungguh dalam belajar atau mencari ilmu.

*)Calon sarjana Ushuluddin Instika alumnus MTs Mathla’ul Amien, Grujugan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia