Selasa, 21 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Features

Pesan Damai Tiga Rumah Ibadah Beda Agama di Satu Desa

Jumat, 22 Sep 2017 05:05 | editor : Abdul Basri

SIMBOL KERUKUNAN: Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Klenteng Pao Xian Lian Kong, berdiri berdekatan di Jalan Slamet Riyadi, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep.

SIMBOL KERUKUNAN: Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Klenteng Pao Xian Lian Kong, berdiri berdekatan di Jalan Slamet Riyadi, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep. (MUSTAJI/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Perbedaan keyakinan rentan menjadi masalah sensitif. Lebih-lebih jika ada pihak yang menunggangi untuk kepentingan tertentu. Mari melihat masyarakat Madura yang telah menjunjung pluralisme sejak lama.

Perbedaan keyakinan bagi masyarakat Madura bukan hal baru. Di Sumenep terdapat sebuah desa yang memiliki pesan perdamaian. Yakni, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep. Di desa ini berdiri tiga rumah ibadah dengan kepercayaan berbeda.

Konon, ketiga tempat ibadah tersebut sudah berdiri ratusan tahun. Hebatnya, tidak ada sejarah yang mengatakan ada konflik antara ketiga umat beragama ini. Pada peringatan Hari Perdamaian Dunia, Kamis (21/9) koran ini mengunjungi ketiga tempat ibadah tersebut.

Dari arah pusat kota menuju ke arah timur, tepatnya di Jalan Raya Slamet Riyadi, Desa Pabian, Kecamatan Kota. Koran mendapati masjid, gereja, dan klenteng. Jarak tiga tempat ibadah ini sangat berdekatan.

Pertama adalah Masjid Baitul Arham. Dari pusat kota, masjid ini berada di kanan jalan. Dari jalan raya menyeberangi jembatan yang menghubungkan dengan pintu masuk masjid. Sekitar 20 meter ke timur, sebelah kiri jalan, ada sebuah gereja.

Sebuah bangunan dengan gaya Eropa. Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel namanya. Bangunan tersebut terlihat megah dengan sebuah menara dan didominasi warna putih.

Sekitar 50 meter ke timur lagi, berdirilah sebuah bangunan dengan warna merah terang. Warna yang dipercaya membawa keberuntungan bagi sebagian orang. Bangunan itu adalah Klenteng Pao Xian Lian Kong.

Dari luar pagar tampak seorang pria sedang menyapu halaman. Dua anak yang sedang bermain bersama seorang wanita. Koran segera masuk dari pagar yang terbuka. Beberapa langkah koran ini memasuki halaman, terlihat keindahan bangunan itu. Khas arsitektur Cina.

Segera seorang pria menghampiri. Namanya Sugiono. Pria 37 tahun itu penjaga klenteng ini. Bersama istri dan kedua anaknya, dia memelihara tempat ibadah ini. Menjaga kebersihan agar umat penganut Khonghucu di Sumenep bisa beribadah dengan nyaman.

Menurut Sugiono, di kabupaten ujung timur Madura ini hanya ada 50 orang penganut Khonghucu. ”Tidak pernah ada gesekan antara umat beragama di sini. Meskipun kami minoritas, lalu tempat ibadah kami berdempetan dengan dua tempat ibadah lain, kami saling menghormati,” ungkap pria berambut tipis itu.

Sugiono tidak merasa berbeda dari masyarakat lain. Dia makan, minum, datang ke rumah tetangga seperti biasa. Berbincang dengan umat beragama lain tanpa pernah merasa canggung.

Dia dan keluarganya juga tidak merasa tertekan. Anak-anak tumbuh dengan baik. Mereka punya banyak teman. ”Istri saya tetap bisa arisan dengan ibu-ibu di sekitar sini,” ungkap pria kelahiran Desa/Kecamatan Dungkek itu.

Suara pria itu terdengar meyakinkan. Tetapi seperti ada yang mengganjal. Seakan masih ada hal yang perlu dia sampaikan. Apa yang mengganggu pikiran? Sambil merapikan duduknya, bapak dua anak itu mengungkapkan kegelisahannya mengenai isu konflik keagamaan yang saat ini marak.

”Saya percaya, tidak ada agama yang mengajarkan keburukan. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk saling bertikai. Karena itu, saya harap kedamaian yang ada di Sumenep, di Madura dan Indonesia akan terus terjaga,” ungkapnya dengan nada serius.

Dari tempat itu, koran ini beranjak menuju rumah sejarawan Edhi Setiawan. Pria yang juga fotografer andal itu tinggal di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Pejagalan, Kota Sumenep. Sekitar 15 menit untuk sampai di lokasi.

Edhi memiliki usaha Rumah Makan 17 Agustus. Nama tersebut tergolong unik, mengingat Edhi adalah keturunan Tionghoa. Mungkin ini yang disebut nasionalisme. Kebanggaan terhadap negara tanpa memandang masa lalu atau asal nenek moyang.

Kemarin dia sedang sibuk. Di usianya yang sudah menginjak 72 tahun, Edhi masih aktif dalam kegiatan  kesenian. Dia didaulat sebagai sutradara dalam satu pergelaran akbar yang akan diadakan dalam waktu dekat.

Dalam perbincangan dengan koran ini, Edhi menyatakan, pluralisme dalam masyarakat Madura sudah ada sejak dulu. Hal tersebut didasari dengan budaya bahari. Orang Madura lebih terbuka ketimbang masyarakat agraris. Mereka lebih sering merantau. Lebih sering berinteraksi dengan orang dengan budaya dan agama yang berbeda.

”Perbedaan memang sudah bukan barang baru. Ini ditandai dengan sifat keterbukaan orang Madura menerima pengaruh-pengaruh budaya dari luar. Contoh paling nyata yang saat ini masih bisa kita kaji adalah gaya arsitektur,” ungkap pria bergelar sarjana hukum itu.

Bangunan sejarah di Sumenep pada abad ke-15 sudah banyak terpengaruh budaya luar. Seperti Cina, Eropa, dan Jawa keraton. Salah satunya ada gaya bangunan Sekot Pacenan. ”Kalau itu kita tidak usah bahas dari mana asalnya. Hahaha…” imbuhnya.

Orang Madura tidak memandang manusia dari warna kulit, bahasa atau agama. Mereka memandang manusia dari baik atau buruk sifatnya. ”Kalau Gus Dur dulu pernah bilang, ’Kalau kamu orang baik, orang tidak akan bertanya asalmu dari mana’,” ungkap pria berambut putih itu.

Karena itu, dia menegaskan, orang Madura sudah modern sejak dulu. Salah satu ciri masyarakat modern adalah sifat terbuka. Mereka mau menerima perbedaan untuk menciptakan kerukunan. Salah satu peninggalan sejarah Sumenep adalah Labang Mesem.

Baginya, Labang Mesem menggambarkan masyarakat Sumenep yang ramah. Pintu itu tempat tamu masuk, tempat tuan rumah menyambut tamu. Jadi orang Madura, khususnya Sumenep, adalah orang yang selalu menyambut baik tamu mereka.

Sumenep menjadi salah satu tempat yang nyaman bagi semua umat beragama. Bahkan, etnis dari luar pun hidup rukun dan berkembang dengan nyaman. Mengenai pluralisme pada masa penjajahan, jelas Edhi, dalam sebuah kajian disebutkan bahwa Rafles sempat mengadakan sensus penduduk.

Ternyata hasilnya lebih dari tiga persen penduduk Madura adalah warga berdarah campuran. Artinya, Madura ini menjadi tempat yang nyaman bagi bangsa mana pun,” ungkapnya. ”Kemudian tahun 1740-an ada pembantaian etnis Cina besar-besaran di Batavia. Di Sumenep mungkin masa itu orang Cina dan orang Madura sedang ngopi bareng sambil ketawa-ketawa. Madura ini aman,” pungkasnya.

(mr/c9/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia