Selasa, 12 Dec 2017
radarmadura
icon featured
Features

Pintu Depan Disegel, Siswa SMKN 1 Blega Lewat Belakang

Kamis, 21 Sep 2017 05:25 | editor : Abdul Basri

SUDAH DIPAKAI: Seorang warga berada di depan gedung SMKN 1 Blega Bangkalan, Senin (18/9).

SUDAH DIPAKAI: Seorang warga berada di depan gedung SMKN 1 Blega Bangkalan, Senin (18/9). (BADRI STIAWAN/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Sengketa lahan masih menghantui dunia pendidikan. Gedung mentereng tidak menjamin sekolah bebas masalah. Tapi, kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap yang utama.

Aktivitas Pasar Blega tetap menggeliat. Meski tak sesibuk siang, Senin pagi (18/9) itu sudah banyak pedagang yang mulai buka lapak. Berbagai jenis kendaraan lalu lalang di jalan lintas nasional itu.

Dari depan pasar itu, koran ini lanjut ke Jalan Rajawali. Di sebelah timur darti pasar. Mengikuti jalan ini lurus ke selatan menuju SMKN 1 Blega. Bangunan tersebut sedang disengketakan dengan pemilik tanah. Sekitar satu kilometer perjalanan. Kemudian masuk ke jalan kecil menuju sekolah itu.

Sampailah koran ini ke sekolah kejuruan yang dipimpin Yuni Wiyanti itu. Berlokasi di Desa/Kecamatan Blega. Tulisan di pintu masuk menyambut siapa pun yang datang ke sekolah itu. Di karton putih itu tertulis: Sekolah..? Tidak boleh ditempati karena masih sengketa.

Papan tulisan disangga dengan bambu dan diikatkan pada pintu. Tepat di bangunan di depan paling tengah. Sejenak mengintip ke jendela, bangunan tersebut sudah berisi. Seperti perlengkapan kantor.

Terdapat lima bangunan dengan cat tembok kuning kombinasi cokelat. Di bagian depan terdapat tiga bangunan dan dua di belakang. Juga bangunan kecil untuk buang air. Satu lagi, ada fondasi bangunan dengan kawat cor menjulang. Hanya fondasi. Di bagian belakang agak ke timur.

Para siswa belum datang pagi itu. Tidak ada satu pun petugas di lokasi. ”Sudah ditempati. Sampean dari mana?” tanya pria bertopi merah dan baju biru langit itu bersama rumput untuk pakan sapi menjawab pertanyaan koran ini.

Perbincangan berlanjut meski begitu lama. Lalu, pria tersebut melangkah pergi. Dia mengaku warga Desa Panjalinan, Kecamatan Blega.

Kepala SMKN 1 Blega Yuni Wiyanti menyampaikan, gedung sekolah sudah dipakai kegiatan belajar mengajar (KBM). Diperkirakan berlangsung sejak Februari 2017. Dia juga mengakui kantor sekolah masih tersegel.

”Kami sudah tidak menumpang di SMP lagi. Semua KBM sudah di sekolah baru. Di depan masih ada tulisan itu. Jadi lewat belakang,” terangnya.

Yuni menerangkan, lima bangunan tersebut terdiri dari kantor, bengkel otomotif serta laboratorium teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Selain itu, dua bangunan untuk KBM. Kelas hanya ada tiga ruangan pada masing-masing bangunan.

”Tengah itu kantor. Samping kanan itu bengkel otomotif untuk praktik. Sebelah kiri itu laboratorium TIK. Ruang KBM di belakang,” jelas Yuni.

Ketersediaan ruang kelas memang menjadi kendala. Sebab tidak mampu menampung semua peserta didik. Karena itu, pihak sekolah menerapkan kegiatan KBM pagi dan sore.  Terbagi dalam 18 rombongan belajar (rombel). Sementara kelas yang dimiliki masih enam ruangan. Jadi kurang 12 ruangan lagi agar kegiatan KBM bisa lebih efektif.

”Masuknya pagi-sore. Total sekitar 463 siswa. Empat jurusan. Teknik sepeda motor (TSM), teknik komputer jaringan (TKJ), rekayasa perangkat lunak (RPL), dan akuntansi,” paparnya.

Sejauh ini pelaksanaan pembelajaran masih lancar. Meski masih sengketa, siswa sudah bisa menempati gedung sekolah sendiri tanpa menumpang ke lembaga lain.

Sengketa tanah yang di atasnya berdiri bangunan SMKN 1 Blega belum ada kepastian. Fathorrahman tetap tidak ingin lahan yang ditempati bangunan sekolah tersebut ditempati. Namun kali ini dia, penyedia lahan, tidak begitu memberikan keterangan banyak seperti sebelumnya. ”Ke disdik provinsi saja langsung,” ucap anggota Komisi D DPRD Bangkalan itu.

Kepala Cabang Disdik Jatim Wilayah Bangkalan Mariyono menyampaikan, pihaknya masih terus berupaya penyelesaian masalah tersebut. Permasalahan ini memang menjadi perhatian. ”Yang penting sudah bisa dipakai untuk KBM,” tukasnya.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia